Kencana Utari

Kencana Utari
Duel dengan siluman setengah dewa


__ADS_3

Sebuah gua yang cukup besar di dasar tebing yang tak mungkin di jamah manusia. Utari dan Kanaya berdiri tegak di depan mulut gua setinggi 4 meter itu tanpa rasa takut, mereka berdua merasakan aura aneh di dalam gua itu. Utari yang masih di mode sihirnya bisa melihat apa yang terjadi di dalam gua tersebut.


Angin mulai berhembus tak tenang, awan-awan hitam mulai bermunculan tepat di atas berdirinya dua wanita itu. Mahluk di dalam sana tau akan kemunculan penjaga pohon kehidupan.


Tak seperti tebakan Utari, ular Sembring yang menurut legenda sangat menyeramkan dan menjijikan itu keluar dari goa dengan penampilan yang berbeda.


Dari dalam gua berjalan seorang lelaki tampan berambut hitam yang panjang dengan mengenakan pakaian kerajaan jaman dahulu yang juga berwarna serba hitam. Lelaki tampan itu tersenyum ke arah Utari dan Kanaya yang ternyata bersembunyi di belakang pungung Utari.


"Kembalilah ke neraka!" kata Utari.


"Jika aku tidak mau!" kata pria itu,


Samar-samar Utari mendengar suara para manusia yang berteriak minta tolong dari dalam gua. Tentu saja suara-suara itu tak bisa di dengar oleh manusia biasa.


"Maka aku akan membunuhmu!" kata Utari, tubuhnya sudah di selimuti aura biru yang membuat angin semakin bertiup kencang tak beraturan. Kanaya yang tau seperti apa kekuatan Utari di Mode ini segera mundur untuk menghindari malapetaka yang mungkin tak sengaja menyambarnya.


Pedang Es sudah di tangan Utari dia mengengam gagangnya dengan sangat erat, pedang Es yang mempunyai nyawa yang bisa menyerang musuh sendiri bahkan tanpa di kendalikan empunya.


Pedang peningalan ayahnya yang berhasil Utari rebut meski dia harus membunuh Maha Patih Jatmiko yang merupakan ayah Salendra. Jatmiko otak dan dalang pembantaian keluarga Utari 900 tahun yang lalu.


Lelaki jelmaan ular Sembring itu juga tengah mengeluarkan kekuatannya yang berelemen api karena asal ular itu dari neraka. Cuaca sekitaran gunung Larasan seketika menjadi buruk seperti akan terjadi bencana yang amat besar.


Dua mahluk berkekuatan Dewa tapi beda energi itu sudah bersiap untuk menyerang satu sama lain. Keduanya saling melayang di udara untuk beradu pedang beda ukuran mereka di atas angin yang berputar mengelilingi tempat itu. Gemuruh dan petir mengelegar mengikuti hantaman-hantaman senjata langit yang di gunakan keduanya.


Kekuatan penjaga pohon kehidupan bukanlah tandingan mahluk yang berkekuatan rendah seperti ular Sembring yang berada di level yang sama dengan Kanaya meski ular ini sudah hidup lama dan berkultifasi menjadi siluman setengah dewa.

__ADS_1


Tubuh lelaki itu terbang menghantam tebing terjal karena hantaman pukulan Es yang berhasil Utari tapakkan di dada bidang jelmaan ular sembring itu saat lelaki itu lengah dan fokus menyerang Utari. Tubuh kekar yang di balut pakaian kuno itu terjatuh ke tanah setelah menghantam dinding tebing batu, dan Utari dengan santainya mendaratkan lagi tubuhnya ke atas tanah.


Wajah dingin Utari masih menatap lelaki yang berusaha untuk berdiri itu, Utari tau jika lelaki itu sudah terluka cukup parah jadi dia berhenti menyerang untuk memberi lawannya itu kesempatan untuk bernafas.


"Kau bisa kembali sekarang!" kata Utari dengan angkuhnya.


"Aku tak akan kembali sebelum membunuh semua manusia di bumi ini!" teriak lelaki jelamaan ular Sembring itu, dengan sisa kekuatannya lelaki itu merubah wujutnya menjadi seekor ular.


Sementara Kanaya hanya melihat pertarungan dua mahluk beda jenis itu sambil berselfi ria di hutan yang tampak aestetik jika Kanaya mengupload fotonya di Instagram untuk mengaet mangsanya.


