Kencana Utari

Kencana Utari
Makan mie


__ADS_3

"Begitulah, manusia. Di saat ada yang berusaha keras untuk hidup, maka ada yang berusaha keras untuk mati!" kata Utari.


Utari membayangkan dirinya yang selalu ingin mati dan berburu rudal paling mematikan untuk bunuh diri ke negara yang sedang di landa perang. Entah berapa kali tubuhnya meledak, dia masih bisa bernafas lagi dan kembali utuh.


Langkah kaki jenjang Utari melangkah perlahan menuju jendela besar di ruangan mewah itu. Mata yang sudah hampir berkaca-kaca itu memandang ke luar ruangan dengan sedih.


"Seharusnya kau tetap menolak permintaanku!" kata lelaki tua itu.


"Sama sepertimu, aku dulu juga ingin merubah sesuatu tapi sepertinya tak ada yang bisa kita ubah!" kata Utari.


Air matanya kini menetes dari pelupuk matanya dan membasahi pipi meronanya.


"Utari, jangan sedih aku yakin yang maha kuasa pasti sudah menulis takdir baik untukmu!" kata lelaki tua itu.


Arwah pria itu mendekat ke pada Utari dan memeluk wanita cantik itu dari belakang.


"Aku akan menunggumu di sana!" kata pria tua itu.


Utari berbalik dan memeluk tubuh arwah lelaki tua itu dan gadis itu menagis sesegukan di pelukan lelaki tua itu.


Lelaki yang sudah memberi begitu banyak makna hidup untuk Utari, seorang yang pernah di segani semua manusia di bumi ini.


Perjuangannya, pengorbanannya untuk negaranya, dan siapa yang tau rahasia yang telah di sembunyikan pria tua itu dapat menohok hati Utari yang sekeras batu.


Berawal dari gadis kecil yang mencoba menyelamatkan kakaknya dari pernikahan paksa. Hinga sebuah nasib naas, gadis kecil itu bisa bertemu dengan Utari. Gadis kecil dengan permintaan ingin menjadi pemimpin di negrinya yang sedang perang, membuat gadis itu berubah menjadi seorang pria.


Karena di negrinya hanya pria yang boleh bersuara dan boleh berjuang, dan wanita di angap tak punya kekusasaan apa pun. Parmintaan yang tak tau akan mengubah seluruh hidup gadis kecil itu. Perubahan dirinya menjadi pria dan berujung menikahi kakaknya sendiri dan mengorbankan kedua orang yang paling dia sayangi itu untuk menghentikan perang di negaranya.


Tapi sampai sekarang perang tak bisa berhenti, tak akan berhenti dan tak mungkin berhenti. Mungkin.


Utari menutup buku kunonya dan melihat ke arah pria tua yang sudah di kerubuni dokter dan perawat, dengan berbagai cara mereka mencoba menolong pria tua itu. Tapi tak akan ada yang bisa menolongnya.


Utari masih terisak, karena tangisnya yang tak mau berhenti hampir seluruh make up tebal di wajahnya telah luntur.


"Kau kenapa?" tanya Aska.


Aska segera menghampiri gadisnya yang tengah sedih, yang tengah berjalan di lorong bangsal VIP itu.


"Aku lapar!" kata Utari, dia tak mungkin bilang jika dia menagis karena seorang pria tua.


"Baiklah kita makan setelah ini!" kata Aska.


Di dalam mobil Aska, tertawa lirih karena melihat Utari sedang menagis sesegukan sampai berteriak-teriak. Utari terlihat sangat berbeda dari biasanya. Citra wanita berkelas yang kuat dan tegarnya kini hilang sudah, berganti dengan wanita manis yang cengeng dan manja.

__ADS_1


Bekas tisu sudah berhamburan di setiap penjuru didalam mobil, wajah Utari menjadi bengkak tapi itu terlihat lucu di mata Aska.


"Kau mau makan apa?" tanya Aska, dia membelai rambut Utari yang berantakan.


"Apa kau bisa masak?" tanya Utari pada Aska, mata sembabnya memenatap ke arah lelaki di sampingnya.


"Mie instan!" kata Aska.


"Aku tak mungkin keluar dalam keadaan begini!" kata Utari.


Dia memang kacau, tapi dia masih terlihat manis dan cantik di mata Aska.


