
Sekarang
Rasa penasarannya mengantarkan Aska ke sebuah pusat perbelanjaan yang terletak tak jauh dari kosannya, Aska berhasil tau kapan dan di mana Utari dan Varo janjian. Tentu saja dengan tipu daya, tipu muslihat dan tipu-tipu yang lainnya.
Aska tak mungkin bilang pada Varo dan mengutarakan kegundahan hatinya saat ini, dia sedang mengalami dejafu. Bagaimana istilah yang tepat untuk kondisinya yang hanpir sekarat karena kerinduan dan kebenciannya pada Utari yang melibatkan seorang tokoh kolosal yang bahkan tak ada di dalam buku sejarah.
Wajah menyerahnya terbingkai apik dengan topi hitam yang bertenger angkuh di kepala Aska, dia terus saja memicingkan mata jika ada seorang gadis atau remaja yang berperawakan mirip dengan Utari dan Varo. penampilan Aska lebih bisa di bilang Penguntit, karena dia mengenakan baju serba hitam dan berjalan penuh waspada.
Matanya meruncing tak kala melihat gadis dengan aroma yang dia kenal, tapi Aska merasa sangat femilier meski penampilan gadis itu cukup berbeda. Utari yang biasanya suka mengunakan gaun-gaun yang elegan dan berkelas, kini dia memakai celana jins dan jaket denim robek-robek.
Rambut yang di kucir kuda ke atas dan menyisakan poni tipis yang membuat wajah Utari semakin terlihat seumuran dengan Varo. Aska hanya bisa tertegun terpesona dengan kecantikan Utari, dia tak mungkin menghampiri Utari dan bilang "kau terlihat sangat cantik".
Aska masih ingat betul kalau dia pernah di dekati banyak cewek setipe Utari di kampusnya dulu, dan Aska sama sekali tak bergeming. Dia hanya bermain-main dengan semua perempuan yang menyukainya dan tak pernah merasa jatuh cinta sedalam ini.
Berdandan berlebihan, dan selalu berfikir penampilan adalah segalanya dan hanya peduli pada kepentingan mereka sendiri, Aska benci sikap jelek itu. Tetapi kenapa Utari seolah berbeda, padahal gadis itu yang paling parah dengan sifat egois dan suka memanfaatkan orang lain yang sangat kentara dia pelihatkan.
Sudah hampir 10 menit dia memperhatikan gadis yang duduk di kursi sebuah lestoran cepat saji yang berada tak jauh dari area bioskop itu, tapi Varo belum juga muncul. Sampai sebuah keluarga duduk di depan meja Utari dan kepala keluarganya malah duduk di hadapan Utari.
Utari dan lelaki itu tampak berbicara serius, dan setelah sekitar 10 menit pebincangan. Putri kecil dan istri pria itu berjalan keluar dari lestoran itu.
Aska baru sadar dia tak bisa bergerak sama sekali, semua orang yang dia bisa lihat tak bergerak sedikit pun. Aska melihat kepala keluarga yang berbicara pada Utari hanya bisa melihat ke arah Istri dan anaknya tanpa bisa bergerak seperti Aska.
Aska mencoba sekuat tenaga untuk mengerakkan tubuhnya tapi, sama sekali tak bisa bergerak. Dia hanya bisa melihat wanita yang tampak hamil itu mengandeng putrinya yang mungkin baru berusia 5 tahun berjalan lurus menuju pagar pembatas.
Ibu dan putrinya itu menghentikan langkahnya dan berdiri diam di depan pagar pembatas.
Aska melihat lagi ke arah lestoran, Utari dan pria itu masih mengobrol dan sang lelaki tampak sangat tak berdaya di buat Utari.
Dan sekian detik kemudian Ibu itu mengangkat putri kecilnya dan melempar putrinya ke luar pagar pembatas.
__ADS_1
Aska terbelalak ngeri, bagaimana ibu hamil itu tega melakukan hal itu.
Bunyi terjatuhnya tubuh mungil itu mengema di iringi riuhnya suara-suara orang-orang yang kembali bisa bergerak normal.
