Kencana Utari

Kencana Utari
Penghianat


__ADS_3

Aska hanya bisa melihat kebahagiaan di wajah Utari, senyum bahagia yang membuatnya menderita.


Pada Akhirnya Aska sadar bahwa kelakuan kasar Utari lebih membuatnya senang, ketimbang kelakuan baik gadis itu. Apa lagi kelakuan baik Utari untuk orang lain.


Pertama kali bagi bola mata Aska, melihat Utari mengalah pada orang lain. Mobil kuning yang Utari idamkan, dia relakan untuk pria aneh yang dia temui di pameran tadi.


Aska sedang mengemudi mobil Utari sore ini, untuk meningalkan Arkana Tower. Utari duduk di sebelahnya dan hanya tersenyum sambil mensekrol naik turun larar ponselnya.


Siapa lelaki tadi...


Kenapa kau langsung memeluknya....


Ingin sekali Aska menanyakan hal itu pada Utari, tapi lagi-lagi gengsi pria yang sekarang hanya memakai kaus oblong hitam itu lebih tinggi. Dia masih belum mau mengakui perasaan yang dia miliki untuk Utari, Pria itu masih mengklaim bahwa perasaan tertariknya pada si Jelmaan Setan Iblis bukan lah miliknya tapi milik Salendra.


.


.


.


.


900 tahun yang lalu


Utari menyingkap kelambu putih itu, dia hanya pasrah saat pria yang tidur di ranjang ayahnya itu bergerak refleks menarik tubuh rampingnya secara kasar ke atas kasur.


Sebilah belati sudah hampir menancap di lehernya, pria yang adalah sahabatnya, atau mungkin kekasihnya itu sudah berada di atas tubuh Utari yang melemah.


Pandangan mereka beradu, saling mendelik tajam. Pancaran emosi dari sorotan mata keduanya menghantam keras sampai ke renung dada masing-masing.


Belum ada sepatah kata pun yang terucap, hanya pandangan kebingungan yang tersirat di wajah keduanya.


tok...tok....tok...


"Ndoro Ageng....sudah bangun?" Salendra menekikkan pandangannya ke arah pintu, kebiasaannya yang selalu bangun sebelum fajar menyingsing sudah di hafal oleh para pengawalnya.


"Hari ini aku akan tidur lebih lama...Soman!" kata Salendra dengan nada parau yang berat khas orang-orang yang baru bagun tidur.

__ADS_1


"Baik Ndoro Ageng!" jawab pengawal itu.


Terdengar derap langkah samar-samar menjauh dari pintu kamar Salendra, pertanda pengawal itu sudah pergi.


"Ndoro Ageng Putra Mahkota!" desah Utari dengan cibiran, mata keduanya kembali bertautan. Salendra menarik belatinya dari leher wanita yang sangat dia cintai itu. Tapi tangan kekarnya di tarik oleh jemari indah Utari.


Mata belati itu kembali mendekat ke leher jenjang gadis 16 tahun itu,


"Bunuh aku!" pinta Utari, "Aku bilang bunuh aku, Ndoro Ageng Putra Mahkota!" kata Utari, wajahnya yang semula masih lembut kini dipenuhi dengan amarah.


Salendra menarik kembali belatinya dan di tahan oleh Utari, alhasil ke duanya beradu kekuatan tangan di atas ranjang berkelambu putih itu.


"Pergilah, yang jauh!" kata Salendra, secara harfiah dan ilmu biologi yang menyebut kekuatan lelaki lebih kuat dari pada wanita, Salendra berhasil merebut belatinya dan melempar ke sembarang arah membelah kelambu putih yang di lewati belati itu dan si belati mendarat menacap di dinding kayu kamar itu.


"Kenapa aku harus pergi, dari tanah kelahiranku sediri?" tanya Utari. Posisi mereka masih sama, Salendra masih menindih tubuh Utari dengan tubuhnya di atas kasur.


"Apa kau mau mati sekarang?" tanya Salendra dengan tanpa perasaan, tapi terlihat jelas bahwa ada deruan gelombang yang di tahan di dada lelaki yang kini hanya mengunakan sehelai baju tipis untuk tidur.


"Kau membuhuh semua keluargaku, di mana kau menguburkannya?" tanya Utari.


"Kami menyebar mayat-mayat pemberontak di padang ilalang sebelah gunung di desa Tiban, seperti tradisi!" perkataan Salendra membuat Utari terpaku, mayat keluarganya tak di kuburkan tapi malah disebar di padang ilalang.


