
Mandelin, Hasan, Imanuel dan Nessi sedang makan bersama di meja makan besar yang panjang. Mereka duduk di salah satu sisi dan menikmati hidangan yang bergantian di sajikan oleh para pelayan di rumah besar bersuasana kelam itu.
Imanuel tampak kesusahan mengunakan pisaunya, dan hampir membuat Mandelin memarahinya. Tapi dengan sigap Nessi menukar piringnya dengan piring Imanuel. Nessi telah memotong-motong daging steak di piringnya untuk Imanuel.
"Trimakasih!" gumam Imanuel lirih.
Nessi hanya menganguk dan tersenyum manis, Nessi tampak sangat menyukai Imanuel dan juga Imanuel tampak bisa mengendalikan diri selama Nessi ada di rumah itu.
Utari dengan gaun putih selututnya yang angun serta Kanaya dengan gaun hitam panjang tanpa lengan sudah berdiri di sana, tanpa meminta izin dari sang empunya rumah dua wanita iblis itu duduk nimbrung untuk makan siang.
"Hidangkan untuk kami juga!" perintah Kanaya yang duduk di sebelah Mandelin.
Seluruh pelayan hanya diam, karena hal itu bukanlah perintah dari tuannya jadi mereka tak ingin membuat kesalahan.
"Hidangkan untuk kami!" kata Utari, mata birunya sudah membius seluruh pelayan di sana.
Utari duduk di samping Nessi yang dari awal duduk di sebelah Imanuel. Gadis kecil itu tampak cukup takut dengan ke datangan dua wanita aneh itu tiba-tiba.
"Untuk apa kalian datang ke sini?" Mandelin sudah tau tujuan duo iblis ini, tapi dia masih berusaha untuk menutupinya.
"Pertama kau menawan manusia, gadis kecil dan pria dewasa ini. Ke dua kau melahirkan putramu, ke tiga kau membesarkan dia tanpa meminta izin dariku!" kata Utari dengan santainya.
Para pelayan sudah menyajikan hidangan daging yang sama untuk Kanaya dan juga Utari. Serta menuangkan angur kualitas tinggi untuk kedua wanita iblis itu.
Mandelin bangkit dari tempat duduknya dan berjalan memutari meja dari belakang tempat duduk Hasan. Wanita berambut tembaga ikal yang indah itu bersujut pada Utari.
Imanuel dan Nessi tampak hanya memandang pemandangan itu dengan wajah polos mereka.
"Saya mohon Dewi Utari, biarkan Imanuel hidup !. Saya berjanji akan membuat dia...!" mohon Mandelin di sujudnya.
"Jika aku membiarkan putramu, maka siluman lain akan mengikuti langkahmu!. Apa kau tak ingat, anak-anak campuran selalu membuat kekacauan di mana pun mereka berada!" jelas Utari.
__ADS_1
Mahluk yang lebih kuat dari manusia, tapi lebih bodoh dan mudah di manipulasi. Keturunan siluman dan manusia hanya akan menjadi perusak tanpa perasaan di kemudian hari.
"Hamba tau benar...!" kata Mandelin.
"Kalau kau sudah tau kenapa kau masih melakukannya!" bentak Utari.
"Melahirkan anak manusia, kau benar-benar tak suka jika aku punya hari yang tenang di sisa hidupku ini?" Utari semakin kesal.
Mandelin berdiri dan melambaikan tangannya pada putranya, Mandelin berusaha membawa putranya kabur saat Utari tengah asik berceramah.
Terlihat Imanuel memandang Nessi yang sangat serius memandang Utari yang ngoceh sambil makan steaknya. Imanuel mengeleng pelan pada ibunya, entah bocah lelaki itu tau akan di bunuh oleh Utari atau tidak. Tapi Imanuel tak mau kabur dengan ibunya dan meningalkan Nessi sendiri di sana.
Tapi bukan Utari jika bisa kecolongan. Sebelum wanita itu berhasil membujuk Imanuel Mandelin sudah terlempar di pojok ruangan dengan belengu es abadi yang berbentuk seperti jeruji besi penjara. Utari mengurungnya agar dia lebih mudah membunuh Imanuel.
"Mama!" teriak Imanuel.
Mata hijau bocah lelaki itu sudah menatap tajam pada Utari, dan dengan sebuah gerakan Imanuel hendak menyerang Utari. Tapi dengan sigap Kanaya sudah lebih dulu menagkis pukulan Imanuel dengan melemparkan tubuh Imanuel mengunakan jurus tenaga dalamnya.
