
Di sebuah istana yang sangat megah bernuansa gelap yang mencekam, desahan seorang wanita dan lelaki bergema memenuhi ruangan bebatuan yang di hias indah menjadi kamar lengkap dengan kasur yang empuk dan sangat nyaman.
Kanaya sedang memadu kasih dengan suami kesayangannya Jelio, pria berkebangsaan Italia itu seperti tak punya rasa lelah untuk memuaskan hasrat Kanaya yang semakin hari semakin mengebu saja.
Tubuh sintal nan seksi Kanaya bergetar hebat tak kala mencapai puncak birahinya, tubuh indah yang tak sehelai kain pun menutupinya sedang mencapai klimaks. Sepasang kekasih itu masih melanjutkan aktifitas dewasanya bahkan setelah berkali-kali mencapai klimaksnya dengan berbagai posisi tentunya.
Tanpa mereka sadar ada sepasang mata yang menyaksikan persetubuhan mereka dengan wajah malasnya, Kencana Utari, dengan masih mengenakan gaun merah di atas lutut dan jaket kulit serta sepatu buts kulit yang senada dengan jaketnya. Beberapa perhiasan berlian yang mahal juga turut meramaikan penampilan Utari yang selalu paripurna.
Utari hanya menghela nafas panjang dan duduk di salah satu kursi kuno di sana, pemandangan mesum di depannya membuat fikirannya menerawang ke aktifitas yang di lakukan Kanaya dengan suaminya Jelio. Di atas ranjang yang hanya di halangi sehelai kain kelambu hitam yang membuat suasana panas persetubuhan siluman dan manusia itu semakin membara. Tapi terawangan XXX di otak Utari bukan Kanaya dan Jelio tapi dirinya dan Aska.
Seperti apa bentuk tubuh pria itu jika tanpa pakaian sehelai pun, bagaimana rasanya sentuhan romantis yang akan di berikan Aska pada tubuh Utari yang sudah di bawah tubuh telanjang Aska.
"Kau harus kembali!" kata Salendra 900 tahun yang lalu.
"Kenapa kau sangat cemas kalau aku tak kembali?" tanya Utari, dia masih di kamarnya untuk mempersiapkan diri menjalani Topo Sukmo selama setahun penuh.
"Setelah kau pulang dari Topo Sukmomu bagaimana kalau kita menikah?" kata Salendra.
Utari menatap mata Salendra dengan penuh pertanyaan, dia tak menyangka sahabatnya ini akan melamar dengan cara sesederhana itu.
"Apa kau sedang bercanda?" tanya Utari yang masih dalam kebingungan.
Salendra dengan berani mendekat ke tubuh Kanjeng Ndoro Putri Kencana Utari, lelaki gagah yang berpakaian seragam Senopati itu mendekap tubuh langsing Utari dengan satu tangannya yang sangat kekar. Utari hanya diam, dia terdiam karena menikahi Salendra juga sudah menjadi rencana keluarganya agar Utari dapat naik tahta ketika kakaknya Tara tak tertarik menjadi Putra Mahkota setelah ayahnya menduduki kursi Kekaisaran nanti.
Tangan kekar dan kuat itu dengan lembut membelai wajah Utari yang masih diam dengan pandangan ke arah wajah Salendra yang semakin rupawan di mata Utari, perlahan tapi pasti Salendra mendekatkan wajahnya ke arah wajah Utari dan kecupan-kecupan mesra dan lembut Salendra berubah menjadi kecupan buas yang penuh nafsu.
__ADS_1
"Kenapa aku bahkan tak bisa membayangkan hal yang romantis dengan pria lain setelah 900 tahun!" desah Utari.
"Apa kau mau mencoba dengan salah satu suamiku?" tanya Kanaya yang sedang berjalan perlahan ke arah Utari, wanita ular itu tanpa rasa malu hanya menutupi tubuh telanjangnya yang seksi dengan sehelai kain hitam panjang yang mengelantung asal di bahunya.
Rupanya siluman ular yang di kenal dengan sebutan Nyai Blorong oleh masyarakat negara ini sudah selesai melakukan ritual cintanya dengan Jelio.
"Jangan memancing emosiku Kanaya, atau akan ku porak-porandakan istanamu yang mirip galian tikus ini!" ancam Utari, dia masih menerawang melihat ke arah ranjang yang di gunakan Kanaya dan Jelio.
