
900 tahun yang lalu....
Di sebuah rumah kuno yang cukup luas dengan beberapa bangunan besar yang terpisah, terlihat cukup riuh karena akan ada upacara pernikahan untuk putra bungsu keluarga itu.
Senopati Salendra Wirakrama dan Kanjeng Ndoro Putri Wasesa Anjani, putri tungal dari Ndoro Ageng Putra Mahkota Wasesa Cokro.
Terlihat di salah satu bangunan rumah Maha Patih Jatmiko, Salendra sedang berdiri menghadap ke luar jendela dengan tatapan dinginnya menengadah ke langit. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu menatap langit yang sedang cerah, butiran air mata menetes dari belahan pelupuk matanya yang terpejam setelahnya.
Laki berambut panjang ikal yang sudah di tata rapi itu menundukkan kepalanya dengan suara isakan lirih, tubuh gagahnya tak dapat menopang rasa sesak di dadanya dia ambruk dan meremas keras dadanya.
"Aku minta maaf padamu Utari,.... maaf kan aku!" kata-kata itu terucap di sela tangisnya yang semakin keras memenuhi renung jiwanya.
.
.
Dengan dandanan rakyat biasa Utari berjalan di bebatuan gunung yang terjal, senyum manisnya tak pernah lepas dari wajah cantiknya yang terlihat polos tanpa riasan modern. Dia mengunakan jurus meringankan tubuh untuk melewati tebing batu yang terjal itu.
Kaki kecilnya sangat lincah melompat dari batuan ke batuan lain, hinga mencapai dasar tebing. Utari di sambut padang ilalang yang luas, gadis itu hanya tersenyum bahagia dan mengoyang-goyangkan ilalang di sekitar tanah pijakannya.
Bocah perempuan itu baru saja menyelesaikan Topo Sukmo nya di gua Singo Putih di sebuah pulau yang cukup jauh dari Wanara tempat asal Utari.
Pendekar setengah Dewa dari Wanara, itu adalah julukan Utari saat itu. Gadis muda yang menguasai elemen angin dan juga air, dan kekuatan baru yang dia dapat dari Topo Sukmo nya di gunung Lelembut yaitu elemen Es.
Langkah gontai gadis periang yang memakai pakaian yang biasa di gunakan pria itu tengah menyusuri pelabuhan kecil di pulau tersebut. Setahun sudah Utari tak melihat keluarganya dia tampak sangat bersemangat menunggu kapal yang akan segera datang untuk dia tumpangi ke pulau asalnya.
Angin pelabuhan yang cukup kencang di nikmati Utari sembari melihat badan kapal yang sudah terlihat menuju arahnya, lambaian tangan cantiknya seakan menyerukan untuk mempercepat laju kapal besar itu untuk segera menjemputnya. Agar besok pagi Utari bisa sampai di pelabuhan seberang, dan setelah itu Utari akan melanjutkan perjalanan ke Wanara dengan kuda selama sehari semalam.
Di kapal Utari mendapat kamar dengan seorang pendekar lelaki yang ternyata dari Maladewa, musuh dari tanah kelahirannyanya. Hal itu di ketahui Utari dari pakaian dan bahasa yang di gunakan pria yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya mungkin seumuran dengan Salendra. Tapi Utari sekarang bukan sedang menjadi Tuan Putri dari Wanara, mereka hanya sesama pendekar di sana.
__ADS_1
"Ku dengar ada pemberontakan di Istana Putra Mahkota tahun lalu di Wanara!" kata lelaki bernama Praja itu.
"Bukankah kau dari Wanara?" tanya Praja lagi, lelaki itu cukup supel pada Utari yang jelas-jelas berasal dari kerajaan musuh.
"Yang musuhan itu kerajaan kita....kita di sini sama-sama pendekar kan?" kata Praja mencoba memecah suasana di kamar dek yang sempit itu.
"Sama saja goblok!" kata Utari, ternyata tindakan berusaha akrab pemuda itu pada Utari membuat gadis manis itu jengah.
Utari kembali mengendong buntelannya dan keluar dari kamar dek kapal itu untuk menghindari pria Maladewa itu.
"Apa kau tau kalau Wanara dan Denmak sekarang bersekutu?" tanya Praja, dan pertanyaan Praja membuat Utari menoleh ke arah Praja yang mengikutinya ke luar dari dek.
