Kencana Utari

Kencana Utari
Manusia setengah siluman


__ADS_3

Utari bersendawa sangat keras, dan meletakkan sendok serta garpunya di piringnya.


"Trimakasih, karena kenyang aku jadi mengantuk!" kata Utari.


Gadis itu melengang begitu saja dari hadapan Aska, meningalkan semua kotoran bekas makannya di meja tanpa membersihkannya. Aska tentu saja hanya tersenyum melihat Utari yang terlihat bahagia hanya karena tiga bungkus mie instan dan dua telur ayam.


"Dia menghabiskan semua!" kata Aska, setelah sadar bahwa panci di depannya telah kering tanpa sehelai mie yang tersisa.


"Dia benar-benar bukan manusia!" kata Aska, sambil mengeleng tak percaya.


Tapi senyum masih bisa mengembang di bibirnya, dia sudah mengenal Utari di dua kehidupan tapi pria itu tak tau bahwa gadis yang dia cintai itu ternyata punya nafsu makan yang besar.


Setelah membereskan dapur Aska pergi ke ke kamar Utari, dia berniat untuk pamit pulang.


Utari sudah tertidur di sofa dengan ponsel masih di gengamannya, Aska mendekati tubuh meringkuk Utari dan duduk berjongkok untuk melihat wajah gadis itu lebih dekat.


Kesalahan terbesarku adalah, aku tak pernah bilang bahwa aku sangat merindukanmu.


Belaian lembut jemari tangan Aska mengelilingi wajah manis Utari, pandangan mata yang tulus Aska terus menelisik setiap ekspresi wajah Utari yang beberapa kali berubah.


Kesedihan tiba-tiba menyeruak di dada Aska, kenyataan telah menusuknya. Aska menyadari dia bukan takdir Utari, dia hanya lahir untuk mengugurkan bunga di pohon kehidupan agar Utari bisa meminta sesuatu pada Dewi Azura.


Aku sangup lahir 1000 kali untuk mewujutkan setiap keinginanmu.


Aska membopong tubuh mungil Utari ke kasur ranjang, dan menyelimuti gadis itu. Sekali lagi pandangan tulus itu mencoba menerka setiap ekspresi wajah Utari yang sedang tertidur.


.


.


.


.


Seorang anak lelaki duduk di meja makan bundar dengan beberapa jenis makanan mewah di depannya, hampir semua jenis makanan yang di sajikan adalah olahan daging yang beragam.


Anak lelaki berwajah melankolis yang di hiasai dengan mata hijau yang indah, pupil mata hijau adalah indikasi bahwa seseorang mungkin tengah di rasuki oleh siluman atau bocah itu adalah siluman.

__ADS_1


Dengan tangan kosong anak lelaki itu memgambil daging dari piring saji dan melahapnya tanpa tata cara makan yang benar. Seperti hewan yang tengah kelaparan anak lelaki itu terus menjejalkan potongan daging kedalam mulutnya.


Semua pelayan yang menyaksikan hanya diam, hal biasa. Mereka menamainya seperti itu.


Imanuel anak lelaki yang lahir dari rahim siluman. Tak seorang pun tau akan rahasia itu.


"Imanuel, mama sudah bilang kau harus makan dengan tenang!" kata wanita cantik yang baru saja muncul dari balik pintu besar dari ruangan lain.


Anak lelaki itu sama sekali tak mendengar nasehat ibunya, wanita berkulit putih yang menawan dengan rambut coklat seperti tembaga dan mata hijau yang tampak bersinar.


Mendelin, siluman air. Lebih di kenal dengan siluman ikan duyung.


Mendelin memandang kebuasan putranya yang sangat mengangunya, wanita cantik itu menghembuskan nafasnya perlahan. Mandelin memberi isyarat agar semua pelayan keluar dari ruangan itu dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke arah pintu. Para pelayan segera pergi dari tempat itu dan menutup pintu ruangan itu.


Bruakkkkkkkk


Tak lama terdengar suara benturan keras di dinding, lagi-lagi bagi semua pelayan di sana itu hal yang biasa.


Mendelin telah menghancurkan meja makan bundar di depannya.


Tangan kanannya sudah mencengkeram leher putranya, dia mendesis marah. Imanuel hanya diam karena cekikan ibunya itu hampir membunuhnya, wajah anak lelaki kecil itu sudah memerah tanda darah berhenti mengalir di area kepalanya.


