Kencana Utari

Kencana Utari
Kematian Jatmiko


__ADS_3

"Satu-satunya manusia yang bisa membebaskanmu hanyalah Salendra!" kata Utari dengan wajah penuh kemenangan.


"Jika dalam satu jam dia tak datang maka kau akan mati membeku di sini!" lanjut Utari.


Jatmiko sadar, elemen es yang di miliki Utari bahkan lebih kuat dari milik Aruna. Gadis ini dapat mengunakan jurus penjara es abadi dengan area yang begitu sangat luas, tanpa kehabisan tenaga dalam sama sekali.


"Aku tau kau sangat hebat Utari, tapi sayang mungkin kau akan segera mati!" kata Jatmiko, lelaki itu percaya Salendra pasti akan menunjuk Utari untuk mengantikannya menjadi tumbal.


"Aku pasti mati, tapi setelah membunuh semua keturunanmu tanpa tersisa!" kata Utari.


Satu-satunya anak Jatmiko yang masih sehat hanyalah Salendra, Utari tau membunuh Salendra bukanlah hal yang mudah baginya. Tapi dia harus melakukannya.


Bukan karena kesaktian yang di miliki Salendra, tapi harapan di hati Utari. Gadis itu masih punya harapan pada Salendra, gadis itu hanya ingin mendengar satu kata dari mulut mantan kekasihnya itu. Yaitu kata maaf.


Tapi setiap kali bertemu dengan Salendra, Salendra akan selalu menyerang Utari terlebih dulu. Membuat harapan Utari pada Salendra, semakin hari semakin menipis.


Saat keluar dari perisai es abadinya sendiri Utari sudah di hadang oleh pasukan Wanara yang siap untuk menyerang.


Utari dengan gampangnya membekukan mereka hanya dengan satu gerakan tangannya. Meski harus kehabisan tenaga dalamnya Utari ingin membunuh banyak tentara Wanara malam itu.


Sesampainya di kemp Maladewa, gadis itu pingsan di depan Sanjaya karena kehabisan tenaga.


Elemen es adalah elemen yang bisa menyerap tenaga dalam pengunanya, si penguna elemen itu harus mempunyai aliran tenaga dalam yang bisa menyerap energi dari alam.


Utari memang bisa menyerap energi dari alam tapi dia memang terlalu banyak mengunakan jurus penjara es abadi yang menguras banyak tenaganya.


Keributan yang di hasilkan Utari telah memancing Salendra, Putra Mahkota Wanara untuk maju berperang melawan Maladewa mengantikan ayahnya.


Keesokan harinya Wanara langsung menyerang Maladewa, Utari masih belum pulih saat itu. Hinga Sanjaya menyuruh Utari untuk istirahat saja hari ini.


Dua pasukan sudah saling berhadapan, Salendra dengan baju jirah perang bernuansa putih dan juga ikat kepala yang di hiasai mahkota kebesaran Wanara telah siap dengan tentara di sisi kanan medan pertempuran.


Sementara Sanjaya dan Praja dengan baju jirah perang bernuansa merah telah siap dengan tantangan perang Wanara.


Serangan pertama adalah tim panahan yang memanahkan panah mereka ke arah lawan, pasukan Maladewa memanahkan panah biasa ke arah pasukan Wanara.


Tapi Wanara mengunakan panah api abadi yang tiba-tiba di sulut oleh Salendra, tepat sebelum panah itu melayang ke arah pasukan Maladewa.


Semua tentara Maladewa begitu panik api hitam yang tak pernah padam, akan menghujani tentara mereka dan akan membakar mereka sampai habis.

__ADS_1


Angin berhembus di padang rumput gersang itu, angin kencang yang membuat semua panah api itu terbang ke arah lain.


Teriakkan pelan wanita saat memacu kudanya telah menyeruak di telinga Salendra. Derap langkah kuda berlari yang mendekat serta suara teriakkan gadis itu telah mengema di seluruh gendang telinga Salendra.


Lelaki itu meremas tali pelana kudanya, dadanya sakit, sangat sakit hinga air mata hampir saja menetes dari pelupuk mata tajamnya.


Aku tau kau baik-baik saja...Utari.


Aku merindukanmu, sangat merindukanmu...


Utari berkuda dengan kecepatan penuh menuju pasukan Maladewa, kehadiran Salendra di medan perang membuatnya sembuh lebih cepat. Dia tau Salendra tak bisa di kalahkan oleh siapa pun, jurus api abadi lelaki itu tak ada yang bisa menandinginya kecuali elemen es abadinya.


Utari di beri jalan oleh pasukan Maladewa untuk maju di garis depan.


