Kencana Utari

Kencana Utari
Keputusan Paksa


__ADS_3

Di putar, di jilat terus di celupin. Di geser, di remet-remet, di elus-elus, di iming-imingin iPhone 11 pro max, semua telah di lakukan oleh Samada tapi senjata rahasia Aruna masih tak mau berdiri.


Dengan tatapan putus asa, wanita iblis itu hanya bisa memandang tubuh Aruna yang sudah telanjang di depannya.


Aruna hanya berdiri diam tanpa mempedulikan angin malam yang dingin dan menusuk melewati kulit tubuhnya yang putih mulus, dia tak bisa merasakan atau ingat apa pun saat fikirannya di kuasai oleh sihir Samada.


"Kenapa tak berhasil, kemarin baik-baik saja dan berjalan dengan normal!" desah Samada yang akhirnya kehilangan birahinya.


Mata hitamnya menatap ke mata coklat Aruna yang kosong, Samada sadar cara seperti ini tak akan membuat dia mendapat cinta dari pria ini. 400 tahun dia hidup sebagai Dewi Penjaga, baru pertama kali ini dia merasa tak berdaya akan keinginannya.


Perasaan adalah bagian dari tubuh manusia dan takdir, yang tak bisa di tebak oleh siapa pun.


Samada kembali merapikan pakaian Aruna dan mencium pipi kanan Aruna.


"Aku akan membuat kau mencintaiku,!" tekat Samada.


"Minumlah!" kata Jatmiko.


Jatmiko meletakkan botol bambu yang berisi cairan yang entah apa, tepat di depan Salendra yang tengah duduk membaca sebuah buku taktik perang.


"Apa ini Ayah?" tanya Salendra.


"Minumlah, agar kakakmu bisa selamat!" kata Jatmiko.


Kabar Lodra yang jatuh sakit dan keadaan Aruna yang kehilangan sebagian ilmu kanuragannya sudah tersebar di kota Wanara. Salendra juga sudah tau bagaimana keadaan kakaknya meski belum melihatnya secara langsung.


"Cepat!" desak Ayahnya, yang memang tak pernah menyayanginya seperti Ayahnya menyayangi kakaknya.


"Ayah yakin, jika aku meminum ini kakak akan sembuh?" tanya Salendra.


Setengah tak percaya. Bukankah kakaknya yang sakit lalu kenapa Salendra yang harus meminum obatnya


"Paling tidak dia tak akan mati, dan kau juga bisa selamat!" kata Ayahnya itu.


Salendra masih memandangi botol itu dengan seksama. Dia ragu.


"Minumlah Salendra, Ayah mohon!" kata Jatmiko.


Itu adalah pertama kalinya Salendra mendengar Ayahnya memohon padanya.

__ADS_1


"Selamatkan keluarga kita!" air mata lelaki paruh baya itu membasahi pipinya dan Salendra membuka penutup botol itu, dia masih sangat ragu.


Apa pun yang terjadi nyawa kakaknya sangatlah penting, meski Salendra harus kehilangan nyawanya dia tak akan keberatan. Baginya kakak dan keluarganya adalah hal yang paling penting di dunia ini.


Salendra menelan setiap tetes air aneh yang ada di dalam botol bambu itu.


"Trimakasih Salendra!" kata Ayahnya, pria paruh baya itu segera pergi.


Salendra hanya diam, dia tak merasakan sesuatu yang aneh. Dia melanjutkan kegiatan membacanya di perpustakaan milik keluarganya itu.


Sebuah suara membangunkan Salendra, suara yang aneh. Usia Salendra saat itu baru mencapai 18 tahun, dia sudah dewasa tapi belum matang.


Suara desahan wanita dan lelaki itu kian santer menusuk telinganya, mau tak mau mata kantuknya terbuka. Pemandangan tak senonoh telah terpampang tepat di depan matanya.


Ayahnya melakukan hubungan badan dengan Samada di dalam kamar Salendra, tanpa peduli akan kehadiran Salendra sang pemilik kamar.


Salendra tak mungkin membentak Ayahnya, atau marah di depan Ayahnya. Tata krama anak ke pada orang tua, adat yang mengatakan bahwa lelaki bisa menikahi lebih dari satu wanita. Kenyataan itu membuat Salendra hanya meringkuk di dalam selimut, dia pura-pura tidur kembali.


Desahan kenikmatan kedua pasangan itu semakin menjadi-jadi membuat Salendra mengunakan Kedua telapak tangannya menutup kedua telinganya.


