
"Benar, tak ada salahnya aku memperbaiki. Berhasil atau tidak, itu tidaklah penting.....yang penting aku harus melakukan sesuatu kan?" kata Aska,
SuSi hanya tersenyum mendengar tekat Aska, dan saat itu tubuh SuSi mulai berubah menjadi serbuk hitam yang berterbangan di udara.
"SuSi kau kenapa?" tanya Aska, lelaki itu mengengam salah satu tangan SuSi yang belum berubah menjadi serbuk hitam.
"Aku harus pergi agar bisa terlahir kembali, ku harap aku bisa lahir menjadi anak om dan wanita iblis itu....tapi om berjanjilah lindungi aku jangan sampai dia memukulku nanti!" kata SuSi dengan senyuman yang amat manis.
"Apa kau akan pergi ke alam baka?" tanya Aska dengan mata berkaca-kaca.
"Dendam di jiwaku telah sirna, aku sudah melepas semua dendamku. Sekarang giliran om Aska untuk melepas penyesalan di hati om!" kata SuSi.
Tubuh gadis kecil yang lucu itu perlahan-lahan menjadi debu hitam dan melayang ke udara menuju langit.
"Baiklah, kau harus ingat tepati janjimu padaku SuSi!" kata Aska.
Air mata mulai menetes membasahi pipi Aska, dia tak bisa berkata apa-apa. Bagaimana dia bisa berbicara omong kosong tentang anak, apa Utari mau di sentuh olehnya. Calon suami Utari adalah Varo bukan dia.
Aska masih memandang butiran debu hitam SuSi yang terbang ke langit.
Serapuh itukah jiwa manusia, hidup di dunia sebagai bidak yang maha kuasa. Harus menjalani kehidupan sesuai takdir yang di berikan, dan tak bisa merubahnya.
Menaati tanpa tau siapa yang di taati, memyembah tanpa tau siapa yang di sembah. Ketika seseorang bertanya seperti itu, mereka tidak sadar bahwa pertanyaan itu sudah di tulis oleh yang maha kuasa di kertas takdir kalian.
Begitu juga hari ini, apa yang terjadi padaku pasti sudah di rencanakan dan di tulis rapi di sana. Keputusan yang baru saja ku buat pun juga sudah di tulis di sana.
"Utari aku akan membuatmu bahagia, seperti janjiku 900 tahun yang lalu meski tak pernah ku ucapkan secara lisan!" kata Aska masih sambil memandangi langit yang berwarna biru cerah yang sangat indah.
Tekat Aska membawanya masuk ke dalam rumah Utari, Aska memeriksa ruang tamu dan melihat dua sosok wanita itu sudah tak ada di sana.
Aska segera pergi ke atas dan mendapati Utari sudah berganti pakaian dengan setelan jas biru dongker yang sangat pas di tubuh rampingnya di depan cermin di dalam kamarnya.
"Kau mau kemana?" tanya Aska.
"Menghadiri rapat pemegang saham Devano Grup, kau mau ikut?" tanya Utari.
"Aku tak punya baju yang layak!" kata Aska lemas, paling tidak dia harus mengenakan jas jika mau ke pertemuan semacam itu.
"Kita masih punya waktu untuk beli!" kata Utari.
Senyum Aska segera mengembang, dan segera dia memeluk tubuh Utari tanpa rasa malu atau ragu lagi.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu!" bentak Utari.
Karena Aska tau Utari tak nayaman dengan sentuhannya, pria itu segera melepaskan tubuh Utari.
"Aku hanya terlalu senang karena mau kau ajak belanja!" kata Aska, dengan raut wajah mengoda yang membuat Utari bergidik jijik.
Mereka telah sampai di butik desainer ternama. Utari dan Aska di sambut hangat oleh salah satu kariawan di sana dan segera di antar masuk ke dalam ruang VIP yang hanya khusus untuk mereka berdua. Agar konsultasi dengan desainernya tak di ganggu pelangan lain tentunya.
"Ternyata kau orang yang sangat hebat Utari, kau bahkan bisa bertemu dengan desainer terkenal ini tanpa membuat janji dulu!" kata Aska.
Utari hanya diam dan terus berjalan mengikuti sang pegawai butik menyusuri lorong sempit dengan nuansa merah yang elegan menuju ruang VIP.
