
Tiga hari tingal dengan para Prajurit Maladewa membuat Anjani sadar, orang-orang di Wanara melebih-lebihkan tentang kekejaman orang-orang Maladewa.
Mata kepala Anjani dan Ranti menyaksikan sendiri bahwa orang-orang Maladewa bahkan lebih beradap dari sebagian orang di Wanara.
Para prajurit pria di sini yang tak segan membantu pekerjaan para budak wanita di dapur kemp ini, mereka tampak akrab dan bersenda gurau tanpa memikirkan kasta yang di Wanara sangat di junjung tinggi.
Dunia yang indah....
Anjani yang memang sedari kecil tak pernah melakukan pekerjaan apa pun, dia harus selalu di bantu Ranti meski hanya buang air kecil selama di kemp itu.
"Ooooyyyy apa kau anak Kaisar.....manja banget!" ejek Praja yang tengah makan dengan kawan-kawannya di meja yang sama. Mereka mengejek Anjani karena gadis lembut itu hanya duduk-duduk cantik sambil mengawasi sekitar tak mau membantu orang lain yang tengah sibuk menyiapkan makanan untuk para prajurit.
"Bukan!" Anjani langsung menjawab, dia tak mau jika orang-orang di sini tau jika dia adalah orang yang sangat penting di Wanara. Tak hanya khawatir akan dalam bahaya, tapi dia merasa ingin tingal di tempat itu untuk selamanya.
"Suamimu menjemputmu, kau harus bersiap....siang nanti beberapa perajurit kami akan mengantarmu ke perbatasan!" kata Utari ketus pada Anjani, dia baru saja dari tenda utama milik Putra Mahkota Sanjaya dan mendapat Surat perintah Kekasisaran Wanara, untuk menyerahkan kembali Putri Mahkota Anjani Wasesa yang telah berkunjung ke kemp Maladewa.
"Aku mau di sini bersamamu kak!" kata Anjani, mereka telah sepakat untuk tak menyebutkan gelar apa pun di kemp itu.
"Kau tak dengar suamimu sendiri yang akan menjemputmu, kau tak bisa mengelak!" kata Utari pada Anjani.
Anjani yang tak punya jalan keluar pun berdiri dan merangkul pundak Utari di depan semua orang di sana, semua orang di sana taunya Utari adalah seorang lelaki. Jadi apa yang di lakukan Anjani itu memalukan dan tak sesuai norma di Maladewa.
Semua orang seketika berdehem dan salah tingkah melihat kelakuan Anjani pada Utari.
"Kenapa kalian melakukannya di depan umum...menjijikan!" hampir semua orang di area dapur itu mengatakan itu, mau tak mau Anjani dan Utari berjalan ke tepi kemp untuk menjauhi kerumunan.
"Putri ikut saja dengan ku ke Wanara!" Kata Anjani. Utari masih saja diam dan ketus pada Anjani, tapi gadis itu tau Utari tak akan tega menyakitinya.
"Aku akan melindungimu sekuat tenagaku Putri....aku Putri Mahkota sekarang...!"
"Apa kau sedang menyombongkan diri?" tanya Utari masih tak memandang ke arah Anjani.
"Salendra juga akan melindungi anda...!"
"Lelaki itu,....dia memanah bahuku saat mengejarku di Wanara dan mengunakan seluruh kekuatannya sebagai Putra Mahkota untuk berusaha membunuhku, jangan tertipu dengan rayuannya Anjani!" jelas Utari.
"Salendra melakukan itu pada anda Putri....bukankah kalian sepasang kekasih?" pandangan Anjani buram, matanya berkaca-kaca. Utari tak akan berbohong padanya, kenapa Salendra bisa sekejam itu pada Utari.
"Dia pasti di paksa ayahnya...!"
"Aku sudah tak berguna lagi baginya Anjani, dan membunuhku adalah cara teraman agar kedudukannya sebagai Putra Mahkota tak terusik....pulanglah...jangan membuat keributan di sini, dan jangan bilang pada siapa pun kalau kau bertemu denganku!" Utari berlalu meningalkan Anjani yang masih dalam kondisi terpukul, ternyata selama ini orang yang dia angap baik ternyata adalah penjahatnya.
.
__ADS_1
.
.
.
Anjani duduk berhadapan di dalam gerbong kereta dengan Salendra, sepasang suami istri kerajaan itu hanya diam bahkan tak saling memandang.
Fikiran kalut Anjani akhirnya membuatnya berbicara.
