Kencana Utari

Kencana Utari
Mandi berdua


__ADS_3

Matanya mengerjap, karena perasaan hangat yang cenderung membuatnya gerah. Pemandangan yang aneh, Utari mencoba menerka apa yang sedang di lihatnya pagi itu.


Ini tubuh manusia.


Aska.


Utari sadar posisinya kini tengah terbaring di ranjangnya dan meringkuk di pelukan Aska.


Utari terdiam sejenak, dia masih memandang dada bidang Aska yang tak di tutupi apa pun di depannya. Utari memutar otaknya untuk menebak apa yang mungkin dia dan Aska lakukan tadi malam.


Tapi jemarinya bisa meraba gaun tidur yang masih melekat erat di tubuhnya. Wajah Utari mendongak dan matanya tertuju pada wajah Aska yang masih tertidur pulas.


Pertama kali dalam 900 tahun hidupnya, dia terbangun dari tidurnya di dekapan seorang pria. Jari telunjuk Utari menelusuri wajah Aska dan membuat lelaki itu terbangun.


"Kau sudah bangun!" gumam Aska.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Utari, saat itu jemarinya melewati bibir Aska.


Aska menelan ludahnya untuk meredakan gejolak di sekujur tubuhnya.


"Tidur!" kata Aska.


"Kenapa tidur di ranjangku?" tanya Utari yang masih melakukan aktifitas menelusuri wajah Aska dengan jemarinya.


"Aku tak berani pulang!" Aska membuat alasan.


"Apa kau selalu telanjang ketika tidur?" tanya Utari.


Jemarinya kini telah sampai di leher Aska, dan itu membuat senjata rahasia Aska menegang.


"Aku tak telanjang aku masih mengunakan celana!" kata Aska.


Jemari Utari berpindah dengan cepat dan meraba pingul Aska, tapi jemari itu tak berhenti di sana dan malah meraba senjata rahasia Aska yang sudah siap tempur.


"Kau sedang e.r.e.k.s.i!" kata Utari.


Aska pun dengan cepat bangun dan mengambil kemejanya di sofa dan memakainya.


"Jangan coba-coba tidur di ranjangku lagi!" kata Utari.


"Emang kenapa jika aku tidur si situ lagi?" tantang Aska, perasaannya sedang bergejolak sekarang.


Utari bangun dan mengarahkan pandangannya ke tubuh Aska yang masih berdiri di kamarnya.


"Aku akan memotong p.e.n.i.s mu jika dia berani berdiri di hadapanku!" kata Utari sambil melihat ke bagian area terlarang di tubuh Aska.


"Dia masih di dalam celana ku sekarang, jadi kau tak perlu repot-repot memotongnya!" kata Aska.

__ADS_1


Utari hanya menatap kepergian Aska dengan tatapan biasa saja, gadis ini belum bisa merasakan cinta yang sangat tulus dari Aska.


Aska turun dari lantai dua dan pandangannya segera tertuju pada pohon kehidupan yang sudah hampir di penuhi oleh kuncup ungu yang indah.


Waktunya tak akan lama lagi, jika bunga-bunga itu mekar Aska harus pergi untuk mengugurkannya.


"Siapa kamu?" tanya Kanaya, dia baru saja muncul dengan baju tidurnya dan mengagetkan Aska yang masih berdiri di tengah tangga.


Wanita siluman ular itu tampak sangat panik dan bergegas ke kamar Utari dengan menaiki tangga, tapi Kanaya berhenti di samping Aska. Mata ularnya segera membidik ke wajah Aska yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Aku Aska, manajer Nona Utari!" kata Aska. Dia tak kaget lagi sekarang dengan kemunculan mahluk aneh secara tiba-tiba di depan matanya.


"Apa kau yang membuat pohon kehidupan berbunga?" tanya Kanaya.


"Tidak!" sahut Utari yang sudah berdiri di pucuk tangga.


"Ada apa, Kanaya?" tanya Utari.


"Kakak gawat, siluman air mempunyai putra setengah manusia!" kata Kanaya, Kanaya segera berlari naik untuk memghampiri Utari.


"Dia melangar aturan, kita harus ke sana!" kata Utari.


