Kencana Utari

Kencana Utari
Cinta yang memberi kekuatan


__ADS_3

"Lupakan semua, dan hiduplah seperti sebelum kau bertemu dengan Mandelin!" kata Utari.


Utari sedang menghapus ingatan Hasan dengan sihirnya. Hasan terdiam sejenak karena efek sihir Utari sedang berkerja di otak lelaki itu.


Setelah ingatan Hasan tentang Mandelin dan Imanuel hilang, pengusaha kayu itu segera masuk ke dalam perusahaannya yang terletak tak jauh dari kastil Imanuel.


Mereka telah menjauh dari kastil dan hendak pergi dari sana tanpa Kanaya.


Utari kembali masuk ke dalam mobilnya, Nessi duduk di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi dengan tatapan kosong yang sedih.


"Lupakan hari-harimu di dalam rumah kastil Imanuel!" kata Utari.


"Aku tak akan melupakannya!" kata Nessi.


"Kenapa?" tanya Utari.


"Karena Imanuel, dia adalah satu-satunya mahluk yang menerimaku!" kata Nessi, mata bulatnya berkaca-kaca menatap ke arah Utari.


"Putri....Ratu....siapa pun anda....tolong jangan menyuruhku melupakan Imanuel!" butiran air mata itu membasahi pipi cabi Nessi.


"Kau akan tersiksa dengan ingatan menakutkan semacam itu!" nasehat Utari.


"Aku pasti akan takut, tapi akan lebih menakutkan saat aku berfikir tak ada satu orang pun di dunia ini yang menerimaku!" Nessi masih memohon pada Utari.


"Hari itu tiba-tiba aku punya kekuatan untuk berlari dari pondok ayahku, aku tak tau apa aku akan selamat atau tidak. Aku hanya ingin terus berlari!" kata Nessi gadis kecil itu kembali mengingat apa yang dia alami di pondok ayahnya selama ibunya kabur.


"Saat ayahku bilang aku bukan anak kandungnya, aku ingin mati !. Ibuku meningalkanku, dan ayahku tak menerimaku!" Nessi terdiam sejenak untuk menyeka cairan yang terus keluar dari mata dan hidungnya dengan roknya.


Utari menyodorkan kotak tisu ke gadis 11 tahun itu, gadis yang harusnya belum tersentuh rasa sakit. Gadis yang harusnya hanya tau cara bermain, tapi harus menerima kekerasan fisik dan verbal dari orang tuanya sendiri.


"Aku sangat takut, tapi setelah bertemu dengan Imanuel aku punya semangat hidup lagi!" kata Nessi.


"Aku ingin mengingat sosok baiknya selama hidupku, aku akan mengingatnya saat aku terpuruk. Aku ingin mengingatnya agar aku bisa bertahan hidup!" kata Nessi.


Tangis gadis kecil itu pecah, mata Utari juga tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku akan menghapus tentang yang lain!" kata Utari.


"Trimakasih putri!" kata Nessi.


900 tahun sudah Utari tak pernah di pangil dengan sebutan itu, tapi keharuan yang kini menyeruak di renung hatinya bukanlah itu penyebabnya.


Kata-kata bocah 11 tahun itu mengingatkannya pada Utari sendiri yang pernah di tempat yang sama dengan Nessi.


Seluruh keluarganya meninggal dan orang yang dia sangka paling mencintainya ternyata yang telah membunuh keluarganya. Saat itu Utari ingin sekali mati tapi Praja teman barunya sang Pangeran Maladewa membuatnya ingin hidup lagi.


Seperti baru kemarin Utari menjalin peesahabatan dengan Praja, lelaki t.o.l.o.l yang pemberani.


Langit saat itu sangat cerah, padahal di tengah musim hujan. Praja berlari ke Pendopo Ageng dengan semangatnya. Tanpa sopan santun Pria t.o.l.o.l itu menghentikan diskusi Utari dan Sanjaya tentang pertahanan di area perbatasan.


"Aku Pangeran Saprajadewa mau mengumumkan sesuatu!" tegasnya dengan nafas tersengal.


Tentu saja Utari dan Sanjaya tak mau mengubris kelakuan somplak Praja yang hampir setiap hari dia lakukan.


"Pergi!" kata Sanjaya, dengan nada kesal.


"Bukankah Istrimu sedang sakit, kau harus menjaganya!" imbuh Utari, dengan wajah malasnya.