Utari hanya mendengus kesal atas jawaban lelaki yang tak mau menerima pengampunannya. Karena lelaki itu sudah berubah menjadi ular bersayap dengan nafas bau dan juga kekuatan menghisap roh yang memang menjadi kekuatan dasar mahluk menjijikan dengan air liur yang selalu menetes dari mulut lebarnya.


"Aku tak tahan bau nafasmu....keparat!" desah Utari yang mengeluarkan masker dari saku jaket kulitnya untuk meneutupi hidungnya yang sensitif.


Pertarungan kembali di mulai ular bersayap berwarna hitam yang mengeluarkan semburat warna merah di sekujur tubuhnya karena di dalam tubuh ular itu berisi api neraka.


Setelah waktu berhenti Utari menancapkan pedangnya tepat di dada ular yang sedang terbang itu, dan menjalankan lagi waktu. Seketika perut ular itu terbelah dan isinya yang berupa api neraka berhamburan keluar dan memenuhi seluruh area gunung Larasan itu.


"Upssss, Sorry!" pekik Utari karena dia tak memperhitungkan akan terjadi hujan api begini.


Kepala ular itu terkulai dengan nafas baunya yang beberapa kali berhenbus dan kepala menjijikan itu ikut terbakar menjadi karena kematiannya. Roh yang berupa ular hitam yang bersayap melayang di udara, Buku Kono sudah terbuka di tangan Utari dan menyerap roh itu sebelum jauh melayang ke langit.


Untuk mencegah terjadi kebakaran hutan Utari menghentikan angin yang berhenbus kencang dengan kekuatan sihirnya lalu menurunkan hujan.


Kanaya yang entah kenapa berpenampilan gosong dan penuh luka bakar di sekujur tubuhnya mendekati Utari, penampilan Kanaya yang acak-acakan keluar dari tempat persembunyiannya tapi bisa di lihat sepatu Chanel yang dia pakai di kakinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Utari dengan wajah tanpa rasa bersalah.


"Kakak membakarku!" kata Kanaya yang sedang menahan marah.


"Siapa, aku lagi sibuk perang lho!" pembelaan Utari yang tak ada faedahnya sama sekali.


"Kakak sengaja mengarahkan isi perut ular bodoh itu ke arah ku kan?" teriakan Kanaya memecah suasana hujan sore itu.


"Tentu saja tidak, mari kita selamatkan orang yang masih hidup!" ajak Utari.


Utari sudah berjalan ke arah goa di ikuti langkah kesal Kanaya yang sekujur tubuhnya gosong terbakar, tapi segera tubuh itu beregenerasi dengan cepat karena perjanjian Kanaya yang di buatnya dengan Utari. Perjanjian yang membuat Kanaya menjadi siluman abadi jika mengorbankan jiwa suami-suaminya pada pohon kehidupan.


Keadaan di dalam goa juga tak kalah memilukan dengan ke adaan Kanaya, beberapa tubuh manusia yang sudah menjadi mayat terhisap energinya sampai kering dan itu pasti ulah ular Sembing itu


Setelah menghapus ingatan para orang-orang yang selamat tentang kejadian di gunung, Utari melepaskan mereka semua untuk pulang ke tempat masing-masing.


Utari masih melihati butiran air hujan yang turun dari langit karena kekuatannya, dia memandang lega pada orang-orang yang dia selamatkan dari ular Sembring. Kanaya yang setia di dekat Utari sudah mulai pulih tapi bajunya terbakar di sana-sini. Dengan gesit Utari mengambil ponsel di saku celananya dan memotret Kanaya yang dalam ke adaan sangat berantakkan itu.


"Kakak apa yang kakak lakukan?" tanya Kanaya marah, tentu saja karena Kanaya tau Utari baru saja memotret Kanaya dalam ke adaan mengerikan seperti ini.


"Untuk memperbudakmu tentu saja!" jawab Utari.


"Kakak, ....!" bentak Kanaya


"ayo kita pulang!"

__ADS_1


Kanaya tak mungkin menolak ajakan Utari meski dia sedang marah pada Utari, karena dia tak punya mobil apa lagi akses untuk bisa naik pesawat untuk pulang.



__ADS_2