"Kalau begitu aku akan membeli mie instan di minimarket dan akan ku masak setelah kita sampai di rumah!" kata Aska, dia mengelus pelan kepala Utari dan kembali fokus dengan setir kemudinya.


Utari sedikit tertegun dengan perlakuan lembut dari Aska, Utari tapak memandangi wajah Aska secara seksama sambil memikirkan Salendra.


"Kau kenapa?" tanya Aska, Aska tau kalau Utari sedang mengamatinya.


"Aneh!" kata Utari, gadis itu mencibir ke arah Aska.


"Apanya yang aneh?" tanya Aska.


"Kamu!" jawab Utari.


"Kenapa kau jadi baik padaku?" tanya Utari bingung.


"Aku tak menyuruhmu mengelus kepalaku, hanya keluargaku yang boleh mengelus kepalaku !. Jika kau mengelus kepala ku lagi, akan ku pastikan kau kehilangan salah satu lenganmu!" bentak Utari.


Aska hanya menganguk, mendengar ancamaan dari Utari. Dia tau Utari suka di perlakuakan manis begitu, hanya dia tak mau mengakuinya saja.


.


Utari dan Aska sudah sampai di rumah keduanya masuk kedalam rumah tapi tak ada seorang hantu pun di rumah Utari.


"Kemana semua orang?" tanya Aska.


"Mereka akan pergi jika malam!" kata Utari.


"Kemana?" tanya Aska.


"Entahlah!" kata Utari, dia berjalan menaiki tangga dan di susul oleh Aska.


"Bukankah kau mau memasak?" tanya Utari, dia berbalik di tengah tangga untuk menegur Aska.

__ADS_1


"Aku takut,!" Aska membuat alasan.


"Ku rasa aku salah mengenalimu sebagai Salendra!" kata Utari ketus.


Aska hanya diam saja, dia baru saja berharap. Jika dia bukan Salendra, apa dia punya jodoh meski dengan orang lain, bukan Utari. Tapi ini adalah keinginannya bertemu lagi dengan kekasihnya dulu.


Selesai Utari mandi mereka pergi ke dapur dan memasak mie bersama. Utari tampak hanya berdiri dan memandangi Aska yang sibuk menyiapkan semua sendiri.


"Kau suka sayur kan!" kata Aska, Utari hanya menganguk dengan wajah sumringah.


"Kau tak terlalu suka pedas!" kata Aska, dia selalu memandang Utari dengan senyuman di sela proses masaknya.


"Kau suka telur yang hancur atau telur yang utuh?" tanya Aska.


"Utuh!" kata Utari.


Aska pun memasukkan telur di akhir dan menghampiri Utari yang berdiri tak jauh darinya. Piyama tidur tipis dengan kimono panjang transparan yang mengelayut indah di tubuh Utari. Wajah polos tanpa polesan make up yang sangat di sukai Aska, membuat jantung Aska berdegup tak karuan.


"Bagaimana kalau aku tingal di sini saja, saat malam kau akan sendirian dan kesepian!" kata Aska.


"Jika aku bosan aku juga pergi!" kata Utari.


"Kemana?" tanya Aska.


"Ke tampat teman, atau minum sampai mabuk!" kata Utari.


"Kau minum alkohol?" tanya Aska kaget.


"Hanya itu yang membuatku sejenak melupakan dunia ini!" desah Utari.


"Jangan minum lagi!" kata Aska.


"Mie mu matang tuh!" kata Utari sambil menunjuk arah kompor dengan dagunya.


"Kau bisa menata piring di meja!" kata Aska.


Utari mengambil piring dan gelas serta sendok garpu dan membawanya ke meja makan, gadis itu langsung duduk dan dengan antusias memandang mie instan buatan Aska yang baru saja di letakkan di depannya.


"Mana punyaku?" tanya Aska, belum ada piring di mejanya.


"Ambil sendiri!" kata Utari, gadis manis itu sudah mengambil mienya dari dalam panci.


Aska tampak ingin marah, tapi saat melihat keimutan Utari ketika makan mie yang masih panas dia segera diam.

__ADS_1


"Ku rasa aku bisa langsung kenyang ketika melihatmu makan!" kata Aska.


Utari dengan mulut penuhnya pun berkata "Jangan makan kalau begitu!" Utari tanpa peduli dengan pandangan Aska padanya terus saja menyuapkan mie panas itu ke dalam mulutnya.


__ADS_2