Ckrekkkkk


Perlahan pintu terbuka, muncullah sesosok lelaki tampan dengan tubuh tegak. Kemeja putih yang pas di badan dan celana bahan yang membentuk indah tubuh pria bernama Hasan suami dari Mandelin.


"Sayang jangan terlalu kasar dengan Imanuel, dia anak kita!" kata Hasan, dengan lembut pria itu memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang.


"Aku hanya khawatir jika Dewi Penjaga tau, kita akan tamat!" kata Mandelin.


"Kita sudah berjanji akan melindungi Imanuel dari Dewi Penjaga, aku akan berusaha keras!" kata Hasan.


Perkataan lembut pria itu tak bisa meredakan kegundahan di hati istrinya.


"Sampai kapan, di pertemuan dia tampak sangat aneh. Dan semua siluman selalu mencurigaiku karena mengikutimu ke dunia manusia!" jelas Mandelin.


Wanita itu masih marah dan memandangi Imanuel yang perlahan bangkit dari kesakitannya dan mulai makan makanan yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Imanuel hentikan!" teriak Mendelin.


Mandelin itu hendak mencengkeram anaknya lagi, tapi Hasan menghentikannya.


"Pikirkan sayang, dia anak kita!" Hasan kembali membisikkan kata-kata lembut itu ke telinga Mandelin.


"Karena dia anak kita Hasan, dia harus beradap. Jika Imanuel melukai manusia lagi, bukan hanya Imanuel yang akan di hukum tapi kita juga akan mati!" Mandelin menjelaskan dengan air mata yang meleleh dari mata indahnya.


"Dewi Penjaga tak akan tahu selama Imanuel tak keluar dari rumah ini Sayang!" Hasan tak lelah untuk membujuk istri cantiknya.


Imanuel bocah pria yang memiliki tubuh manusia yang tak bisa tingal di dunia siluman, dia hanya bisa tingal di dunia manusia. Tapi perilakunya yang mirip hewan liar, selalu saja membuat keributan di rumah mewah yang berdiri hampir di tengah hutan itu.


Hasan membangun rumah itu, agar Imanuel tak bergaul dengan manusia. Pelayan di rumah itu adalah pelayan yang sudah terlatih untuk menjinakkan binatang buas.


Imanuel berlari keluar dari ruangan itu dengan sangat ketakutan, dua pelayan lelaki mengikuti Imanuel yang berlari menuju kamar Imanuel.


Bocah itu masuk dan menutup pintu kamarnya dan masuk ke dalam almari pakaiannya.


Kemurkaan Ibunya ternyata sangat menakutinya, tapi sebuah teriakan kecil mengangu telinganya yang mempunyai pendengaran siluman.


"Apa ada orang di rumah ini....tolong...tolong saya!" seru gadis kecil bergaun biru muda yang bernoda tanah dan juga darah.


Gadis itu sangatlah ketakutan, tangan kecilnya yang penuh noda darah terus memukul pintu utama rumah Imanuel.


Suara gedoran di pintu yang membabi-buta, suara rintihan kecil yang melengking ketakutan, suara decitan kaki yang telanjang menghantam ubin berkali-kali. Suara-suara yang baru pertama kali di dengar Imanuel, rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutnya membawanya keluar dari dalam almari.


Bocah lelaki itu melangkahkan kakinya pelan ke arah balkon kamarnya. Mata hijaunya yang indah melihat seorang pelayannya membawa bocah perempuan itu masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana gadis kecil sepertimu bisa berada di sini?" tanya Hasan, pada gadis yang sudah sangat pucat itu.


"Sebaiknya kita tanyakan nanti sayang, ku rasa anak ini perlu perawatan!" kata Mandelin.


Gadis kecil itu di bawa masuk ke dalam ruangan di belakang dapur dan terlihat mata Imanuel tak bisa lepas dari gadis itu, Imanuel sudah berdiri di ujung tangga lantai dua dengan wajah antusiasnya.


"Siapa?" kata Imanuel.


Mandelin segera memandang ke arah putranya, itu adalah kata pertama yang di ucapkan oleh Imanuel sejak dia di lahirkan.

__ADS_1


"Sayang, anak kita!" kata Hasan bahagia, dia berlari menaiki tangga.


Tanpa rasa takut dan jijik Hasan segera memeluk dan mengendong anaknya yang setengah manusia dan setengah siluman itu.


__ADS_2