Teriakan mulai terdengar bersautan di lantai paling bawah bagunan ini, Aska melihat ibu yang melempar anaknya sudah ada di lestoran duduk di depan suaminya dan tampak bingung mencari anaknya, yang paling aneh lagi Utari telah raib dari lestoran itu.
Teriakan semakin menjadi-jadi, Aska yang berdiri di dekat pagar pembatas perlahan memutar badannya dan melihat ke bawah. Kondisi gadis 5 tahun itu sangat mengenaskan dan di dekat tubuh terkulai remuk dan genangan darah segar di lantai putih itu, berdirilah Utari.
Aska bisa melihat Utari membuka sebuah buku kuno di dekat mayat gadis kecil itu, bayangan putih yang mirip gadis kecil itu seperti tersedot ke dalam buku kuno itu.
Buku apa itu, kenapa aku seperti pernah melihatnya...
Aska terdiam tak kala dia mengingat salah satu mimpinya,
Dia berdiri di depan wanita cantik yang tampaknya bukan Utari, dia memperlihatkan isi buku itu. Tulisannya tak dapat di mengerti oleh Aska, tapi seakan dia tau.
"Aku punya permintaan!"
"Apa itu, Salendra?" wanita cantik yang lembut itu menagil Aska dengan nama lain.
"Aku tak akan mengorbankan siapa pun untuk ketamakkan ayahku....tapi aku minta, biarkan aku mati di tangan Utari!"
Perkataan yang mirip dengan suaranya itu membuat Aska bergidik ngeri,
Sebenarnya apa yang terjadi antara Utari dan dia di masa lalu....
Kenapa dia terus mendapat minpi-mimpi yang tak jelas...
.
__ADS_1
.
.
Aska terduduk diam di sebuah kursi taman di salah satu taman di pusat kota, lamunannya menerawang jauh ke angkasa. Dia tampak murung, dia sedih, dia marah.
Dia ingin bertanya.
Tapi tak tau siapa yang bisa menjawab pertanyaannya.
Meski dia mencari juga tak menemukan jawabannya.
Dia terus mencoba menyatukan semua kepingan mimpi-mimpinya dan perasaan yang akhir-akhir ini membuatnya kacau.
Karena tak menemukan apa pun Aska menahan nafas frustasi, wajahnya menengadah ke langit dan memandang gumpalan-gumpalan awan di langit. Tampak awan putih mulai berkumpul di atas kepalanya dan beberapa titik air jatuh dari langit membasahi wajahnya yang putih mulus.
"Sial!" desahnya, dia berdiri dan mencari apa pun untuk berteduh.
Hujan deras membasahi bumi, tak lama hanya sekitar 20 menit tapi cukup membuat udara panas di ibu kota menjadi sejuk. Aska tak tertarik lagi dengan urusan Utari atau pun Varo, dia tau jika dia mengikuti Utari lagi mungkin dia akan menyaksikan banyak hal yang akan lebih menegerikan dari siang tadi.
Bocah galau itu kembali ke kosannya dan selalu saja berhenti sejenak di gang arah ke rumah Ratih, seperti rem otomatis telah di pasang Ratih di kaki Aska. Lagi-lagi kegalauan bocah galau itu naik beberapa persen saat mengingat momen-momen pacarannya dengan Ratih yang bisa di bilang tak banyak tapi berkesan.
.
.
.
Utari dan Varo tak jadi menonton di bioskop, alhasil mereka menonton film di kamar Varo. Ayah dan ibu bocah polos itu sedang tak di tempat, membuatnya menjadi penguasa di rumah besar di keluarga Sanjaya itu.
__ADS_1
Dan bengeknya Varo malah memutar vidio film yang di rekomendasikan kakak Ravael yang pecinta drama korea.
Mereka memutar film Frozen Flower film semi 19+ dengan seting kerajaan dinasti Goryeo dengan cerita kisah percintaan Raja dan Ratu serta pengawal pribadi Raja itu sukses membuat Varo kalang kabut sepanjang Film. Sementara Utari tampak biasa saja dan menikmati Film yang di putar.