
Bodoh...
Utari dan Praja menumpang kapal besar yang terbuat dari kayu itu sampai ke pelabuhan pulauTerbesar. Niat Praja untuk kembali ke gunung Lelembut juga sirna karena Praja takut untuk bertapa di gua Singo Puteh yang sangat dingin menurut pengalaman Utari.
Perpisahan harus terjadi di setiap pertemuan, entah perpisahan untuk bertemu lagi atau perpisahan yang Abadi. Begitu pula pertemuan Utari dan Praja yang bukan pertemuan berencana, Utari dan Praja berpisah di persimpangan Kerajaan mereka.
"Aku tau kau orang mendiang Putra Mahkota Sri Kencana Kusuma!" kata Praja sebelum perpisahan dua orang yang kini telah melebel diri menjadi teman itu.
"Aku sarankan jangan sampai terlihat dan berhati-hatilah, semua orang di Wanara yang setia pada mendiang Putra Mahkota Sri Kencana Kusuma telah di bunuh!" perkataan Praja itu di iringi dengan lambaian jemari kasarnya yang mengapung di udara, Utari sempat tertegun akan pesan teman barunya itu.
Benarkah terjadi sesuatu yang buruk pada keluarganya di Wanara.....
Sesuai rencana Utari sampai di Wanara masih pagi petang, gadis tanpa rasa lelah itu sedang mengendap-endap di depan bangunan Istana Margo Molyo. Istana khusus untuk tempat tingal keluarga Putra Mahkota. Tak sulit bagi Utari yang sudah menguasai dua elemen dasar kanuragan dan juga satu elemen kombinasi yang sangat sulit untuk di kuasai para Pendekar ,untuk sekedar masuk ke dalam bangunan Istana yang megah dan luas itu.
Kamar Utama yang biasa di huni oleh ayah dan ibunya menjadi tujuan utama Utari subuh itu, Utari si anak pembangkang ingin memberi kejutan untuk kedua orang tuanya yang masih pulas tertidur.
Suasana kamar masih sama seperti saat Utari tingalkan. Pedang koleksi ayahnya yang masih tertata rapi di pojok ruangan dekat jendela yang baru saja Utari terobos. Buku-buku kuno yang tertata rapi di rak yang berada di ujung pandangan Utari.
Mata bulat itu memandang ke arah ranjang yang masih tertutup selambu putih, semua perkataan Praja kembali terngiang di renung Utari. Gadis belia itu memberanikan diri mendekati ranjang tidur kedua orang tuanya, meski dia tau dia akan terkena amukan dan mungkin hukuman. Tapi rasa penasaran di hatinya tak kalah menyeramkan.
Seseorang tertidur di sana dan itu bukan Ayah atau Ibu Utari tapi.....
Salendra....
.
.
__ADS_1
.
.
Sekarang...
Cuaca sedang tak bersahabat pagi itu, rupanya gerimis dari sore kemarin belum mau berhenti. Aska yang sudah siap untuk berangkat mengajar harus mencari payung di sela-sela ronga almari baju yang hampir mepet ke dinding.
Tangan Aska sudah berhasil meraih gagang payung biru berlogo Bank Rakyat Indonesia. Akhir-akhir ini pria penyabar yang lembut itu sering merasa kesal, karena di suruh putus dari kekasih hatinya Ratih atau karena Utari yang tiba-tiba muncul dan selalu merusak harinya.
Keduanya, kedua hal itu membuat Aska seperti menjual kesabarannya yang tak ada batasnya itu entah kemana. Sudah seperti emak-emak yang punya lima anak, setiap hal jadi di gerutui oleh Aska.
Bahkan payung hadiah dia buka rekening untuk menampung gaji menjadi gurunya itu pun juga mendapat dakwahan dari Aska pagi ini.