"Benarkah, istrimu hamil?" tanya Utari, yang langsung berdiri dan mengikuti jingkrakan Praja.


"Anak mu pasti malu punya ayah semacam kau Praja!" omel Sanjaya yang tak tahan melihat dua mahluk yang excited di depannya.


"Benar Utari, aku harus belajar berjalan agar terlihat gagah!" kata Praja, yang membuat dua orang yang mendengarnya mau mutah.


"Aku juga harus berbicara dengan tegas agar anakku tak melawanku nanti!"


Praja terus saja ngoceh dan berlatih bicara serta berjalan di Pendopo Ageng padahal Pendopo itu hanya di pakai oleh Putra Mahkota untuk mengatur setrategi negara.


"Bermainlah dengan anakmu, dan jangan biarkan anakmu takut padamu. Itu lebih baik!" perkataan Sanjaya membuat Praja dan Utari terdiam.


"Benar kata Putra Mahkota, kau tak perlu menakuti seseorang agar kau di hormati!" imbuh Utari.

__ADS_1


"Aku harus kembali, aku tak boleh menigalkan istriku sendirian!" kata Praja, yang langsung ngacir lagi ke pafiliun istrinya.


Di Maladewa keturunan Kaisar semua tingal di dalam Istana utama dan terlihat begitu dekat dan saling memperhatikan. Tak seperti di Wanara, keluarga kerajaan tingal di Istana khusus. Mereka saling acuh tak acuh dan berusaha menikam dari belakang.


"Apa kau tak mau menikah Utari, usiamu sudah cukup !, sebaiknya kau mencari pemuda di kerajaan ini dan hidup berkeluarga!" kata Sanjaya.


Utari hanya terdiam mendengar perintah atasannya itu, Utari saat itu menjabat sebagai penasehat militer Putra Mahkota.


"Baik Putra Mahkota!" jawab Utari.


Tapi hari yang tenang itu tak berlangsung lama, Salendra dari Wanara mengirim surat tantangan perang pada Maladewa.


"Kita akan melawan Wanara!" kata Putra Mahkota di dalam rapat yang di hadiri seluruh petinggi Maladewa kala itu.


Perang pecah di perbatasan Maladewa dan Wanara sama-sama kuat, tak ada yang mau mengalah. Maladewa yang di bantu dengan setrategi Maha Patih Kencana Utari yang sangat faham dengan tata cara perang Wanara. Membuat Maladewa selalu lebih ungul di pertahanan.


Ayah Salendra terbunuh di perang itu, Utari berhasil menyusup ke area musuh di tengah-tengah kericuhan saat perang.


Utari masuk ke dalam tenda Maha Patih Jatmiko untuk mengambil pedang es milik ayahnya, karena sesuai berita pedang itu selalu di bawa oleh Maha Patih Jatmiko kemana pun dia pergi.


Awalnya Utari hanya ingin pergi diam-diam setelah mengambil pedang itu, tapi Utari malah ketahuan oleh Jatmiko.


"Apa kau telah berhasil menguasai elemen es itu?" tanya Jatmiko.


Maha Patih Jatmiko segera melihat ke arah pedang es yang sudah di gengam oleh Utari.


Pedang itu bereaksi, itu adalah sebuah pertanda bahwa Utari telah mampu menguasai elemen es dan pedang es.


"Seperti yang kau lihat,!" jawab Utari.


Amarah segera menguasai dirinya, dia mengingat lagi wajah ayahnya saat melihat Jatmiko. Di dalam hati Utari dia masih penasaran, apa alasan sebenarnya yang membunuh keluarganya.


Kenapa ayahnya di tuduh memberontak kala itu, kerjasama dengan Maladewa adalah tindakan yang lebih masuk akal dari pada kerjasama dengan Kerajaan Denmak.


"Maladewa akan menjadi tanah Wanara sebentar lagi, dan kau akan mati sia-sia. Apa pun yang kau lakukan itu hanya akan sia-sia Utari!" kata Jatmiko dengan sombongnya.

__ADS_1


"Mungkin membunuhmu juga akan menjadi hal yang sia-sia kan, budak pembangkang!" kata Utari.


Perisai es Utari sudah menutup seluruh bagian tenda milik Jatmiko, yang di dalam tak bisa keluar dan yang di luar tak akan bisa masuk ke dalam.


__ADS_2