"Ndoro Agung Putra Mahkota!" pangil Anjani.
"Apa!" tanpa memandang mata Anjani Salendra menjawab pangilan istrinya itu.
"Anda tak bertanya kenapa aku bisa berada di kemp pasukan Maladewa?" Anjani sedikit meninggikan nada suaranya.
"Terserah Anda, anda bisa melakukan apa pun dan tak perlu ijin padaku!" kata Salendra.
"Ternyata anda benar-benar picik....!" perkataan gadis lembut itu membuat Salendra memandang wajah Anjani yang sudah memerah karena amarah.
"Anda....kau....memanfaat kan Putri Utari?" Anjani mulai tak sopan pada Salendra. Tapi hal itu tak membuat Salendra bergeming.
"Apa yang kau inginkan dariku...katakan!" teriak Anjani, dia sudah tak tahan lagi melihat bagaimana kepura-puraan Salendra di depannya itu.
"Seorang putra!" ucap Salendra tanpa rasa malu. Sudah setengah tahun dia menikah dengan Anjani tapi dia bahkan belum menyentuh bahkan jari-jari istrinya itu.
Anjani hanya terdiam mematung mendengar apa yang di ucapkan suaminya itu, Anjani tau apa arti dari permintaan Salendra. Anjani tak sebodoh itu, dia hanya lemah gemulai seperti wanita kerajaan pada umumya.
Salendra menginginkan semuanya....Wanara, dia menginginkan Singasana Kaisar....
.
.
.
.
Sekarang
Lingkaran hitam mulai mengitari mata indah Aska, sudah beberapa hari ini dia tak tidur dengan nyenyak. Dia selalu bermimpi tentang kisah Kerajaan yang aneh.
Tak seperti biasanya Aska menjadi lemas dan depresi, selain mimpi aneh ketika tidur, tapi juga tingkah laku Utari yang selalu mengejar Varo akhir-akhir ini membuat Aska semakin merana.
__ADS_1
Penyangkalan perasaan masih terjadi di benak Aska, dia masih tak percaya kalau dia jatuh cinta pada Jelmaan Setan Iblis itu. Dia tau jatuh cinta bukan hal yang mudah bagi Aska,
Cinta itu harus membuatmu bahagia, tenang dan selalu berbunga-bunga...
Bukan membuatmu tertekan, gelisah dan merana sepanjang waktu...
Takut kehilangan, Aska bahkan belum memilikinya....kenapa takut kehilangan.
Jika pun gadis seperti Utari itu pergi Aska berfikir pasti akan mendapat yang lebih baik, Utari hanya menang cantik....seksi....dan ngeselin.
Itu bukan tipenya...
Hari itu adalah hari pertama libur pertengahan tahun atau libur semester 1 di SMU tempat dia mengajar, tak banyak yang bisa dia lakukan jadi Aska berencana untuk mengikuti karya wisata yang di adakan oleh SMUnya yang akan berangkat besok pagi.
Suasana pagi itu tampak seperti pagi lainnya, selain Kang Soleh yang biasa pake kaus partai G.e.r.i.n.d.r.a kini pakai kaus oblong hitam biasa. Padahal dia ngaku nyoblos J.o.k.o.w.i di pemilu tapi hampir setiap hari pria setengah baya itu menegenakan kaus partai G.e.r.i.n.d.r.a. Berapa kaus partai G.e.r.i.n.d.r.a yang dia punya, pasti tak cuma satu.
Bubur satu mangkok dan kopi hitam yang dia buat sendiri sudah memenuhi ronga lambung Aska, kenyang. Rebahan di kosan adalah pilihannya kali ini, jika dia keluar dia takut bertemu Utari dan Varo yang sudah merencanakan mau nonton film di bioskop.
Film apa yang mereka tonton??
Film romantis!!!
Di bioskop mana.....
Oyyyy otak, berhenti mikir in mereka...mikir yang lain kenapa. Di kosan Aska tak ada TV atau bahkan remotnya, membuat lelaki itu berdiri dan mengambil laptopnya di atas meja.
Dia harus memgalihkan fikirannya ke jalan yang di ridhoi oleh Allah, dan film nuansa islami di pilihnya.
Ginian....bikin aku ingat sama Ratih....
Filmnya Harus yang bikin semangat hidup lagi,
.
.
.
.
Menurut kalian film apa yang cocok di tonton Aska???
Aku lagi males nyari😁
__ADS_1