
Kuncup-kuncup bunga kehidupan mulai tumbuh di ranting-ranting yang tersisa. Kini ranting-ranting kering itu di penuhi oleh kuncup bunga yang berwarna ungu yang indah.
Sebuah tanda bahwa sang pemilik di cintai oleh seseorang, tepatnya dua orang kakak dan adik.
.
.
Ting Tong....Ting Tong....Ting Tong
Utari tersentak mendengar bunyi bel di rumahnya yang tak biasa berbunyi.
Langkah kaki jenjangnya segera menuruni tangga dan menuju pintu Utama. Utari tau yang datang kerumahnya pasti manusia, tapi dia tak menyangka yang datang kali ini adalah Varo.
Pria muda itu segera memeluk tubuh ramping Utari, padahal pintu baru saja di buka oleh Utari.
"Varo!" gumam Utari kaget.
"Aku sangat merindukanmu!" kata lelaki muda itu tanpa rasa malu sedikit pun.
Pelukan Varo di tubuh Utari semakin erat, dan Utari tak bisa mencegah lelaki ini untuk menyentuhnya.
Kuncup-kuncup di pohon kehidupan memang adalah alasan Utari, tapi pria muda ini mampu membuat Utari nyaman saat bersama dengannya. Pelukan Varo bukanlah hal baru bagi Utari, tapi Utari kali ini merasa khawatir jika Aska melihat apa yang dia lakukan dengan adiknya kini.
Utari takut Aska marah, Utari terhenyak karena perasaannya yang mulai aneh pada Aska.
"Apa kau tak merindukan aku?" tanya Varo.
Varo memiliki tinggi badan yang sama dengan Aska, tapi tubuh Varo yang masih belasan tahun belum terbentuk seperti tubuh Aska. Varo mempunyai tubuh kurus yang tinggi tapi menarik dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tentu saja aku rindu, bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Utari bingung.
Utari merasa tak pernah memberi alamat rumahnya pada Varo sebelumnya.
"Aku diam-diam mengikuti kak Aska, aku juga baru pulang sekolah!" kata Varo.
"Dia selalu melarangku saat aku ingin ikut dengannya kerumahmu, dia itu kakak kandungku apa bukan sih....jahat banget sama aku!" lanjut Varo dengan wajah marah yang malah terlihat lucu.
Di tubuh Varo masih melekat seragam sekolah putih abu-abunya yang membuatnya tampak semakin imut.
__ADS_1
"Begitu ya, kasian!" kata Utari.
Seperti biasa tangan kanan Utari membelai kepala Varo saat pria muda itu bertingkah mengemaskan seperti itu.
Sebagai balasan elusan lembut penuh kasih sayang dati Utari, Varo memberi kecupan singkat di bibir Utari. Tubuh Utari yang masih berada di depan Varo seketika tersentak.
Manik mata Utari memandang tajam ke arah kornea mata Varo. Dia ingin berkata.
Jangan menciumku,
Beberapa detik yang lalu bibirku ini....
Di cium oleh kakakmu.
Tapi belum sampai Utari mengeluarkan suara dari bibirnya, Varo kembali mencium bibir Utari sekilas dengan kecupan yang mesra.
Aska menyaksikan adegan mesra itu dari lantai dua, dia keluar dari kamar Utari karena bel pintu utama yang dia dengar. Dia tak menyangka akan melihat pemandangan menjengkelkan itu.
Hatinya sakit, Aska ingin menghentikan apa yang mereka lakukan. Tapi dia tak punya hak untuk itu. Dia bukan siapa-siapa.
"Aku punya film bagus, apa kau mau nonton bersamaku?" tanya Varo.
Varo membawa film Titanic kali ini. Varo memilih sendiri film ini dari internet, dia tak berani menanyakan film romantis yang hot lagi ke sembarang orang.
Semua mahluk yang hidup di rumah Utari menonton film itu di ruangan bioskop yang ternyata ada di ruang bawah tanah Utari. Rumah megah Utari memang sangat kumplit dengan fasilitas kelas wahit.
Dari semua mahluk di sana hanya Aska yang merasakan perasaan tertekan, saat dia menoleh ke belakang. Hanya beberapa kursi sofa dari tempatnya duduk Utari dan adiknya sangat bahagia dan begitu mesra.