"Baiklah, nanti kakak mampir ke tempatku, aku punya suami untuk kakak!" kata Kanaya dengan genitnya.


"Aku akan ke sana nanti!" kata Utari.


"Suami, kau bilang belum pernah menikah?" tanya Aska.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Utari.


"Kau bohong padaku!" bentak Aska.


"Aku tak pernah berbohong, meski aku adalah manusia yang jahat!" jawab Utari.


"Aku mau mandi, apa kau mau sekalian ikut mandi?" tanya Utari.


"Kalau begitu kita mandi berdua!" kata Aska.


Mata mereka saling bertatapan cukup lama.


"Semakin lama kau terlihat seperti Salendra!" kata Utari mata indahnya sudah berkedip karena menangkap kejangalan dari pandangan Aska padanya.


Aska mengalihkan pandanganya dari Utari dan mengontrol emosinya, dia tau dia harus bisa menahan diri agar Utari tak curiga kalau dia sudah mendapat semua ingatan di kehidupan lampaunya sebagai Salendra.


Itu satu-satunya cara agar Aska bisa selalu berada di sisi Utari sampai akhir hidupnya yang tak lama lagi.


"Kau selalu bicara tentang lelaki dengan nama aneh itu, apa kau menyukainya di masa lalu?" tanya Aska, dia mencoba mengalihkan arah pembicaraan Utari.

__ADS_1


"Ya sebentar!" kata Utari, wanita itu segera menghilang di balik pintu kamar mandi.


Aska terdiam di tempatnya berdiri, ingatan Salendra tentang gadisnya. Senyum polos Utari, kelakuan nakal Utari, keberanian Utari dan semua hal tentang Utari telah memenuhi ronga-ronga di kepala Aska.


.


.


.


.


Gadis kecil di rumah Hasan sudah mandi dan berganti baju, dia juga sudah makan dan di beri pengobatan yang layak.


Gadis kecil anak tukang kayu yang baru saja di siksa ayahnya karena tak mengerjakan pekerjaaan rumahnya dengan benar. Gadis kecil bernama Nessi ini hanya tingal berdua dengan ayahnya setelah ibunya kabur karena tak kuat dengan penyiksaan ayahnya yang kejam.


"Nessi, Nyonya menyuruhmu pergi ke kamar Tuan Muda Imanuel!" kata salah satu pelayan pada Nessi.


Langkah gadis kecil itu mengema di seluruh ruangan, dia tampak bingung dengan suasana sepi di rumah yang sangat mewah ini.


"Tuan Muda Imanuel sangat sensitif terhadap suara, usahakan kau jangan berteriak!" kata pelayan itu.


"Baik,!" jawab Nessa.


Pintu besar itu terbuka, Nessa masuk dan pintu kembali tertutup. Gadis berusia 11 tahun itu hanya diam di tempatnya, dia tak berani bergerak sama sekali sampai dia merasakan pintu almari baju di depan ranjang mulai terbuka.


Decitan pelan suara pintu almari itu membuatnya merinding, dia takut sesuatu akan keluar dari sana dan akan membunuhnya.


Tapi Nessa kembali lega saat melihat sepasang kaki manusia keluar dari almari itu.


Imanuel berdiri dan menampakkan dirinya perlahan, lelaki setengah siluman yang berusia 25 tahun yang mempunyai fisik seperti anak 13 tahun itu masih memakai piama putih panjang dan wajahnya tampak pucat.


"Tuan Muda Imanuel!" tanya Nessi dengan nada suara yang gemetar.


Imanuel sudah ada di depan Nessi. Hanya beberapa detik yang lalu pria itu masih berdiri 10 meter di hadapan Nessi.


Nessi sampai terjatuh dan segera di tangkap oleh tangan mungil Imanuel.


"Kamu cantik!" kata Imanuel.


Nessi hanya diam tertegun mendengar pujian kaku dari Imanuel.


"Tingal di sini bersamaku!" kata Imanuel.


"Iya....saya akan di sini!" kata Nessi masih gemetar.


Nessi merasa saat itu dia harus berada di sana agar terhindar dari kemurkaan ayahnnya, yang pasti tengah mencarinya dengan kampak besar di pundaknya.

__ADS_1


__ADS_2