Sesampainya di sana sudah tersedia berbagai cemilan cantik dan wine yang sudah di tuang di Wine glass yang berbentuk cobernet, gelas wine yang cukup tinggi dengan bentuk lebar di bawahnya untuk menampung wine dan berbentuk kerucut di atas berfungsi untuk memperkuat aroma wine yang akan di nikmati.
Utari dan Aska segera di persilahkan untuk duduk di sofa hitam yang berbahan kulit di tengah ruangan yang cukup luas untuk ukuran ruang pelangan VIP.
"Bukankah ini terlalu luas?" tanya Aska, dia masih memandangi parabot mewah di dalam ruangan itu.
"Apa kau datang dari kampung, biasa saja Aska!" tegur Utari.
Aska pun duduk di sebelah Utari tanpa memberikan jarak pada tubuh Utari yang sudah duduk duluan.
"Geser!" bentak Utari.
"Kau ini kenapa, semenjak pingsan tingkahmu sangat aneh?" tanya Utari. Setahu Utari, Aska itu sangat membencinya.
"Entah, mungkin tubuhmu mengandung magnet jadi aku selalu bergerak menempel padamu terus!" jawab Aska, dia mengunakan raut wajah imutnya untuk merayu Utari.
"Kalau tubuhku mengandung magnet, tubuhmu pasti mengandung besi!" bentak Utari, dengan kekuatan penuh Utari mendorong tubuh Aska hinga hampir jatuh tersungkur dari sofa itu.
Jegrek....
Pintu terbuka, seorang lelaki gagah masuk kedalam ruangan VIP. Desainer terkenal Ipan Junawan, pria atletis yang tinggi dan tampan mirip bintang Bolywood Shaheer Sheikh.
"Bagaimana kabarmu cantik!" sapa pria tampan itu.
Aska pun hanya diam dan langsung insecure melihat kegagahan dan ketampanan pria terkenal dan mapan itu.
Gue cuma remahan renginag, yang menginginkan berlian.
"Baik Ipan, kau baik?" dengan penuh senyum yang menawan Utari menyambut pria super tampan itu.
__ADS_1
"Apa yang bisa ku bantu cantik!" Ipan langsung menanyakan tujuan kedatangan Utari ke butiknya.
"Aku butuh beberapa baju untuk menejerku yang baru!" kata Utari.
"Tentu saja sayang, dia tampan!" kata Ipan yang langsung memalingkan wajahnya ke arah Aska.
Aska pun segera berdiri dan dua pria beda proporsi itu saling berjabat tangan.
Ipan pergi ke meja besar ruangan itu dan menelepon melalu telepon kabel untuk memangil beberapa kariawannya.
.
.
"Kita seperti mengukur tubuh manekin Utari, kau pandai memilih menejer!" kata Ipan yang sibuk dengan bukunya karena pria gagah itu sedang mengambar desain jas untuk Aska.
Dua pegawai lelaki sudah selesai mengukur ukuran tubuh Aska.
"Apa kau tak punya yang sudah jadi?" tanya Utari pada Ipan.
"Aku punya banyak yang akan pas untuk Aska!" kata Ipan, dia langsung mengintruksikan agar kedua pelayannya mengambilkan apa yang ku mau.
.
.
Aska mendapatkan banyak baju dari Utari, dan kini Aska dengan gagahnya memakai jas hitam yang sangat pas di tubuhnya.
"Aku tampan kan?" tanya Aska, yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Banyak pria yang lebih tampan dari mu!" jawab Utari.
"Tapi aku ini manis dan baik!" Aska mencoba memperlihatakan kelebihanya pada Utari.
"Semoga saja itu benar!" desah Utari bosan.
"Kita tak punya banyak waktu lagi!" kata Utari.
"Kalau begitu mari kita berangkat sayang!" kata Aska.
"Sayang?" tanya Utari, gadis cantik itu merasa sangat aneh dengan perkataan Aska.
__ADS_1
"Jika kau mengatakan itu sekali lagi, aku akan membunuhmu!" ancam Utari, tapi terlihat jelas Utari tampak salah tingkah ketika Aska memangilnya dengan kata sayang tadi.