"Aku akan membalasmu!" Itu ucapan terakhir Utari, dia segera menepis tubuh kekar Salendra dan tubuh lelaki itu terlempar jauh ke dinding kamar dan meremukkan dinding yang terhantam tubuh kekar Salendra.


Darah keluar dari mulut Salendra, tapi lelaki itu masih bisa bangun tanpa bantuan siapa pun.


.


Kekacauan yang di buat Utari di kediaman Putra Mahkota telah tersebar luas, lukisan wajahnya tersebar di seantero Wanara. Di kejar prajurit setiap hari, bertarung untuk bertahan hidup.


Penghianat.


Pemberontak.


Buronan.


Kata yang hampir setiap hari di teriakkan pada Kanjeng Ndoro Putri Kencana Utari.

__ADS_1


Utari yang di lahirkan dengan kedudukan sebagai Putri, tapi berakhir sebagai penghianat yang memberontak. Utari sama sekali tak bisa tinggal di Wanara, Salendra dan pasukannya selalu bisa menemukannya dan berusaha membunuhnya.


Alasan keluarga Utari di cap penghianat adalah, karena Ayah Utari menyetujui kerjasama dengan Maladewa dan berjanji akan mengirim gadis bangsawan untuk di nikahkan dengan putra Kaisar Maladewa.


Gadis bangsawan yang akan di kirim saat itu adalah Anjani Wasesa, isu bahwa Patih Jatmiko adalah orang yang telah menghasut Pangeran Cokro Wasesa untuk menentang keputusan Ayah Utari yang waktu itu menjabat sebagi Putra Mahkota.


Semua tipu muslihat itu berujung pada tertuduhlah Ayah Utari sebagai pemberontak yang telah membunuh Kaisar kala itu.


Pengikut Ayah Utari masih sangatlah banyak, tapi tak ada yang berani secara terang-terangan menampakkan diri. Utari juga tak bisa merayu semua pengikut Ayahnya untuk membalas dendam.


Mereka tak ingin menghancurkan tanah kelahiran mereka...


Alasan itu di terima dengan lapang dada oleh Utari, tapi dendam di hatinya tak bisa berhenti berkobar.


Dendam itu harus di tangung Utari seorang diri....


Keadaan yang terdesak karena di cap penghianat dan menjadi buronan menempatkan Utari di ujung perbatasan Wanara dan Maladewa. Tempat di mana hanya ada perang di setiap detiknya.


Utari kembali bertemu dengan Praja, bukan sebagi kawan tapi lawan.


Meski Utari berkontribusi besar untuk mengalahkan pasukan Maladewa yang berusaha menerobos masuk ke area perbatasan Wanara. Senopati Angerah yang memimpin kota perbatasan itu akhirnya berhianat dan menyerahkan Utari yang sudah setengah sekarat ke pada Maladewa dengan perjanjian yang dia buat dengan Putra Mahkota Maladewa.


"Jangan bunuh dia ya kak, aku mohon!" mohon Praja.


Praja kini sedang bersujut di depan kakaknya yang sudah siap mengayunkan pedangnya ke tubuh Utari yang sudah tak bergerak.Tubuh Utari terkulai lemah di atas lantai perkemahan pasukan Maladewa.


"Kau tau lelaki kecil ini telah menyebabkan ribuan pasukan kita mati, apa kau buta?" teriak Sanjaya kakak tiri Praja.


"Aku tau, tapi lelaki ini adalah temanku!" kata Praja,


"Membela negaranya itu bukan kesalahan, jika di lihat dari kemampuannya dia pasti di jebak dan di kirim ke sini, apa itu adil?" Kata Praja.


Sanjaya tak menyangka bahwa adiknya mengerti rencana licik yang telah dia sepakati dengan Senopati Angerah.


Harga diri Sanjaya juga tercoreng karena tak bisa mengalahkan Utari yang di kira mereka seorang Pria itu di medan perang, tapi harga diri Sanjaya yang seorang Pendekar akan lebih tercoreng jika bisa membunuh lawannya hanya dengan cara yang licik.


Utari terbebas dari kematian, tubuhnya berangsur sehat karena Praja merawatnya dengan telaten. Praja baru tau Utari seorang wanita, tapi perasaan Praja yang ternyata seusia Utari itu tak pernah berlebihan.

__ADS_1


Praja mengangap Utari adalah temannya, teman yang akan dia jaga sampai mati.



__ADS_2