Kencana Utari

Kencana Utari
Cinta yang sesunguhnya


__ADS_3

Utari hanya menerima kecupan-kecupan yang di berikan oleh Aska, otaknya sudah tak sangup berfikir apakah ini waras atau tidak. Utari berusaha menikmati ciuman panas dari Aska, dia ingin membuat kuncup-kuncup bunga di pohon kehidupan segera mekar.


Tengkuk Aska semakin menunduk mengikuti postur tubuh Utari yang lebih pendek darinya. Lelaki itu tampak sangat menikmati apa yang dia lakukan, tanpa banyak berfikir.


Kecupan-kecupannya berubah menjadi hisapan dan juga l.u.m.a.t.a.n yang buas. Lidah Aska terus menyusuri setiap senti ronga mulut Utari, mencoba nenangkap lidah mungil Utari. Setelah berhasil Aska segera menghisap lembut lidah Utari, hal itu membuat tubuh Utari bergetar sejenak.


Sensasi yang luar biasa itu mereka nikmati sembari berjalan mencari tempat yang nyaman.


Seperti sudah hafal setiap jengkal rumah Utari, Aska mengiring tubuh munggil di dekapannya tanpa membuka matanya. Meski terpejam lengan kekar lelaki itu langsung bisa meraih gagang pintu kamar Utari.


Dengan mudah pintu besar itu ia buka, sedikit mengangkat tubuh mungil itu. Aska memaksa, meski tubuh Utari sepenuhnya sudah di dalam kendalinya.


Aska seperti tak ingin melepas bibirnya dari kenikmatan l.u.m.a.t.a.n yang juga mulai di balas oleh Utari.


Apa dia yang akan membuat bunga-bunga itu mekar...


Aska masih mendudukkan tubuh ramping Utari di sofa kamar Utari tanpa melepas ciuman ganasnya. Bibir mereka masih saling bertautan, mengulung kemesraan. Melepas kerinduan yang terpendam selama 900 tahun ini.


Saat Utari bisa merasakan betapa nikmatnya berciuman dengan Aska, gadis itu sejenak berfikir. Utari menjauhkan bibirnya dari bibir Aska, tapi Aska yang sudah seperti kesetanan. Jemari Aska kembali meraih dagu Utari dan mencoba memberikan l.u.m.a.t.a.n yang lebih nikmat di bibir mungil Utari.


Sebuah sentakkan kuat, membuat Aska terdorong dan terduduk di meja kaca di belakang tubuhnya. Wajahnya yang masih penuh nafsu pun sadar, dia baru saja memginginkan sesuatu yang bukan miliknya.


Utari terdiam dan segera berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu dengan mata berkaca-kaca pergi meningalkan Aska yang masih terdiam membeku yang terduduk di atas meja kaca.


"Maaf!" kata Aska.


Aska tak ingin terlambat memgatakannya lagi, dia bukan Salendra 900 tahun yang lalu. Aska tak ingin membuat Utari membencinya kali ini.


"Seharusnya kau diam saja, kenapa membalasnya?" tanya Utari tanpa memandang Aska.


"Lain kali aku hanya akan diam!" kata Aska.


Benar. Aska masih menginginkan kemesraan dengan Utari meski hanya sekedar ciuman panas seperti tadi.


Tanpa menjawab gadis cantik itu pun keluar dari kamarnya, terlihat dada membusungnya kembang kempis menahan gejolak yang begitu dalam yang tiba-tiba menyerangnya.

__ADS_1


Tiba-tiba setelah 900 tahun Utari tak ingin mati, dia ingin hidup hanya karena kasih sayang yang Aska berikan padanya. Mungkin saja kasih sayang yang Aska berikan padanya adalah kasih sayang palsu. Gadis itu tak bisa mengecek kebenaran itu mengunakan sihirnya.


Utari ragu, dia ragu, tapi menginginkannya.


.


.


.


.


"Tuan Jernih, ada seorang wanita yang mencari anda di lobi!" kata petugas lobi di kantor Devano Grub.


Petugas wanita itu memandang aneh ke arah Ratih yang sedang memperhatikan petugas wanita itu.


"Maaf mbak, siapa tadi nama mbak?" tanya petugas wanita itu.


"Ratih!" kata Ratih lembut.


