Kencana Utari

Kencana Utari
Gadis kecil yang malang


__ADS_3

Mang Soleh kembali melewati gang Mutiara, dengan setia dan tanpa banyak perasaan Kang bubur berkaus partai G.e.r.i.n.d.r.a itu membenturkan salah satu sendok ke mangkok keramiknya yang kosong.


(Maaf terlambat ngasih nama gang fenomenal ngak tau akan jadi tempat yang amat krusial di novel ini.)


Ting...Ting....Ting....Ting Ting Ting


Itu adalah dentangan klasik nan merdu yang mempertemukan dua kekasih yang sekarang sudah di ploklamirkan sebagai mantan. Yaitu Ratih dan Aska, sepasang kekasih yang bahkan belum pernah berpegangan tangan.


Hanya saling tatap dari jarak setengah meter, dan melempar senyum manis satu sama lain. Gaya pacaran yang jarang sekali di terapkan di negara kita yang terbuka tapi tertutup ini.


Terbuka masyarakatnya, tertutup busananya.


"Ini gratis Ka!" kata Mang Soleh kepada Aska yang sudah tak sabar ingin menikmati semangkuk buburnya.


"Iya lah gratis, kemarinkan uang kembalianku ngak Mamang kasih, alesan tak ada receh...trik jualannya terlalu kentara Mang!" kata Aska, indra penglihatan dan perasanya sudah di kuasai oleh pesona elok semangkuk bubur Mang Soleh.


"Di tembak dong kalo kentara!" kata Mang Soleh.


"Kentara Mang bukan Tentara, pake cosplay jadi sule lagi!" kata Aska kesal, niatnya mau sarapan dengan tenang malah di ledek terus sama tukang buburnya.


Sembari menyendok bubur Aska melihat pesan teks yang masuk ke ponselnya.


Hari ini karena Aska libur, dia mengajak Utari ke Taman Bermain dan tentu saja mengajak SuSi juga.


Ok aku akan ikut.


Itu adalah isi pesan teks balasan dari Utari, dan seketika membuat Aska berteriak senang.


"Mati kamu Utari, aku yang akan mengerjaimu kali ini!" teriak Aska. Tanpa peduli di ketawain ibu-ibu yang antri beli bubur.


.


.

__ADS_1


.


.


Di taman hiburan Aska yang hanya mengunakan kaus oblong putih dan celana jins hitam dengan perasaan yang berbunga-bunga karena akhirnya bisa mengajak SuSi ke taman hiburan.


SuSi mengenakan gaun biru navy yang cantik dan gadis kecil itu memakai kalung berbandul kaca yang berbentuk bintang yang sudah di isi oleh energi dari Pohon kehidupan sehinga SuSi berpenampilan seperti anak-anak lain dan juga bisa di lihat oleh mata manusia.


Sementara Utari juga berpakaian santai dengan celana jins dan kaus berlengan pendek putih serta sepatu kets tak lupa tas selempang hitam. meski terlihat biasa tapi harga outfitnya pasti lah mahal.


Aska, Utari dan SuSi terlihat seperti sebuah keluarga yang melakukan liburan bersama.


"Kalian sudah datang!" tiba-tiba sebuah suara pria yang sangat Aska kenal, menyapa mereka dari arah pintu masuk.


Utari menoleh ke belakang dan langsung tersenyum bahagia.


Ternyata Varo juga ikut membuat Aska sedikit kecewa, tapi alasannya mengajak gadis iblis itu ke tempat ini adalah untuk memgajaknya menaiki wahana eskstrim dan akan membuatnya mutah-mutah sampai pingsan.


Rencana yang sudah di rancang Aska dengan kematangan yang pas itu malah berbalik padanya. Terlihat Utari, SuSi atau pun Varo selalu menikmati semua wahana-wahana esktrim yang di usulkan Aska. Tapi Aska, malah di paksa ikut dan akhirnya dia yang mutah-mutah sampai pingsan bukannya Utari.


Pandangannya menyusuri setiap pengunjung yang begitu bahagia mereka pergi bersama keluarga dan kerabat tentunya. Wajah-wajah antusias anak-anak kecil yang mengemaskan, tawa-tawa kegembiraan saat bersenda gurau bersama.