Lelaki itu memutuskan keluar dari ruangan itu sebelum film habis di putar, Aska berjalan menuju halaman belakang. Kini pandangan matanya tertuju pada pemandangan kota yang terbentang indah di hadapannya.
Dia masih ingat pemandangan apa yang 900 tahun lalu sering dia nikmati di sana.
Dulu dari sana Salendra bisa melihat laut biru yang amat luas, letak gunung Lelembut dahulu ada di pulau kecil jauh dari manusia.
Tapi sekarang gunung mistis ini ada di pingiran kota, gunung yang tak bisa di lihat mahluk biasa. Hanya mahluk-mahluk yang terikat dengan pohon kehidupan yang bisa melihat gunung ini.
Varo juga bisa melihat gunung ini dan sampai di sini, anak itu juga terikat dengan pohon kehidupan. Tapi ikatan apa yang di miliki Varo dengan pohon kehidupan.
Suami Utari, apa semua orang yang mencintai Utari bisa melihat gunung ini. Aska kembali mengingat ingatan Salendra, Jatmiko ayah Salendra bisa melihat gunung ini.
__ADS_1
Jatmiko mati untuk mengugurkan bunga di pohon kehidupan yang sudah mekar kala itu. Bunga terakhir untuk Samada.
Setelah itu Samada menjadi manusia, tapi hidup dalam kesendirian dan kesepian karena Aruna gugur di saat pembantaian keluarga Utari.
Utari mengantikan Samada, bagaimana dia bisa menjadi penjaga. Kenapa dia bisa menjadi penjaga pohon kehidupan.
"Dia bunuh diri dengan belati pengasih,!" suara wanita terdengar dari belakang tubuh Aska yang masih tegak berdiri di halaman belakang rumah Utari.
"Ratu pantai selatan!" kata Aska ketika menoleh.
Wanita ini terlihat lebih modis kali ini, meski pakaian yang dia kenakan selalu saja bernuansa hijau.
"Utari bunuh diri?" tanya Aska.
"Iya, dia bunuh diri setelah membunuhmu, dia bunuh diri di padang ilalang tempat di mana dulu kau membuang mayat keluarganya!" kata Ratu Retno.
Wajah Aska langsung terlihat putus asa, ternyata dia penyebab penderitaan Utari selama ini.
"Jika saja, hari itu aku tak ingin mati mungkin Utari tak akan mengalami ini!" kata Aska.
"Kau minta untuk mati di tangan Utari, sebagai hadiah telah menjalankan tugas mengantikan Samada kala itu?" tanya Ratu Retno.
"Iya, ku pikir jika Utari berhasil membunuhku maka dendam di hatinya akan hilang!" kata Aska.
Air matanya tak bisa dia bendung lagi, Aska sampai terduduk ke rerumputan dia tak sangup lagi menopang penyesalan yang sangat berat menerpa tubuh kekarnya.
"Bagaimana pun, kau di lahirkan kembali untuk membebaskan Utari dari hukumannya. Entah dia minta kematian atau apa pun kau tak boleh mundur!" kata Ratu Retno.
"Aku tak akan pernah mundur, begitu bunga-bunga itu mekar aku akan membuat bunga-bunga itu gugur!" kata Aska tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya yang sudah basah oleh air mata penyesalan.
Ratu Retno memandang sedih ke arah Aska yang bersimpuh di sampingnya. Lelaki ini tampak sangat putus asa, dia harus menangung kesalahan ayahnya selama dua kehidupan.
Tapi Utari juga membutuhkan lelaki ini untuk bebas dari penderitaan, kehidupan panjang gadis manis itu telah membuat hatinya mengeras dan membatu.
Ratu Retno tak bisa melakukan apa pun meski dia ingin menolong pasangan kekasih ini.
"Aska....Utari membutuhkan cinta darimu. Jangan berhenti mencintainya apa pun yang terjadi, sebab wanita akan sangat kuat saat dia tau seseorang sedang mencintainya!" kata Ratu Retno.
"Aku akan terus mencintainya sampai kapan pun!" sumpah Aska.
__ADS_1