Kencana Utari

Kencana Utari
Cemburu


__ADS_3

"Nanti malam pulang ya kakak, Ayah katanya mau diskusi sama kakak!" ucap Varo seraya melengang menjauhi kakaknya yang masih berdiri tegak di samping mobil sedan mewah yang mengantar mereka berdua.


Letak ruangan kelas dan ruangan kantor kedua kakak adik itu memang bertentangan arah.


Gusar, marah, sedih, khawatir, pilu, bahagia, semua emosi itu tertekan di dada pria setinggi 178 CM yang tengah berjalan santai menuju ruangan kantor tempat dia berkerja.


Pria jangkung yang memasuki area kantor guru honor itu bahkan tak tau apa yang sedang dia fikirkan saat ini, hati dan otaknya seakan sedang gelut di dalam sana untuk menentukan posisi sebagai pemenang.


Otaknya apa hatinya, pemenangnya masih sulit di tentukan.


Memilih....memang Aska punya pilihan....


Tidak....Aska tak punya jabatan di takdirnya untuk mendapat pilihan....


Lelaki yang di bilang pintar itu sekarang hanya bisa melihat dan menahan emosi, Persis seperti sedang nonton sinetron pelakor di TV.


Dia yang kuat terlihat secara fisik itu langsung lemah ketika memikirkan apa yang sedang terjadi di hidupnya.


"Percaya sama Allah mas, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk orang yang mau berikhtiar!" itu perkataan Ratih yang pernah membuat Aska terpesona pada gadis lembut itu dan mempercayai adanya Allah kala itu.


Apa sekarang dia tak percaya Allah...


Jawabnya....Entahlah.


Jalan mulus melengang di depannya kini semakin buram...


Pekerjaan guru di International School yang Elite, pacar yang lembut dan taat agama serta cantik....


Pernikahan dengan Ratih yang sudah dia akan setujui malah dia tolak karena kehadiran wanita Iblis bernama Utari.


Runyam....


Tapi kenapa hal itu tak bisa di hindari...


Takdir...


Kampret....


Memilukan.....


.


.


Tuing tuing...


Aska meraih hp di saku kemejanya, pandangan malas Aska menatap teks SMS yang di kirim Utari.


"Setan Iblis!" Aska mendesah Kesal, tapi lagi-lagi perasaan mengebu itu membuat Aska beranjak dari kursi empuknya dan berjalan cepat menuju tempat yang tertulis di chat yang di kirim Utari.


Pintu gerbang sekolah.

__ADS_1


Entah harus di sebut apa wanita bergaun oranye yang meriah itu dengan belt hitam yang melingkar di pingang kecilnya. Meski mengunakan gaun selutut Utari memadukan outfit feminim itu dengan sepatu buts hitam seengkel dan kacamata hitam bertenger di atas hidung mancungnya yang runcing.


Dia sangat cantik...


"Apa?" Aska segera mengeluarkan nada tinggi di intro pertemuan pertama mereka di pagi yang sudah mulai cerah, karena hujan gerimis berhenti saat Aska turun dari angkot beberapa menit yang lalu.


"Dapatkan mobil itu!"


Tuing-tuing


Aska mengeser layar hpnya dan melihat apa yang di kirim Utari melalui SMS itu.


"Lamborghini Urus warna kuning yang menyala sempurna?" kata Aska yang persis membaca pesan teks dari Utari.


"Dan nomor hp Vero!" pinta Utari.


"Tak semudah itu Ferguso,!" kata Aska.


"Kalau begitu aku akan ke dalam untuk meminta sendiri!" Utari sudah mengangkat pungungnya dari badan mobil sport Porsche Boxster 718 biru yang sedang dalam ke adaan atapnya yang terbuka.


"Jangan, akan ku berikan!" lagi-lagi Aska mengalah dari jelmaan setan iblis Utari.


"Kau mau apa dengan adikku, pake minta no hpnya segala?" tanya Aska kepo.


"Manusia menyebutnya dengan Pacaran!" kata Utari.


Aska hanya bisa menganga mendengar jawaban Utari, apa yang akan di lakukan *s*iluman kadal ini pada adik tercintanya.


"Tidak asik..... manusia lain pacaran dulu baru menikah, katanya s.e.x waktu masih pacaran dan menikah juga punya rasa yang berbeda!" penjelasan Utari seketika membuat Aska terdiam.