Rasa jijik, sedih, dan marah merengkuh di dadanya tapi tak bisa dia sampaikan pada siapa pun.


Saat kau masih muda, bertindaklah dengan hati-hati. Karena semua tindakanmu di masa mudamu akan mempengaruhi masa tuamu.


Jangan gunakan ketidak tauan sebagai alasan, jika kau tidak tau kau bisa bertanya pada siapa pun yang lebih mengerti.


Jangan karena paksaan kau mengorbankan seluruh hidupmu, meski paksaan itu dari orang tuamu sendiri.


Karena penyesalan yang akan kau bayar nantinya sangatlah mahal.


"Bangun nak!" suara lembut ibu Salendra membangunkan tidur Salendra.


Salendra yang sudah terbangun segera duduk dan melihat ke seluruh penjuru kamarnya.


"Ada apa putraku!" tanya Nyai Rumbi, dia adalah seorang selir di kediaman Patih Jatmiko ini.


Salendra hanyalah anak selir, dia tak mungkin bisa bersanding sejajar dengan Lodra yang adalah putra dari istri sah Patih Jatmiko.


Belum juga bibir mungil Salendra mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan ibunya, seseorang menerjang pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Pintu kayu itu terbuka lebar, di sela sinar matahari yang menembus masuk ke dalam ruangan berlantai tanah yang di haluskan hinga menyerupai ubin itu.

__ADS_1


Sebuah kaki dengan sepatu merah yang di hiasi sulaman bunga krisan yang indah. Rok mengembang yang juga berwarna merah, kebaya ungu yang di hiasi peniti emas di tengahnya.


Wanita itu hanya menyangul separuh rambutnya di atas, tanda bahwa wanita yang baru saja masuk ke kamar Salendra itu belum menikah.


Dua pasang mata Salendra hanya tertuju pada wajah wanita itu, Salendra langsung bisa mengenali wanita itu. Wanita semalam yang menghabisakan malam dengan Ayahnya di samping tempat tidurnya.


"Kau bisa keluar Nyai Rumbi!" kata Samada.


Perempuan bertapih rapi dan berkebaya coklat sederhana itu berdiri dan meningalkan mereka tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Tugas pertamamu!" Samada memberikan secarik kertas sebuah buku kuno dan di sana sudah tertulis nama dan alamat seseorang dengan aksara huruf sansekerta.


"Anda ini siapa?" Akhirnya Salendra membuka mulutnya,


"Majikanmu!" kata wanita itu, dan seketika sosok wanita cantik itu pun lenyap dari pandangan Salendra.


Tentu saja Salendra bingung, dia terus mencari wanita itu sampai ke halaman depan kamarnya.


Dia sadar wanita tadi pasti bukan manusia, jika pun manusia yang punya ilmu kanuragan yang tinggi.


Salendra baru menyadari bahwa hari sudah siang, dia ketingalan latihan kanuragan pagi. Hal yang sangat di benci Jatmiko adalah ketika Salendra atau lodra meningalkan latihan kanuragan pagi yang selalu rutin di laksanakan di halaman belakang di pafiliun khusus.


"Ayah pasti sangat marah padaku!" Salendra kembali ke kamarnya dengan langkah lemas dan sedih.


Sebelum langkah Salendra memasuki kamarnya ayahnya ternyata sudah datang dari arah pafiliun kusus yang terletak di belakang pafiliunnya.


"Maaf ayah, saya...!" kata Salendra menunduk takut.


"Ikut Ayah!" perintah ayahnya, segera Salendra tanpa komentar lagi mengikuti kemana langkah kaki ayahnya menuju.


Untuk pertama kalinya Salendra masuk ke dalam pafiliun ayahnya yang sangat megah, jauh sekali dari kamarnya yang masih berlantai tanah dan berdinding papan usang.


"Duduklah!" perintah Jatmiko dengan nada biasa saja.


Salendra pun akan duduk tapi bingung, kursi di depannya sangatlah mewah apa dia harus duduk di lantai.


"Duduklah di atas, jika kau menjalankan perintah wanita yang datang padamu dengan baik, aku akan menikahi ibumu dan kau bisa menjadi putra sahku!" kata Jatmiko.


Salendra menunduk, dia tak begitu bahagia. Keputusan ayahnya ini pasti karena kakaknya Lodra mendapat cedera parah dan sampai tak bisa bangun.

__ADS_1


__ADS_2