
Seorang lelaki berusia 30 tahunan, duduk di sebuah kursi sofa mewah berwarna hitam polos. Di depan lelaki itu juga duduk pria yang lebih tua tapi terlihat masih muda dia juga duduk di sofa dengan model yang sama dengan lelaki di depannya.
Mereka terlihat memandangi kertas putih bergambarkan seketsa bangunan yang amat rumit, pria pemilik kediaman mewah itu menunduk-nunduk dengan senyum puas sembari jemarinya menekuk di dagunya.
"Ini adalah seketsa bangunan ruang rahasia yang di gunakan banyak Mafia Eropa untuk menyimpan harta mereka, siapa pun tak akan bisa menembus keamanan super ketat ini Tuan, meski itu hantu sekali pun!" jelas pria bermata sipit, dengan kulit wajah putih glowing dan terlihat tanpa pori-pori bak artis korea.
"Semoga ini berhasil,!" kata pria berwajah tegas dengan tatapan tajam itu.
Dahlan dan Seo Wu, pria dengan perbedaan kewarganegaraan itu saling berhadapan dan berusaha berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan logat khas negara masing-masing.
Dahlan Wibisana menyewa ahli pembuat ruang persembunyian rahasia yang di lengkapi keamanan super tinggi. Pengusaha muda yang sukses itu membuat ruangan itu untuk sembunyi dari Utari, dia tak akan menyerahkan nyawanya untuk iblis itu.
Dia berencana membuat kecurangan dalam perjanjian, lelaki keturunan minang itu berusaha untuk membunuh Utari sebelum Utari mengambil nyawanya tepat saat hari penumbalan tiba.
"Keamanan pintu depan, di rancang dengan teknologi terbaru dari peusahaan keamanan Amerika. Bahkan seekor nyamuk yang lewat akan bisa memicu alaram dan langsung menyalakan seluruh sistem persenjataan yang sudah di pasang di setiap lorong menuju ruangan utama.!" kata Seo Wu
lelaki paruh baya yang masih tampan dengan kewarganegaraan Korea itu menjelaskan inti dan kegunaan keamanan berlebih yang akan di pasang untuk bangunan tersebut.
"Ketika seluruh sistem keamanan telah aktif, maka siapa pun tak akan bisa menghindari serangan beruntun yang akan di lancarkan dengan mendeteksi obyek. Siapa pun yang berusaha menerobos masuk ke dalam ruangan rahasia itu, pasti akan mati!" Seo Wu melengkapi penjelasannya.
"Apa kah enam bulan cukup untuk menyelesaiakan bangunan ini?" tanya Dahlan, dia sudah tak punya waktu lagi.
"Bisa, tapi biyaya akan membengkak...!"
Belum selesai Seo Wu berbicara Dahlan memotong perkataan Seo Wu.
"Berapa pun akan ku bayar!" kata Dahlan. Matanya memandang ke arah mata Seo Wu dengan penuh harapan.
Seo Wu yang merasa agak salah tingkah pun, hanya menganguk untuk melengaki perbincangan serius mereka.
"Akan saya usahakan!" kata Seo Wu.
.
.
.
.
__ADS_1
"Kakak di sini?" tanya Utari, gadis cantik itu segera menuruni tangga dengan langkah cepat.
Utari memeluk Ratu Retno dengan hati yang bahagia, dia merasa Ratu Retno telah membantunya untuk mendapatkan apa yang kini dia dapatkan kini.
"Aska, bisa suruh Mbok Jumi membuatkan kami minuman enak!" perintah Utari.
"Baik!"
Tanpa banyak basa-basi Aska segera ke dapur untuk menemui Mbok Jumi.
"Kelihatannya kau bisa akur dengan reingkarnasi Salendra!" sindir Ratu Retno.
Utari hanya tersenyum sedikit mencibir, "Itu karena dia tak mengingat apa yang dulu kami lalui, jadi dia mau saja ku perintah-perintah!" jelas Utari.
"Utari, apa kau yakin akan meminta kematian jika bunga itu gugur?" tanya Ratu Retno.
"900 tahun bukan waktu yang pendek kak, aku sudah lelah menjalani hidup ini!" kata Utari dengan desahan nafas panjang yang tampak putus asa.
"Apa kau tak ingin mendapatkan cinta sejati, yang akan menemanimu selamanya?" tanya Ratu Retno.
Dua wanita cantik yang berumur sangat tua itu berjalan ke arah sofa ruang tamu dan duduk di salah satu yang paling panjang.