Tentu saja arwah Jelio sudah di kirim kembali ke alamnya karena ritual pesugihan yang menjijikan Kanaya hanya di lakukan oleh sukma manusia yang sudah terikat kontrak dengan Kanaya.
"Maaf, tapi apa kakak masih punya nafsu semacam itu?" hal yang di tanyakan Kanaya membuat Utari berfikir lagi. Selama 900 tahun lebih hidupnya, dia hanya mendapat dua tindakan romantis dan bisa di bilang oleh pria yang sama.
"Aku juga tidak tau!" kata Utari.
"Kakak bersenang-senanglah, hubungan badan dengan manusia itu sangat menyenangkan!" kata Kanaya dengan nada desahan yang sangat seksi.
Kanaya segera lari dari ruangan itu untuk menghindari amukan Utari yang lebih menyeramkan dari Nyai Ratu Retno kalau sudah emosi karena tersingung.
.
.
.
.
__ADS_1
Gunung yang dulunya ramai dengan aktifitas pertanian kini sepi. Angin sepoy-sepoy yang mengoyangkan dedaunan di pohon-pohon yang menjulang tinggi juga bergema sangat menyeramkan.
Apa pun entah itu tempat terbuka atau bangunan yang di duduki oleh mahluk gaib akan tampak menyeramkan dan cenderung beraura gelap yang menakutkan di mata manusia biasa. Manusia juga bisa merasakan hal semacam itu tanpa harus punya Indra ke enam.
Gunung Larasan tempat tingal siluman ular Sembring yang amat di takuti manusia.
Ular Sembring di gunung itu adalah mahluk iblis yang berhasil kabur dari neraka, dan Utari sebagai penjaga pohon kehidupan mempunyai tugas lain selain mengumpulkan jiwa manusia yang tamak. Tugas lain Utari adalah menjaga kesetabilan bumi, dan Ular Sembring di gunung Larasan ini sudah amat meresahkan warga sekitar dan juga penduduk kayangan.
Utari dan Kanaya memutuskan mengunakan angkutan umum yaitu pesawat terbang dan mengendarai mobil dari bandara ke lokasi gunung yang berada jauh dari pusat kota.
Utari dan Kanaya harus menghemat tenaga mereka, meski seorang penjaga Utari hanya di anugrahi sihir manipulasi untuk menjalankan tugasnya tanpa di ketahui manusia dan juga tak bisa mati tapi masih bisa terluka seperti manusia biasa meski Regenerasi nya sangat cepat.
Utari bisa merasakan rasa sakit dari lukanya, tapi separah apa pun lukanya tak bisa membuat gadis itu mati.
Itu bukan Angugrah....tapi Hukuman.
Cuaca cerah tapi udara sangat dingin khas udara pegunungan.
Bersih dan menyegarkan, tapi jika tak dalam kondisi yang bagus tentu saja bisa flu.
Beberapa penduduk desa yang lalu lalang di jalan utama desa itu tampak sangat antusias melihat penampilan Utari dan Kanaya yang baru saja keluar dari mobil Ferrari merah yang berpintu Up, bak dua model papan atas yang sedang menjalani pemotretan alam pedesaan.
Utari dengan jaket kulit merah yang pas di badannya dan celana leging hitam di padukan buts hitam yang menambah aura drak meski makeup nya bergaya satin, rambut hitam panjang yang indah dia kucir kuda agar tak mengangu saat bertarung dengan ular Sembring nanti.
Kanaya yang tak kalah keren dengan balutan mantel berbulu hitam yang elegan dengan kaus hitam panjang ketat dan juga leging yang menutupi kaki jejangnya di lengkapi sepatu kets chanel hitam yang akan dia tangisi kalau sampai rusak nanti.
__ADS_1
Utari yang tak suka membuang waktu langsung mengunakan sihirnya untuk melacak keberadaan ular bersayap itu, matanya yang membiru membuat aura di sekitar dia berpijak semakin dingin. Seketika Utari dan Kanaya menghilang dari tempat itu, tentu saja tanpa sepengetahuan warga sekitar yang langsung lupa akan keberadaan dua orang model cantik di dekat mobil Ferrari merah yang terparkir di jalan utama desa terdekat dengan gunung Larasan.