
Utari perlahan melangkah mundur dari tubuh Salendra yang sudah berlumuran darah, kepanikkan tergambar jelas di wajah cantik itu.
Salendra mencoba mengumpulkan kesadarannya, dia tak mau pingsan hari ini. Setelah sekian lama netranya akhirnya bisa melihat orang yang dia cintai. Dia ingin memandangi Utari sampai puas, meski hanya kebencian yang terlukis di wajah manis gadis itu.
Tapi Utari berbalik memunggunginya, dan langkah kaki gadis itu berlari menuju orang lain. Tubuh kekar Salendra pun ambruk dan bersimpuh di tanah. Kenyataan tak dapat dia terima, dia tak ingin di bencian oleh Utari.
Rasa sakit di dadanya telah mengalahkan rasa sakit luka tusukan pedang Utari. Baginya kehilangan Utari lebih sakit dari kehilangan nyawanya, saat ini dia ingin sekali mati. Tapi dia tak bisa mati untuk saat ini.
"Akhhhhhhhhhhhhhh!" Teriak Salendra.
Rasa sakit di jantungnya sama sekali tak ia rasakan, lelaki itu menarik pedang yang menancap di perutnya dengan kedua tangannya sendiri.
Kedua mata tegasnya masih bisa melihat wajah panik Utari dari kejauhan. Wanita itu terlihat sangat panik ketika melihat tubuh Praja yang sudah terkulai lemas, di tanah yang sudah penuh dengan genangan darah para prajurit kedua negara yang telah gugur.
Belati pengasih masih tertancap di jantung Praja.
"Prajaaaaaa!" Utari mencoba mendudukkan tubuh Praja yang terlentang di tanah pertempuran itu.
"Toooo longggg jaga....anak...dannnn...istriku....Utari!"
Itu adalah kata terakhir dari Praja, lelaki itu menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Utari.
"Prajaaaa....tolong buka matamu....Prajaaa....jangan mati....aku mohooon jangan tingalkan akuuuuu!" teriak Utari histeris.
Satu-satunya orang yang paling berarti di hidup Utari telah meningakkannya sekarang. Pembunuh yang sama, pembunuh yang membunuh keluarganya di Wanara. Salendra.
Kenapa kau melakukan ini padaku, Salendra...
Apa salahku padamu...
Kenapa kau begitu kejam terhadapku...
.
.
.
.
"Sudah beres?" tanya Utari, gadis itu berdiri sambil memandangi pohon kehidupan yang sudah di penuhi dengan kuncup-kuncup berwarna ungu yang indah.
"Aku terlalu bersemangat, jadi aku menghancurakan kastilnya!" kata Kanaya yang baru saja sampai di kediaman Utari dengan jurus teleportasinya.
__ADS_1
"Seharusnya kau belajar menyetir, menghilang dengan asap hitam seperti itu hanya membuat polusi di rumahku yang indah ini!" kata Utari.
"Aku kan sudah coba kak, aku tak bisa melakukannya!" kata Kanaya.
Wanita cantik bergaun hitam panjang itu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
"Gadis kecil tadi, kakak bawa kemana. Kakak tak membunuhnya kan?" tanya Utari.
"Entahlah, apa aku menyelamatkannya atau aku sedang menambah penderitaannya!" kata Utari.
"Kenapa?" Kanaya sangat bingung dengan perkataan Utari.
"Aku mengirim dia ke keluarga yang kaya, aku tak tau apa anak itu akan nyaman di sana!" desah Utari.
"Dia akan nyaman, harta adalah segalanya bagi manusia!" jawab Kanaya.
Utari hanya menghela nafas panjang, matanya kembali fokus ke arah kuncup-kuncup di pohon kehidupan.
"Kakak tolong jangan mati dulu!" kata Kanaya.
"Kenapa?" tanya Utari.
"Jangan tingalkan aku, aku mohon!" Kanaya mencoba membujuk Utari.
"Bukankah kakak akan menikah, kakak punya cinta. Orang yang mencintai kakak!" kata Kanaya, wanita ular itu masih saja membujuk Utari.
"Cinta!" kata Utari dengan senyuman mengejek.
Gadis ini selalu berfikir bahwa perasaan seperti cinta sejati itu tak akan pernah menghampirinya. Dia tak akan pernah di beri kesempatan untuk merasakan cinta yang seperti itu.
