
Kibaran lembut gaun merah yang sangat angun, mengiringi langkah santai kepergian Utari. Langkah kakinya yang santai menyusuri lorong keluar itu, berbanding terbalik dengan beberapa petugas ke amanan yang berlari dengan terburu-buru menuju ke dalam ruang sidang.
Dengan sejata laras panjang yang masih di tenteng salah satu lengan tangannya, Utari berjalan santai tanpa satu orang pun yang menyadari keberadaannya.
Para rombongan reporter dari beberapa setasiun TV terkenal mulai berdatangan, tangga panjang di depan gedung parlemen telah di banjiri manusia-manusia berwajah antusias siap mengumbar kebusukan orang lain.
Aska tampak bingung dan sangat cemas, dia mencoba menghubungi Utari, tapi ponsel wanita iblis itu ada di dalam mobil. Aska berjalan mondar-mandir di salah satu sisi mobil Lamborghini Urus putih. Dia semakin bingung saat sirine mobil polisi dan sirine mobil ambulance saling bersautan dan mendekat ke arahnya.
Tapi seakan semua terjadi secara Slow motion, Aska langsung bisa mengenali dentuman derap langkah sepatu high heels Utari dari kejauhan.
Itu dia...
Aska langsung menoleh ke arah asal suara dentuman indah yang selalu berhasil membuat dadanya bergetar.
Semoga hanya aku yang bisa mendengar suara indah itu,
Semoga hanya aku yang mengila ketika dentuman itu menyergapku,
Semoga hanya aku yang mencintainya di dunia ini,
Semoga hanya aku yang dia butuhkan,
Semoga hanya aku.
Senyum indah itu menghiasi wajah cemas Aska, matanya berbinar memandang gadisnya kembali tanpa terluka.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aska.
Utari tak menjawab dia hanya terus berjalan dan masuk ke dalam mobil.
"Memberi pelajaran pada seseorang yang akan melangar perjanjian!" kata Utari.
Aska yang sudah mengerti sekema kerja perjanjian pohon kehidupan, dia hanya menganguk mengerti. Ternyata setelah 900 tahun isi perjanjian di buku kuno itu tak berubah.
Kau akan mendapatkan apa pun yang kau inginkau inginkan, setelah kau mengorbankan nyawa mu atau nyawa orang yang paling kau cintai.
Kau tak boleh melangar perjanjian dengan cara apa pun.
Hanya dua hal memang tapi yang jadi cakupan perjanjian itu sangatlah luas. Mereka yang sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, akan mengunakan segala cara untuk membatalkan perjanjian.
Hal apa yang bisa membatalkan perjanjian, nyaris tidak ada.
Hanya ada satu yaitu kasih sayang dari yang penjaga.
__ADS_1
Dan seperti biasa pohon kehidupan memilih wanita berhati batu, yang tak bisa merasakan cinta. Yang lebih parah lagi, Utari tak hanya tak punya hati tapi juga tak punya nafsu.
900 tahun dia menjadi penjaga, tapi dia tak pernah gagal mengambil nyawa tumbalnya.
"Apa kau takut darah?" tanya Utari.
"Tidak!" jawab Aska, "Kenapa?" Aska lanjut bertanya.
"Aku harus mengambil seseorang di rumah sakit!" kata Utari,
Utari melepas lagi rakitan senjata laras panjangnya tanpa kesusahan, dia menyimpan lagi potongan acak itu kedalam koper sesuai tempatnya.
"Kelihatannya kau tau banyak tentang senjata api?" tanya Aska.
"Lumayan!" kata Utari.
Utari benar-benar terlalu sedikit bicara, sedangkan Aska ingin berbicara banyak dengan gadis iblis itu. Dia ingin mendengar banyak hal dari Utari, kisah hidupnya, apa yang telah dia lewati selama 900 tahun ini, berapa suami yang dia punya, berapa pria yang telah mendampinginya.
Meski itu menyakitkan untuk di dengar, tapi Aska ingin mendengar lebih banyak tentang Utari.
"Berapa kali kau menikah?" tanya Aska, dia sedikit memicingkan sudut matanya untuk mengoreksi ekspresi di wajah Utari.
"Belum pernah!" kata Utari.
