
Aska kini telah resmi menjadi menejer Utari setelah menandatangani surat perjanjian di kertas putih yang berisi.
Utari tak akan mengangu keberlangsungan hidup Ratih dan Varo, selama Aska bekerja untuk Utari.
Ternyata seperti ini menjadi seorang tawanan mahluk halus, Aska merampungkan semua perintah Utari untuk melunasi semua tungakkan pajak ke pada pemerintah dan menyuruh pria itu berbelanja kebutuhan sehari-hari Utari di pusat perbelanjaan.
"Aku jadi pembantunya sekarang!" desah Aska kesal, dia masih memegang list belanjaan yang di tulis tangan oleh Utari.
Tulisannya Utari sangat bagus, dengan gaya penulisan latin orang barat yang seperti di prin dari komputer. Utari sangat detail menulis merek dan ukuran setiap produk di list itu, membuat Aska dengan teliti memilih barang-barang yang sesuai dengan tulisan di list yang di buat Utari.
Kelakuan Aska yang sangat jeli dalam memilih barang belanjaan sudah seperti suami yang sedang membelanjakan istrinya yang sibuk mengurus rumah. Pemandangan itu pun tak luput dari perhatian ibu-ibu yang juga pada sibuk belanja di super market itu. Aska yang merasa di perhatikan dan di gunjingkan hanya mencoba untuk menutup wajah gantengnya dengan tudung jaket yang dia kenakan.
Aska di ijinkan memakai mobil Utari untuk urusan pekerjaan, dan Aska mengunakan mobil Ferrari merah Utari karena mobil itu paling buntut di antara semua mobil di garasi rumah Utari.
Sesampainya di rumah Utari, Aska di bantu Haruto mengeluarkan semua barang belanjaan yang memenuhi kursi penumpang di mobil sport sempit itu.
"Kenapa harus aku yang belanja, pelayannya yang lain kan banyak?" tanya Aska pada Haruto.
"Jika menjauh dari pohon kehidupan, kami tak lebih dari hantu yang bergentayangan!" jelas Haruto.
"Hantuuuuuu?" Aska terbengong-bengong melihat Haruto yang tampak seperti manusia normal ternyata adalah hantu.
"Usahakan tuan jangan pingsan di sini, atau Nona akan sangat marah nanti!" kata Haruto yang berlalu dengan cepat melintasi ruangan garasi yang luas itu menuju dalam bangunan rumah megah Utari.
Ekspresi takut, cemas dan rasa ingin kabur sudah terpampang nyata di wajah Aska. Tapi dengan sisa-sisa ke jantanannya dia masuk juga ke dalam rumah angker itu untuk membawa sisa belanjaan yang di tingalkan oleh Haruto di dalam mobil.
Kenyataan lain yang harus di terima Aska di hari itu adalah. Utari yang seakan memperbudaknya dengan tanpa kesopanan memangil namanya dari lantai dua dengan nada melengking tinggi yang tak akan di keluarkan dari mulut Whitney Houston sekali pun.
"Ada apa Nona Utari?" tanya Aska yang masih mengatur deru nafasnya karena berlari dari lantai satu ke lantai dua untuk memenuhi pangilan Utari.
__ADS_1
Aska cukup terpaku dengan dandanan Utari hari ini, kemeja putih panjang yang berenda dan rok merah kulit ketat di bawah lutut yang di kenakan Utari sangat pas di tubuh Utari yang seperti model itu.
"Ambilkan itu!" kata Utari yang menunjuk rak lemari kacanya yang berada di kamarnya. Utari menunjuk sepatu buts coklat merek LV yang bertenger indah di rak tengah lemari kacanya.
"Kau bisa ambil sendiri!" kata Aska.
"Untuk apa aku membayar pelayan jika aku harus melakukannya sendiri?" tanya Utari dengan wajah mengoda,
Yaaaa....gadis ini sangat bahagia karena pada akhirnya Aska bisa dia perbudak.
Setengah tak ihklas Aska mengambilkan sepatu yang di pinta Utari pada Aska, dan meletakkannya secara kasar di dekat kaki jenjang dan mulus Utari.
Karena di rasa tugas dari Utari telah selesai Aska berbalik untuk meningalkan mahluk cantik yang terkutuk itu.
"Kau mau kemana?" tanya Utari, Aska yang serasa sudah tersihir kembali berbalik ke arah dimana gadis manis itu duduk.
"Apa lagi sekarang?" bentak Aska.
"Maaf karena telah membentakmu Nona, ada yang bisa saya bantu!" nada mendesis menahan emosi terpaksa Aska keluarkan semata-mata agar kekasih dan adiknya tak mendapat petaka yang di akibatkan oleh Utari.
"Pakaikan sepatunya, di kakiku!" perintah Utari, dan geraman lirih Aska sudah mengema di ruangan luas yang di penuhi dengan barang-barang mewah milik Utari.
Pemaksaan Utari membuahkan hasil, Aska duduk berjongkok di depan Utari dan meski dengan kasar menyentuh kaki cantik yang mulus itu. Gejolak di hati Aska kembali terjadi bahkan karena hanya melihat ibu jari kaki Utari.
"Kau bilang aku Reingkarnasi musuh mu, seperti apa dia dulu?" tanya Aska yang benar-benar merasa penasaran, karena sepertinya kehidupannya sekarang masih punya hubungan dengan kehidupan masa lampaunya.
Utari mendongakkan sedikit kepalanya dan memperlihatkan leher jenjangnya pada Aska yang membuat pria itu seketika menelan ludahnya sendiri.
"Namanya Salendra....dia itu...pria yang sangat jahat, licik, tidak punya sopan santun dan cabul!" kata Utari setelah dia mengingat-ingat semua ingatan yang dia miliki tentang Salendra.
__ADS_1
"Seburuk itu kah aku dulu di matamu?" tanya Aska dengan mata yang masih memandang tajam ke arah Utari dengan wajah dinginnya.
"Iya!" Utari kembali menunduk untuk melihat hasil kerja Aska, tapi pandangan mata Aska membuat Utari terpaku. Pandangan mata itu bukan milik Aska tapi milik Salendra,
Anak ini punya dua jiwa atau bagaimana???
Aska kaget karena tiba-tiba Utari menguncang pundaknya kasar.
"Kenapa?" tanya Aska dengan wajah kebingungan.
"Jangan melamun!' bentak Utari, Utari tampak sangat gugup karena baru saja dia merasa Salendra berada di tubuh Aska.
"Aku melamun?" tanya Aska sambil mengelap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan melamun di depanku ..... kau harus ingat itu!" bentak Utari, yang lansung berdiri meningalkan Aska yang masih terduduk di lantai karena merasa sangat bingung.
Sesampainya di kosan Aska seperti biasa membersihkan tubuhnya lalu beribadah, tapi kali ini dia berdoa sangat lama ketika selesai sholat. Dia sedang mengadu nasip naasnya pada Tuhannya karena harus berhubungan dengan Utari yang entah manusia, siluman atau hantu.
Kalau semua hanya takdir, maka takdir apa yang telah Allah gariskan untukku.
Kenapa berkelok-kelok tak jelas dan sangat curam.
Tak ada rambu-rambu yang menuntunku.
Jika aku pria jahat di masa lalu, kenapa tak kau bakar saja aku di neraka ya Allah.
Kenapa kau memberi kesempatan hidup lagi untuk jiwa yang kotor ini.
Aska berdoa sampai tertidur di sujutnya, rasa lelah yang mengerayangi sekujur tubuhnya membuatnya lemas dan menyerah dengan rasa kantuknya.
__ADS_1