"Apa kau bilang?" tanya Utari dengan dahi berkerut bingung.
Wanara dan Denmak adalah dua kerajaan yang tak bisa akur, lalu kenapa Wanara mau bersekutu dengan kerajaan yang penuh tipu muslihat itu.
Praja berjalan bergegas mendahului Utari untuk pergi ke bagian luar dari kapal, memang kapal ini bukan kapal besi hanya kapal yang terbuat dari kayu. Tapi 900 tahun yang lalu kapal ini sudah termasuk kapal yang susah di buat dan sangat berharga.
"Apa sebenarnya maksutmu?" tanya Utari,
Senyuman kemenangan terlukis indah di wajah Praja karena berhasil menarik perhatian pendekar yang berhasil menguasai elemen es yaitu Utari. Tapi senyuman manis Praja segera hilang karena dia tak mau terlalu kentara karena harapannya telah terwujut.
"Saat ini Kaisar Wanara adalah Ndoro Ageng Wasesa Cokro!" kata Praja, dan di sambut dengan tatapan bengis Utari.
"Wasesa Cokro?"
"Dan Salendra Wirakrama yang menikahi Wasesa Anjani sudah di angkat menjadi Putra dan Putri Mahkota!"
Gengaman jemari Utari di lengan Praja melemah, gadis itu menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya. Ribuan pertanyaan sedang berputar di otakknya, dan dia masih mencoba berfikir kalau Praja mengenali dia sebagai Putri Kencana Utari dan mencoba menghasutnya.
__ADS_1
"Begitu ya!" Utari mencoba menyembunyikan kegelisahan di hatinya.
"Ngomong-ngomong kau dari keluarga mana, bukankah sangat jarang ada Pendekar yang dapat menguasai elemen Es?" pertanyaan Praja kembali menguncang emosi Utari,
Pria ini tak mengenali dia.
"Bagaimana kau tau aku menguasai elemen Es?" tanya Utari. Alasan pria ini tentang bagaimana dia bisa tau tentang elemen Es Utari, tak seberapa dari pada rasa ingin tau Utari tentang ke adaan tanah kelahirannya saat ini.
"Aku mengikutimu saat kau keluar dari gua Singo Puteh!" kata Praja jujur. Lelaki itu memang awalnya akan bertapa juga di sana,
Keraguan bahwa tak ada satu pun manusia yang bisa keluar hidup-hidup dari dalam gua itu membuat Praja menunggu selama satu minggu untuk memutuskan. Hinga Praja melihat Utari keluar dari dalam gua itu, dan karena penasaran Praja mengikuti Utari hinga di kapal ini.
"Kau mata-mata?" tanya Utari penuh curiga.
"Kenapa aku memata-matai pendekar sepertimu, asal kau tau aku ini Putra Kaisar Hashidadewa dari Maladewa!" Praja mulai sombong di ucapannya.
"Siapa namamu!" tanya Utari setengah tak percaya dengan ucapan pria yang baru saja di temuinya itu.
"Pangeran Saprajadewa!" kata Praja, berbisik di telinga Utari.
Utari mundur beberapa langkah dan melihat penampilan Praja dari ujung kaki sampai ujung kepala secara berulang-ulang. Dan dengan rasa tak percaya Utari tersenyum ke arah Praja.
"Kalau pandai mengarang!" gumam Utari.
"Hoyyyyy....aku ini benar-benar Pangeran tau!" karena merasa di rendahkan Praja akhirnya meninggikan suaranya, lalu menutup mulutnya karena baru sadar.
Jika ada yang tau dia Pangeran maka tamat lah riwayatnya, dia akan di culik dan penculik akan meminta tebusan pada ayah Kaisarnya dan yang paling tak di sukai Praja jika kejadian itu terjadi adalah ejekan dari kakaknya, Olokan dari para petinggi dan Istrinya tak akan mengijinkan dia pergi jauh dari Istana.
"Tenang, wajahmu itu tak memadai untuk menjadi Pangeran....meski kau muncul dengan Jubah kebesaran Pangeran, orang lain pasti hanya akan mengangap kamu mencurinya!" kata Utari.
__ADS_1
"Benarkah....ada untungnya aku lahir tak setampan kakakku!" kata Praja lega, padahal Utari sedang mengejeknya.