Benar-benar dunia tanpa kesedihan, tapi kehidupan seperti itu tampaknya hanya ada di taman bermain, setelah keluar entah beban hidup seperti apa yang akan memghampiri para orang-orang itu.


Mata Aska kini tertuju pada sebuah keluarga dengan dua anak yang berbeda usia, kakak perempuan yang mungkin seusia SuSi dan juga adik lelaki yang mungkin berusia 5 tahun.


Mereka beristirahat di dekat wahana untuk anak-anak balita, Aska melihat ibu anak itu memukul anak perempuan itu cukup keras. Dan si anak perempuan itu sontak menagis.


"Diam kamu, kalau kau menagis ibu akan menigalkan mu di sini!" ancam ibu itu, gadis kecil itu menghentikan tangisnya. Tangan mungilnya meraba-raba bahu mungilnya yang pasti masih sakit.


Aska terus memperhatikan gadis kecil itu yang pipi mungilnya masih dibasahi oleh derai air mata kesakitannya. Gadis kecil itu tampak menahan tangisnya, dia pasti takut jika ibunya benar-benar meningalkannya di tempat itu.


Aska hanya bisa menahan kesedihan di hatinya, dia yang tak punya kuasa apa-apa untuk melindungi gadis kecil yang malang itu.

__ADS_1


Saat masuk ke wahana, gadis kecil itu di biarkan menunggu di luar dan ayah, ibu serta adik-adiknya asik bermain . Gadis itu tak di belikan karcis untuk masuk ke wahana yang berbayar.


Tapi wajah gadis kecil itu masih tampak bahagia ketika melihat keluarganya bermain di dalam wahana.


"Om Aska,!" teriak SuSi yang berlari ke arahnya, sambil membawa kembang gula yang sangat besar untuk ukuran tubuh mungilnya.


Varo dan Utari juga berada di belakang SuSi tengah suap-suapan kembang gula dengan sangat romantis.


Aska pun berjongkok dan menyambut tubuh mungil SuSi.


Suara tangis mengagetkan mereka, tangis gadis kecil yang kembali di pukul oleh ibunya.


Aska segera menoleh ke arah gadis kecil yang malang tadi, tanpa rasa malu kedua orang tua itu memaki putri kecilnya di tempat umum yang begitu banyak mata mausia memandang aksi anarkis mereka.


Kutukan, sumpah serapah tak henti di ucapkan ibu muda itu pada anak pertamanya. Tak hanya ucapan tapi cubitan yang menyakitkan juga menghantam paha gadis mungil itu.


Airmata tak mungkin bisa di bendungnya lagi, rasa sakit yang tak bisa di tangung tubuh mungil itu membuat tubuh kecil itu gemetar di dalam erangan tangisannya.


"Ampun ibu ampun!" katanya lirih di sela tangisannya.


Tapi seperti telah kehilangan kemampuan pendengaran ibu itu semakin menyiksa putri pertamanya itu.


Aska sadar SuSi adalah korban ke biadapan seorang ibu dan tengah menyaksikan pertunjukan mengenaskan itu sontak Aura hitam segera menyelimuti tubuh Susi.


Wajah jahatnya, rupa menyeramkannya dan sebilah pisau sudah di gengaman SuSi.


Dengan senyum menyeringai yang menyeramkan hantu anak perempuan Si Sulung Sial berlari ke arah keluarga itu.


Aska segera berlari juga untuk menghadang tubuh SuSi yang kekuatannya pasti akan lebih besar karena dia kini punya kalung energi pohon kehidupan.


Aska yang sudah hampir menagkap tubuh mungil SuSi terjungkal karena dorongan seseorang.


Utari telah menagkap tubuh Si Sulung Sial yang masih mengerang penuh dendam, dengan mata putih keseluruhan dan wajah pucat yang menghitam.

__ADS_1


Aska melihat Utari menahan kesakitan dan dari mulut mungilnya Utari meneteskan darah segar. Tak hanya sekali, berkali-kali Utari mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Jangan dekati kami!" kata Utari, dengan wajah penuh peluh dan ekspresi menahan sakit. Aska baru sadar bahwa sekarang waktu berhenti, bahkan di kondisi begitu Utari masih sempat mengunakan sihirnya.


__ADS_2