Utari melihat ke arah Aska sekilas, lalu perhatiannya dia tujukan ke arah buku kunonya yang sudah terbuka di pangkuannya.
"Jika pun aku memperkosa mu di sini sekarang, tak ada polisi yang akan menangkapku!" kata Utari.
Fikiran Aska mulai tak tenang, perkataan yang baru saja di ucapkan Utari membuat otak Aska berkeliaran membayangkan adegan di situs-situs XXX.
"Tapi sebagai manusia setidaknya...!"
"Kenapa, kau tak sedang berfikir kalau aku masih perawan kan ?, usiaku lebih dari 900 tahun dan aku !" Utari terlihat berfikir dan melanjutkan perkataannya "Normal!"
"Apa kau tak normal?" tanya Aska.
Aska menerka-nerka perkataan Utari yang seperti sebuah clue untuk jawaban akan pertannyaannya.
"Entahlah, fokus saja menyetir!" bentak Utari.
Aska tersenyum tipis, dan mencoba menyembunyikan kebahagiannya itu dengan menutupi senyumnya dengan tangannya.
Bagaimana seorang wanita bisa bertahan selama itu, apa Utari masih mencintai Salendra.
__ADS_1
Aska masih ingat bagaimana mereka berdua selalu tak sangup membunuh satu sama lain. Salendra harus memancing amarah Utari dengan membunuh Praja, barulah Utari punya kemarahan yang cukup untuk sangup membunuh Salendra hari itu.
Praja.
Jernih Devano adalah Saprajadewa.
Saingannya bertambah satu, setelah adiknya sendiri. Lalu pria yang di cintai Utari di masa lalu, dan dia adalah musuh yang paling di benci. Jika pun di hitung dengan persentase dia tak punya banyak peluang.
Varo, si cowok manis yang lucu mungkin mendapat persentase 30%.
Jernih, pria mapan, maskulin, cinta masa lalu Utari 69,9%.
Aska, si pria reingkarnasi Salendra musuh Utari, galak, selalu mencela, dan tak tulus berada di samping Utari 0,01%.
Aska kalah dalam segi apa pun, dia tak akan mendapatkan Utari dalam waktu dekat. Tapi dia harus pergi saat bunga-bunga itu mekar.
"Rumah sakit ini!" kata Utari,
Utari menunjuk sebuah rumah sakit, di sebrang jalan.
"Kenapa tak bilang dari tadi, aku tak bisa belok di sini!" kata Aska.
"Apa kau lupa, aku bukan rakyat baik di negara ini!" kata Utari.
Aska baru sadar kalau semua mobil di jalanan sudah berhenti, Aska segera membelokkan mobilnya.
"Aku lupa!" kata Aska.
.
Mereka masuk ke dalam rumah sakit, Aska hanya berjalan mengikuti arah langkah Utari. Mata Aska seakan sudah terbiasa dengan bahu indah Utari yang jarang sekali di tutupi kain tebal. Pungung tegapnya yang semakin seksi ketika gadis itu berjalan. Sekali lagi Aska terbius oleh kencantikan Utari.
Sebuah lorong bangsal yang harum, ruang VIP rumah sakit yang bersih dan tertata rapi. Beberapa pot tanaman hijau dan kursi tunggu panjang dari kayu menghias indah di sepanjang lorong bernuansa putih itu.
"Kau di sini saja!" kata Utari pada Aska.
Aska bisa melihat dua pria kekar yang mengenakan setelan jas hitam dan alat kumunikasi di telinganya, jelas mereka itu bodyguard. Seseorang yang akan di temui Utari bukanlah orang biasa.
Orang itu adalah, seorang mantan pemimpin negara bagian. Lelaki tua itu tak mengunakan bahasa Indonesai untuk berkomunikasi dengan Utari, tapi bahasa arab.
"Kau datang juga!" kata lelaki tua itu, dia terlihat senang ketika melihat Utari membuka pintu kamar rawatnya.
Pria yang meminta perlindungan dari negara ini, seseorang pernah di segani oleh seluruh umat di bumi.
__ADS_1
"Tentu saja aku datang,!" kata Utari.
"Kau benar, ketika aku merubah takdirku maka takdir di sekitarku juga akan berubah!" kata pria itu.