Derapan langkah kuda Utari semakin dekat ke arah Sanjaya dan Praja. Praja terus saja tersenyum ke arah Utari yang baru datang, mereka segera tos setelah gadis itu sampai di sana.


Salendra memandang keakraban Utari dan Praja dengan rasa tak suka, Salendra cemburu. Lelaki itu tiba-tiba tak ingin melepas gadisnya untuk orang lain. Salendra tiba-tiba ingin menghabisakan sisa-sisa waktunya yang tak banyak itu bersama Utari.


Saat itu terlintas pemikiran di otak Salendar, bagaimana jika dia kabur bersama Utari dan hidup bahagia di sisa waktu hidupnya. Paling tidak dia punya kesempatan untuk membahagiakan Utari meski hanya beberapa bulan.


Hati Salendra sangat sakit saat Utari saling melempar senyum dengan lelaki lain.


Hanya itu yang bisa dia lakukan, hanya itu yang bisa dia katakan, dan hanya itu yang sekarang lelaki itu fikirkan.


Kebahagiaan singkat bersama orang yang dia cintai.


"Apa kau takut kalah!" balas Praja.


"Utari adalah pemberontak Wanara, jika kau menyerahkan Utari padaku. Kalian bukan musuh negara Wanara lagi!" jelas Salendra.


Dia berharap Maladewa memberikan Utari padanya tanpa ada perlawanan.


Salendra sudah tak sabar untuk memeluk tubuh kekasihnya itu, dia sudah di ujung jurang sekarang. Dia tak akan punya rasa takut lagi selain kehilangan Utari.


"Utari adalah salah satu Maha Patih Maladewa, jika kau mau memintanya kau harus membunuh seluruh rakyat Maladewa!" kata Sanjaya.


"Benar, Utari sekarang milik kami, kami sudah membelinya dengan harga yang sangat mahal!" kata Praja sambil tersenyum ke arah Utari.


Utari membalas senyuman Praja. Utari kagum mendengar ucapan kedua kakak beradik itu, dia merasa punya keluarga baru saat itu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan mengambil Utari dari kalian secara paksa!" kata Salendra.


Amarahnya sudah tak terbendung lagi, dia tak peduli dengan pasukannya. Ambisinya kini hanya membawa Utari pergi dari sana, menjalani hari bahagia selama 3 bulan terakhirnya bersama orang yang paling di cintanya.


Salendra maju di ikuti para pasukannya, mereka langsung menyerang tentara Maladewa. Salendra tak peduli lagi akan orang lain, di otaknya kini hanya ada bayangan senyum Utari kepada lelaki lain.


Pedang apinya terus menebas setiap prajurit Maladewa yang menghadangnya. Debaran jantungnya mengantar cinta membaranya pada pemiliknya.


Utari dan Salendra kini saling berhadapan dengan pedang goib masing-masing. Pemilik sebelumnya yang berteman tak menyurutkan amarah mereka kali ini.


Aura biru menyelimuti tubuh dan pedang Utari, sementara aura merah menyelimuti Salendra dan pedangnya.


Trangggggggggggg


Wiuuuuuuuuusssssssss


Syattttttttttt


Pedang itu saling beradu, energi yang berbenturan itu bercampur ke udara dan menerjang sekeliling mereka.


Banyak prajurit dari kedua kubu yang meningal karena hanya terterjang hantaman energi mereka yang tercecer.


Kekuatan maha dasyat itu membuat semua mata tertuju pada pertempuran Utari dan Salendra yang terlihat sama hebatnya.


Tapi kedua orang itu masih manusia, mereka bisa kehabisan energi juga. Kini mereka saling menyerang hanya dengan Katana, ilmu pedang keduanya sama hebatnya.


Tapi di sela pertempuran mereka, Salendra dengan sengaja melempar belati pengasihnya ke arah Praja yang sedang bertempur dengan tentara Wanara.


Senyum kemenangan menguasai wajah Salendra yang sudah penuh dengan peluh dan percikan darah prajurit yang dia bunuh.


Utari sadar apa yang di lakukan Salendra, Utari segera menusuk balas jantung Salendra saat itu karena keberhasilannya membunuh Praja membuat Salendra lengah dengan serangan Utari.


"Kau tak akan bisa membunuhku selama 3 bulan ini!" kata Salendra, wajahnya terlihat menahan sakit dan darah keluar dari mulutnya.


"Aku akan menunggumu di Istana, kau harus datang dan bunuh aku di sana!" kata Salendra.


Utari melepas gagang pedangnya dan mundur dari tubuh Salendra. Katana Utari masih menancap di jantung Salendra saat itu.


__ADS_1


__ADS_2