Utari menundukkan kepalanya dan memikirkan Aska yang tak punya benang takdir. Pria yang mungkin dia cintai itu akan segera mati, kapan saja tanpa dia bisa tau.
"Semua manusia pasti punya cinta, mereka di ciptakan dari cinta!" kata Ratu Retno.
"Itu dulu, zaman sekarang manusia di ciptakan oleh nafsu!" kata Utari sambil tersenyum nanar.
"Kau benar, manusia semakin hari semakin kehilangan perasaan mereka. Padahal itu adalah keistimewaan mereka sebagai mahluk paling sempurna di bumi ini!" Ratu Retno mengelus pungung tangan Utari.
"Kau harus mencari kebahagiamu sayang, kau pasti bisa!" kata Ratu Retno, membuat Utari memandang mata hijau safir di depannya dengan pandangan yang sedih.
"Aku sudah menyerah, aku tak mau hidup lebih panjang lagi!" kata Utari.
Aska dengan dua gelas minuman warna-warni dan sepiring buah-buahan segar yang sudah di potong dan di tata sedemikian rupa cantiknya.
Langkah kaki Aska terhenti saat Utari mengatakan perkataan terakhirnya. Dia memandang pungung Utari dengan tak berdaya. Karena dia, semua penderitaan yang di tangung Utari selama ini adalah karena ketamakannya dan ayahnya di masa lalu.
Aska segera merubah ekspresinya, dia tak mau Utari melihat keputusasaan di wajahnya.
__ADS_1
"Minuman datang!" kata Aska.
Kedua wanita astral yang sangat cantik itu pun melihat ke arah Aska yang dengan sigap dan sopan meletakkan suguhan yang sudah di siapkan oleh pelayan no 1 di kediaman Utari.
"Trimakasih Aska!" kata Ratu Retno.
"Sama-sama,!" kata Aska yang langsung berdiri dan berjalan pergi ke ruangan belakang agar tak menganggu pembicaraan antar wanita di ruangan itu.
Aska berdiri di halaman belakang rumah Utari yang terbentang taman yang indah dengan banyak tumbuhan yang tumbuh subur di sana. Terlihat SuSi sedang bermain dengan para hantu lain yang tampak seperti manusia biasa.
Aska membayangkan, bagaimana jika ayah Salendra dulu tak membuat perjanjian dengan Samada. Mungkin Salendra akan hidup bahagia bersama Utari, mempunyai banyak anak dan bermain dengan anak-anak mereka.
Rumah di desa dengan kesederhanaan yang pernah di utarakan Utari ketika dia masih kecil, Utari ingin hidup sebagai rakyat biasa yang bahagia. Berkeluarga dengan lelaki biasa dan mendidik anak mereka sendiri.
Mimpi gadis sederhana itu harus pupus saat kakaknya kehilangan sebagian kesaktiannya dan tak ingin naik tahta dan memutuskan menjadi biksu.
Utari hanya satu-satunya harapan yang harus meneruskan kepemimpinan Wanara, sehinga dia berlatih sangat keras untuk meningkatkan kemampuannya.
Aska tertunduk lesu, dan pemandangan itu tak luput dari mata tajam SuSi. Gadis kecil itu menghampiri Aska dan duduk di teras halaman belakang, tak di kursi tapi di atas ubin yang dingin. Aska pun ikut duduk di sebelah SuSi.
"Apa yang om pikirkan?" tanya SuSi.
"Penyesalan!" jawab Aska.
"Jangan menyesal, tapi perbaiki!" kata SuSi.
Meski SuSi adalah gadis kecil tapi dia telah hidup sangat lama sebagai hantu.
"Tapi tak ada yang bisa di perbaiki!" kata Aska, wajahnya masih berekspresi dangat sedih.
"Kalau begitu ulangi dari 0 lagi, buat setan iblis yang baik itu mencintai om lagi!" kata SuSi.
Aska tak percaya, dia baru saja di nasehati oleh hantu anak-anak.
"Dia sangat membenciku, sampai ke tulang-tulangku!" kata Aska.
"Dia tak sebenci itu pada om!"
"Kau tak tau apa-apa SuSi!" kata Aska, dia membelai kepala berrambut pendek SuSi.
__ADS_1
"Kalau om tak mau memperbaiki sekarang, om akan menyesal selamanya bukankah ini kesempatan terakhir om?" tanya SuSi.