"Baik pak, saya akan mengantar Mbak Ratih ke ruangan kantor anda!" kata petugas wanita itu.


Petugas wanita dengan name tag staff office dengan nama Melani itu menutup pangilan teleponnya.


"Mari mbak saya antar ke ruangan Pak Jernih!" kata Melani dengan sangat sopan.


"Di ruangan Pak Jernih ada siapa aja ya buk?" tanya Ratih pada Melani sebelum Melani sempat melangkah keluar dari meja office lobi kantor Devano Grub.


"Tentu saja, hanya ada Pak Jernih saja!" kata kariawan perempuan itu dengan pandangan berfikir bingung.


"Bisa minta tolong telfon Pak Jernih sekali lagi, suruh beliau menemui saya di sini saja!" kata Ratih sangat sopan dan lembut.


Meski dia merubah penampilannya dia tak akan merubah tabiatnya menjadi liar. Gadis itu masih ingat dan faham dengan apa yang dia pelajari selama ini. Berduaan dengan seorang pria dewasa di dalam satu ruangan adalah dosa dan akan menimbulkan fitnah.


Melani tampak sedikit bingung dengan permintaan Ratih padanya kali ini. Masih untung Pak Jernih mau menemui gadis udik ini di ruangan kantornya yang mewah dan private, tapi malah gadis udik ini meminta di temui di lobi yang akan banyak di lihat oleh kariawan Devano Grub.

__ADS_1


"Baik, saya akan...menelfon ke kantor Pak Jernih kembali!" kata Melani.


Singkat kata biar ngak terlalu panjang karena jari gue juga udah mulai mak kratak, pegel anjirrrrr.


Ratih dan Jernih sudah saling duduk berhadapan di salah satu sofa di lobi Devano Grub. Di hadapan kedua insan yang saling menatap dalam bingung itu telah terhidang masing-masing secangkir kopi hitam made in Bengko, Curup, Bengkulu yang sangat harum.


Sebuah informasi Desa Bengko ini indah sekali dan alam liarnya masih sangat liar. Kalau kalian mampir ke sana jangan kaget kalau ada banyak orang bawa golok atau pisau di pasar atau di jalanan. Mereka bukan mau mbegal, karena itu sudah tradis mereka begitu.


"Kau Ratih?" tanya Jernih, manik matanya tak bisa beralih dari wajah ayu Ratih yang baru pertama kali dia lihat.


Saat pertemuan untuk taaruf Ratih mengunakan cadar dan itu membuat Jernih tak percaya bahwa gadis yang akan dia nikahi bukan gadis cacat.


"Iya mas!" jawab Ratih dengan suara lembutnya yang masih di kenali oleh Jernih.


Mata lelaki begajulan itu langsung berbinar, ternyata gadis yang akan dia nikahi bukan gadis yang cacat tapi gadis dengan paras yang sangat ayu bak malaikat tanpa sayap.


"Saya ke sini untuk menyampaikan sesuatu!" kata Ratih dengan perasaan agak takut.


"Katakan saja!" Jernih sama sekali tak fokus pada perkataan Ratih, netranya masih terpukau dengan ke ayuan paras Ratih.


"Bagaimana jika kita menolak perjodohan ini!" kata Ratih.


"Apa?" Jernih seketika tersentak.


Bagaimana bisa saat dia baru mulai jatuh cinta dia sudah di tolak.


"Kelihatannya anda juga tak menyukai gadis sepertiku!" kata Ratih.


Ratih kembali membayangkan bagaimana ekspresi kesal Jernih saat datang ke acara taaruf di rumahnya seminggu yang lalu. Lelaki itu hanya menampakkan wajah bosan dan serasa ingin berteriak dan membakar tempat pertemuan.


"Aku suka kamu kok, siapa yang bilang aku tak suka kamu!" jawab Jernih sepontan.


Pandangan mata Ratih segera menyergap ke arah wajah malu-malu Jernih yang salah tingkah dan merasa menyesal dengan mulutnya yang ceplas-ceplos itu.


Entah kenapa senyuman manis terlukis di wajah ayu Ratih, apa kah gadis cantik yang lemah lembut ini telah lupa akan obsesinya pada Aska.

__ADS_1



__ADS_2