Kencana Utari

Kencana Utari
Lelaki itu lagi


__ADS_3

"Aku yakin telah menyimpannya, kenapa tidak ada di kontak!" kata Varo kesal, dia sedang di kamarnya yang luas tapi komplit dengan semua fasilitas yang harus ada di kamar anak muda seusianya.


Ibu Varo Nyonya Adelia Wijaya masuk ke dalam kamar anaknya setelah mengetuk tiga kali pintu kamar Varo.


Wanita paruh baya yang bertubuh masih indah dan angun itu masuk ke dalam kamar anak bungsunya dan mendekati Vero yang tampak kesal dengan hpnya.


"Ada apa sih Ro?" tanya Adelia.


"Mah, gadis yang namanya Utari itu cantik banget, dia terlihat sangat keren dan pintar....pokoknya Utari itu tipe cewek idaman ku banget mah!" kata Varo gemas pada hpnya yang telah menghilangkan no hp pujaan hatinya itu.


"Kapan kau bertemu dengannya?" wajah Adelia yang semula tampak biasa sekarang menjadi takut.


"Tadi siang, dia datang ke sekolahku dengan kerennya....apa dia mengemudi sendiri mobilnya, dia pasti bawa supir!" kata Varo.


"Dia bilang apa sama kamu?" tanya Adelia, ibu itu terlihat sangat penasaran sekali.


"Dia bilang dia suka cowok yang berambut hitam, dan suka cowok yang rapi serta wangi. Dia tipeku banget!" fikiran Varo sudah berjalan-jalan ke alam lain karena *v*isual Utari yang sangat cantik itu tak mungkin dia temui di dunia nyata.


"Varo.....!" Nyonya Adelia duduk di depan putra bungsunya yang sedang bersandar di sandaran tempat tidurnya dan memandang penuh arti pada putranya itu.


"Apa Mah?" seperti biasa Varo selalu bertingkah manja di depan mamanya yang sangat menyayanginya.


"Utari dia.....!" Nyonya Adelia tak sangup melanjutkan perkataannya, apa pun yang dia ingin ucapkan kini pasti akan menyakiti putranya itu.


"Utari kenapa Mah?" Varo menatap wajah mamanya dengan antusias, pembicaraan apa pun tentang Utari menjadi begitu sangat menarik di telinganya kini.


"Apa kau yakin bisa menyukai Utari itu?" tanya Mamanya,

__ADS_1


"Tenang saja Ma..., aku janji tak akan mengecewakan mama dan papa!" perkataan Varo yang sederhana itu membuat butiran air bening menetes dari pelupuk mata Natali.


Bagaimana pun rahasia bahwa putra bungsunya yang akan menikah dengan mahluk bukan manusia membuatnya ingin mencegah perjodohan ini, tapi segala cara telah di lakukan oleh suami dan dirinya dan tak membuahkan hasil apa pun. Ibu mana yang mau jika putranya menikah dengan mahluk yang bukan dari golongan manusia, meski wanita yang akan menikahi putranya itu sangat cantik, kaya dan juga sakti.


"Mama kenapa?" kegundahan di hati Natali terbaca juga oleh Varo.


"Engak kok Ro, kakak kamu bilang mau tingal lagi dengan kita!" Natali berusaha tersenyum manis, karena kedatangan putra pertamanya Aska ke dalam keluarga ini lagi adalah kebahagian yang besar.


"Bener Mah?" dengan wajah yang begitu sumringah.


Varo segera menelfon kakaknya yang kini sedang berdiam diri di kamar kos sempitnya, beberapa kali terlihat lampu Hpnya menyala tapi tak ada sambutan dari si empunya meski benda tipis yang pintar itu tergeletak di lantai yang berada tepat di depan Aska.


Tersirat banyak hal yang dia fikirkan malam itu, pandangan kosongnya di kagetkan dengan ketukan bar-bar di pintu masuk kosannya.


"Ka...bukak, ini Ibrahim!" suara manusia lelaki mengema di dalam ruangan sempit itu, lamunan Aska pun buyar. Dengan sangat malas Aska membuka pintu kamar kosnya dan di temuinya sesosok manusia berambut klimis dengan kemeja biru kotak-kotak yang rapi dan wajah tersenyum Ibramin yang tampak lebih menyebalkan di mata Aska.


"Ada apa Im?" pertanyaan Aska tak di gubris lelaki bertubuh kurus dan berkulit coklat yang cenderung hitam itu karena sering berjemur karena pekerjaan atlit bola yang Ibrahim geluti.


"Belum lama juga,!" Aska mempersilahkan teman karipnya itu untuk masuk ke dalam ruangan kosan kecilnya yang lapang karena parabotan yang mimim dan tampak bersih.


"Kamu yakin pacaran sama si cewek syari itu?" pertanyaan Ibrahim yang ini mengingatkan akan ceramah tausiah yang belum lama ini di dengar Aska dari bapak Ratih yang tingal tak jauh dari tempat Aska mengontrak sekarang.


"Im, apa kau percara tentang adanya mahluk halus di dunia kita?" Ibrahim yang baru saja menempelkan bokong teposnya ke lantai keramik tanpa alas di kamar kos Aska pun cukup tersentak, karena tak biasanya Aska yang selalu juara 1 di sekolah mengengah berbicara tentang hal tak logis begitu.


"Aku tanya apa?, kamu jawabnya apa....emang kenapa sih ka... kamu di gangu mahluk halus ya?" Ibrahim membuka bungkusan palstik putih beningnya yang berisi martabak manis di lantai dan Aska pun tak diam saja dia segera menyambangi meja di pojokan ruangan kamarnya itu dan membuat kopi hitam untuk mereka berdua.


"Bisa di bilang begitu Im!"

__ADS_1


"Bacain aja ayat kursi!" jawaban Ibrahim itu mungkin masuk akal, tapi apa iya akan berhasil.


"Apa bisa?"


"Biasanya manjur, coba aja!"


.


.


.


.


"Beberapa tahun yang lalu kakak bilang akan mencarikanku suami....apa kakak ingin menjodohkanku dengan Orang itu?" pertanyaan Utari membuat Retno terdiam sejenak padahal dia sedang mengagumi sebuah kalung berlian permata yang bernuansa hijau yang di tunjukkan oleh salah satu staf menejer toko itu.


"Apa yang kau katakan?" Retno mencoba tetap tenang, tapi bawahannya yang mempunyai kekuatan setara dengannya itu membuatnya cukup khawatif juga.


"Salendra, manusia busuk itu.....kenapa dia bisa di lahirkan lagi?. Bukankah jiwanya adalah salah satu jiwa yang di hisap oleh pohon kehidupan?" Utari mengunakan sihir menghentikan waktu untuk menekan Retno yang sudah di angap sebagai kakaknya itu.


"Jangan sembarangan mengunakan kekuatanmu di depan manusia Utari!" Retno mulai serius, dia mengunakan nada mengancam di perkataannya untuk Utari.


"Apa ada yang di sembunyikan dariku, aku melihat pohon Kehidupan berbunga setelah aku bertemu dua lelaki itu....siapa yang membuat pohon sialan itu berbunga?"


Waktu masih berhenti, dan dua wanita yang bukan manusia itu masih bersitegang, sementara Kanaya yang seorang siluman ikut terpengaruh sihir yang di ciptakan Utari dan diam seperti manusia lainnya.


"Aku hanya memberi jalan, kau yang harus mencari jawabannya sendiri...!" Utari kembali menarik sihirnya dan dia berada di tengah lamunannya.

__ADS_1


Kenapa harus lelaki itu lagi....



__ADS_2