Dia adalah orang yang telah menghancurkan tanah kelahirannya, membunuh hampir separuh penduduknya dan menjadi wanita tanpa hati saat menjaga pohon kehidupan. Jadi Utari merasa tak pantas untuk mendapatkan hal sepesial semacam cinta sejati.
"Bercinta dengan orang yang mencintaimu bisa membuat bunga-bunga itu mekar!" Suara lelaki tiba-tiba mengema di ruangan itu.
Dua pasang mata Utari dan Kanaya segera melihat ke arah asal suara maskulin itu.
Aska baru saja sampai di kediaman Utari setelah mengajar di SMU Neverland. Pandangan bingung Utari dan Kanaya segera menyerbu ke arah Aska.
"Mungkin!" kata Aska, dia baru sadar dengan apa yang dia katakan barusan.
Utari masih memandang Aska dengan tatapan menelisik yang menusuk, Aska segera memasang senyum indahnya agar Utari tak curiga.
"Saya harus mengurus pakaian kotor anda Nona Utari!" kata Aska, dia pun berjalan melipir ke lantai atas dengan rasa takut yang menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
"Kata manejermu ada benarnya juga kakak!" usul Kanaya.
Utari pun terdiam sejenak dan kembali menatap pohon kehidupan dan meneliti jumlah kuncup-kuncupnya. Setelah itu Utari berlari ke arah tangga dan menghadang langkah Aska yang sudah hampir di ujung anak tangga paling atas.
Wajah mereka kini sejajar, mata mereka saling berpandangan. Detak jantung keduanya kini berlomba adu kecepatan.
Aska menatap Utari dengan ekspresi bingung dan Utari memandang Aska dengan tatapan yakin.
"Kenapa?" tanya Aska, dia masih bingung dengan keadaan aneh yang tiba-tiba di ciptakan oleh Utari.
Tanpa menjawab pertanyaan Aska, kedua tangan Utari meraih wajah Aska dan menciumnya.
Aska masih terdiam dan kedua bola matanya melotot karena serangan tiba-tiba yang di lakukan Utari. Tapi kecupan-kecupan lembut Utari yang juga di dambakannya membuat Aska melupakan. Bahwa bisa saja akan ada banyak mahluk astral yang melihat adegan tak senonoh itu.
Kanaya terdiam melihat kelakuan konyol Utari dan Aska.
"Apa yang mereka lakukan?" gumam Kanaya kesal.
Karena malas melihat adegan mesum dua manusa aneh di ruangan itu, dan juga merasa sudah tak punya urusan lagi di sana, akhirnya Kanaya pergi dengan jurus teleportasinya dari kediaman megah Utari.
Haruto dan Mbok Jumi yang baru keluar dari kamar Utari pun juga hanya bengong melihat adegan romantis di depan mereka.
Utari melepas bibirnya dari bibir Aska secara paksa. Aska yang masih ingin melanjutkan ciumannya dengan Utari pun meraih tengkuk gadis itu tanpa meminta ijin.
Aska mengunci tubuh ramping Utari dengan satu tangan di pingang Utari dan satunya tangannya lagi memegang tengkuk gadis itu.
Kaki Aska berjalan menaiki tangga, dan membuat Utari mau tak mau menaiki tangga dengan langkah mundur. Berat tubuh Utari sepenuhnya di topang oleh satu tangan Aska.
Ciuman mereka masih berlangsung tanpa terhenti, Utari ingin menolak tapi dia tak kuasa melepas kenikmatan yang telah menguasainya saat ini.
Biarkan kami menjadi gila untuk sesaat...
Aska mengiring tubuh Utari yang berada di dekapannya memasuki kamar Utari, tentu saja Haruto dan Mbok Jumi menghindari perjalanan panas kedua manusia yang di mabuk nafsu itu.
"Mbok mereka mau ngapain?" bisik Haruto di kuping Mbok Jumi.
"Membuat bayi!" kata Mbok Jumi.
"Bayi?" Haruto adalah tentara yang masih berusia 20 tahun saat meningal dan dia masih pejaka ting-ting.
"Sebaiknya kita turun!" kata Mbok Jumi, dengan wajah mupeng.
"Bayi,....bagaimana membuatnya?" tanya Haruto, lelaki ini masih membayangkan tata cara membuat bayi di dalam otaknya.
__ADS_1