"Meski jauh di bawahmu, tapi aku dulu pembunuh bayaran paling mematikan di eraku!" kata Kanaya, yang berdiri dan berjalan menghampiri tubuh terkapar Imanuel.
"Era kolonial, manusia menyebutnya begitu!. Jika saja kau hidup saat tentara Jepang ke sini, kau akan lebih terkenal!" kata Utari.
"Kau benar kak, usahaku membunuh para penjajah berambut pirang itu sama sekali tak di hargai!, tapi di jaman Jepang berkuasa hanya anak campuran manusia dan siluman yang bisa ilmu kanuragan, tapi bukannya mendukung negara malah membantu para penjajah!" kata Kanaya.
Wanita ular itu telah berdiri di dekat tubuh Imanuel yang tergeletak di lantai dengan wajah penuh kemarahan saat melihat ke arah Kanaya.
"Bereskan dia, aku akan berjalan-jalan dengan gadis kecil ini!" kata Utari.
"Kakak!" Kanaya mendesah kesal.
"Kemana jiwa pembunuhmu yang kejam itu!" bentak Utari.
__ADS_1
Akhirnya Kanaya mau tak mau harus membereskan seekor siluman duyung lelaki ini sendirian. Karena Utari dan gadis kecil serta Hasan sudah menghilang dari meja makan.
Kanaya memandang Imanuel dengan tajam. "Kau tak ingin lari, tak enak membunuh target yang tak bisa melawan. Lari lah!" perintah Kanaya.
Saat Imanuel mulai berlari, Kanaya sudah siap dengan panah jambroa. Panah dengan kekuatan aura hitam yang akan membunuh siapa pun yang terkena bidikannya, dengan penyiksaan dan rasa sakit yang tiada akhir.
Imanuel berlari sekencang yang dia bisa, tapi Kanaya seakan suka dengan perlawanan Imanuel dia terus membidik ke arah Imanuel dan sengaja tak mengenai tubuh bocah lelaki itu.
"Kanaya tolong lepaskan putraku!" mohon Mandelin yang tampak akan membeku di penjara es yang di buat oleh Utari.
"Kau tau aku menjadi seperti ini juga karena keturunan campuran seperti anakmu!" kata Kanaya. "Aku tak akan membiarkan mahluk seperti itu hidup dan berbagi oksigen yang sama denganku!" lanjut Kanaya.
Wanita itu sudah di penuhi amarah, iris matanya yang hitam legam itu menjadi hitam sepenuhnya sampai menutupi bagian sklera mata Kanaya.
Kanaya mulai bergerak cepat dan menagkap Imanuel yang berlari berputar-putar di ruangan itu. Setelah menagkap leher Imanuel Kanaya segera membanting tubuh kecil itu ke lantai, hinga lantai di bawahnya retak dan hancur berhamburan.
Imanuel tampak masih bernafas saat itu, Kanaya berdiri dan bersiap untuk mengeluarkan panahnya untuk mengakhiri hidup Imanuel tapi bocah itu mengeluarkan serangan yang tak di prediksi oleh Kanaya.
Tubuh Kanaya melayang dengan cepat dan hampir menghantam dinding. Kanaya bukan siluman biasa, wanita ini adalah siluman terkuat di bumi saat ini. Kanaya berhasil menghentikan efek kekuatan Imanuel dan tubuhnya tak jadi menghantam dinding. Wanita itu melayang dengan angun di udara dan turun ke lantai dengan perlahan.
Imanuel sudah berubah menjadi manusia dewasa dengan tubuh berotot dan wajah yang rupawan tapi penuh dengan kemarahan.
Segel yang di pasang Mandelin untuk mencegah pertumbuhan di tubuh anaknya telah lepas.
"Kenapa keturunan campuran selalu tampan?, aisssss aku tak boleh lemah dengan ketampanan hari ini!" kata Kanaya mencoba meyakinkan dirinya.
Imanuel hanya bisa mengeram kearah Kanaya, mata hijau dan hitam itu saling berpandangan dengan kemarahan di hati masing-masing.
Dendam yang di simpan Kanaya sepanjang hidupnya, cinta yang menjerumuskannya. Ketamakan ras campuran yang ingin menjadi manusia seutuhnya. Telah membuatnya menjadi siluman ular yang haus akan nafsu kenikmatan birahi, yang tak akan bisa di puaskan oleh siapa pun.
__ADS_1