Aska tak memyangka kata-kata tak senonoh itu dia dengar di pagi hari yang indah ini, dari gadis yang tampak masih berusia 17 tahun itu dan adiknya sendiri yang akan menjadi obyek ke tidak senonohan itu.


"Kalian harus menikah dulu, baru melakukan hal itu!" bentak Aska,


"Itu terserah aku!" jawab Utari.


"Mana nomor hp Varo!" Utari kembali menagih janji Aska yang belum lama dia ucapkan.


"Catet!"


Utari langsung menempelkan Hpnya di telinganya yang di hiasi anting panjang dari bagian lobule sampai bagian helix, entah berapa anting yang dia gunakan sehinga menyilaukan mata Aska.


Dia langsung menelfon Varo.


"Aku di depan pagar sekolahmu, apa kau bisa keluar!" itu kata-kata Utari, Aska hanya diam membeku di samping tubuh Utari yang hanya setinggi dagunya itu.


Perasaan apa ini...


Apa aku sedang merasa cemburu...


Pada jelmaan setan iblis ini....

__ADS_1


"Baiklah aku akan menunggumu!" kata Utari, pertanda Varo pasti sedang meluncur ke tempat itu.


Varo bahkan tanpa meminta ijin dari guru langsung ngeloyor lari kabur dari dalam kelas untuk menemui wanita yang membuatnya gila sepanjang waktu itu.


Pria yang masih di usia puber itu tak peduli akan teriakan guru yang memangil namanya, menanyakan alasannya akan telefon yang baru saja dia angkat. Apa lagi pandangan aneh dari seluruh teman sekelasnya yang sudah di angap siswa pria terkeren di SMU itu seperti butiran biji jagung.


Dari lantai dua Varo berlari ke lantai satu menuruni tangga yang sepi, dan menyeberangi hamparan tanah lapangan sepak bola.


Varo mulai mengerutu...masih sambil berlari.


Siapa yang punya ide membangun lapangan di tengah gedung sekolah ini....


Tapi kelegaan terengut kembali saat Varo melihat Utari berdiri di pintu pagar sekolahnya sedang melambai mesra ke arahnya.


Cintaku....tunggu aku.


Aska sudah tak terlihat saat Varo berlari ngiprit melewati lapangan bola kaki yang luas itu ke arah Utari, karena Aska bersembunyi di balik mobil Utari.


"Kenapa kau berlari ke sini?" tanya Utari, dengan nada lembut yang membuat Aska mencibir dalam diam dari tempat persembunyiannya.


"Aku tak suka kau menunggu lama!" jawab Varo yang menata sengalan nafasnya yang kalang kabut karena berlari dan juga gugup karena bertemu dengan Utari sudah di dambakannya sejak lama.


"Aku ada sesuatu untukmu!" kata Utari yang mendekat ke mobilnya dan mengambil sebuah peper bag dari kursi penumpangnya.


"Apa ini!" tanya Varo penasaran.


"Sepatu, aku juga punya yang sama....ku dengar banyak pasangan yang memakai sepatu yang sama akhir-akhir ini jadi aku membeli untuk kita!" bahasa Utari yang kuno dan kaku pun tak di hiraukan oleh Varo, dia malah menyesuaikan bahasa nya dia ucapkan seperti bahasa yang di gunakan Utari.


"Pasangan!" kata Varo kaget tapi bahagia.


"Kau tak lupa kan, kalau kita sudah di jodohkan?" tanya Utari dengan wajah galaknya.


"Engak....aku ngak akan lupa!" kebahagiaan Varo mungkin telah di awang-awang sekarang.


"Masuk gih!" suruh Utari, meski tak pernah mengenyam pendidikan sekolah formal Utari tau kalau di pagi hari seperti ini siswa akan sibuk belajar.


Varo berjalan mundur sambil melambaikan kedua tangannya, dia memasang wajah paling imutnya agar Utari selalu ingat pada Varo. Dan oknum yang bersembunyi di balik mobil sedang menata ekspresi wajahnya.


Aska masih bisa melihat senyuman bahagia dari wajah Utari yang melambai ke arah Varo yang pasti sudah di ujung lapangan di sisi lain.


Dek....dek....dek....dek


Jantungku mempercepat lajunya....


Untuk apa dia mempercepat lajunya...


Mau pergi ke mana gerangan jantungku ini....


Tentu saja dia pergi ke pemiliknya...


__ADS_1


__ADS_2