"Ada payung juga warnanya biru....kenapa dulu aku buka rekening di sana....padahal di sebelahnya ada bank lain!" warna biru mengingatkan Aska pada Utari yang selalu membuat pria tinggi nan atletis itu gampang Kesal.
Aska berjalan santai di tengah hujan karena dia memang tak punya kelas pagi, tapi Aska yang pecinta kedislipinan itu, tak mau terlambat dan membuat muritnya menirunya.
"Mas kalau begitu kita putus saja!" kata Ratih di depan bapaknya sore itu.
"Tapi Rat....!" ucap Aska tapi di potong oleh Ayah Ratih.
"Nak Aska, jangan membuat dosa dengan putri kami....jika kau tak mau taaruf dengan Ratih, maka dengan segala hormat keluarga kami....kami mohon jauhi Ratih!" itu putusan akhir Ayah Ratih yang langsung pergi meningalkan Aska tentu saja setelah mengucapkan salam.
"Maaf mas, tapi sebaiknya kita berpisah saja....Utari juga bilang bahwa kita tak di takdirkan bersama, aku merasa Utari.....gadis itu bisa melihat hal yang tak di bisa di lihat manusia biasa lain!" kalimat panjang itu akhir dari perbincangan sore itu.
Aska masih berdiri di sana, dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Bagaimana pun juga dia harus membuat keputusan pada akhirnya. Keputusan yang di buat Ratih untuk mereka juga bukan hal buruk, karena menurut Aska omongan Utari tentang tak jodohnya Aska dan Ratih hanya bualan. Dan waktu yang akan menampar mulut Utari nantinya, Aska sangat yakin Ratih adalah jodohnya.
Aska kembali melanjutkan langkah kakinya memenuhi pangilan jiwanya untuk mengabdi pada negaranya, mencerdaskan anak bangsa katanya.
Muritku akan tertawa jika tau bagaimana gurunya bisa selemah ini hanya karena menghadapi dua orang wanita....bukan dua orang tapi satu orang dan satu ekor.
Tawa Aska pecah di bawah payung biru itu....kata-kata ekor di narasinya membuatnya membayangkan Utari yang ternyata siluman tikus atau kelinci yang mempunyai ekor yang imut.
Aku pasti sudah gila...
Angkot jurusan ke sekolah tempat mengajar Aska pun lewat dan pria berbaju batik yang rapi dan tampan itu naik ke dalam angkot yang hanya berisi satu orang wanita paruh baya yang tampak mengunakan seragam PNS.
Kedua orang tak saling kenal itu hanya tersenyum dan mengangukkan kepala mereka untuk menunjukan rasa hormat masing-masing.
Lokasi sekolah elite di mana Aska mengajar memang merupakan kawasan yang jarang di lewati orang, kawasan elite yang tak semua orang bisa masuk secara sembarangan.
Sopir angkot pun hanya bisa mengantar Aska di depan pintu masuk kawasan itu, dan untuk masuk ke dalam sekolah itu Aska harus menunggu mobil Varo yang tak lama lagi akan sampai di tempatnya berdiri.
"Montor buntut kakak rusak lagi?" pertanyaan pertama Varo mengiringi tertempelnya bokong Aska ke jok kulit di samping adiknya yang juga duduk dengan wajah antusias.
"Ayah kan udah ngijinin kakak balik....betah baget di gang kumuh itu!" pertanyaan ke dua Varo yang sukses memancing kepalan di tangan kanan Aska.
"Kak...kenapa...!"
"Bisa diem ngak sih loe...kakak lagi pusing banget!" kata Aska geram.
"Minum obat kak!" jawaban Varo benar tapi membuat Aska semakin geram.
__ADS_1
Akhirnya mobil sedan mewah berwarna hitam itu berhenti di depan gedung yang sangat luar biasa, karena lebih mirip karya Arsitektur di bandingkan sekolahan karena desainnya yang di buat oleh orang Italia langsung jadi ada nuansa eropa di beberapa ruangan kelas.