
Ini terlalu banyak....pekik Varo dalam hati.
Mimik wajah menahan nafsunya, menoleh ke arah Utari yang tampak biasa aja saat adegan ranjang pertama di tampilkan film itu.
Utari tak akan mengangapku cabul kan....
Varo terus saja khawatir dan baru sadar senjata rahasianya sudah bereaksi di bawah sana, segera dia mengambil bantal sofa yang dia sandari dan dia taruh di atas pangkuannya.
Adegan ranjang ke dua. Nafas bocah SMU itu sudah tak beraturan, dan mulai tak nyaman dengan posisi duduknya. Sementara Utari masih dengan ekspresi biasa saja.
Apa dia pengikut budha...
Lagi-lagi Varo menelisik ekspresi di wajah Utari yang masih saja datar.
Varo sebenarnya minta rekomendasi film yang romantis dan sedikit hot, tapi malah di kasih rekomendasi film semi yang hot sekali oleh kakaknya Ravael.
Adegan ranjang ke 3. Varo sudah tak tau harus bagaimana, tubuhnya sudah tak bisa tenang.
"Kau kenapa?" tanya Utari lembut, telapak tangan Utari yang selembut sutra itu menyentuh tangan Varo.
"Filmnya, terlalu fulgar bukan?" tanya Varo sambil menahan getaran di seluruh syarafnya.
"Biasa saja bagiku,!" ucapan Utari membuat fikiran Varo semakin berkeliaran ke tempat-tempat yang tak seharusnya.
Utari malah melepas jaket denimnya dan kaus putih tipis ketat itu membuat tubuh bagian atasnya terlihat sangat luar biasa di mata Varo.
Apa dia mau merayuku...
Pandangan Varo fokus ke leher jendang Utari yang sangat terlihat mengiurkan.
Gerakan pelan dada Utari ketika bernafas.
Bibir Utari yang bergerak lembut sambil menikmati film di layar televisi Varo.
Tanpa Varo sadari dia mengecup pipi Utari, seketika Utari menoleh ke arah Varo. Mata ke duanya bertemu dan sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Utari.
Mata Utari terbelalak dia tak menyangka akan mendapatkan ciuman dari Varo, dan sebuah kecupan lagi...
Kebekuan Utari saat menerima perlakuannya di tangkap radar kelelakian Varo sebagai lampu hijau untuk Varo. Di usia pubertas seperti dia sangat tak mungkin menahan gejolak semacam itu ketika pasangannya diam saja tanpa menolak sentuhan seperti itu.
Kecupan-kecupan lembut Varo menyusuri setiap senti bibir Utari yang terasa manis di bibir Varo, Utari yang masih tak faham dengan keadaan hanya menuruti insting hormonnya untuk membalas ciuman Varo.
tok....tok...tok....
Suara pintu kamar Varo di ketok...
__ADS_1
Cekrekkkkk
Seketika Varo melepas ciumannya pada Utari. Dia terbelalak kaget karena suara desahan kenikmatan dari percumbuan dua pemain film di TVnya mengema keras di seluruh penjuru ruangan itu.
Tapi yang paling menbuat Varo tak habis pikir adalah, Utari yang malah meraih wajahnya dan menciumnya kembali.
Orang di balik pintu pun masuk ke dalam ruangan kamar Varo yang gelap, untuk menambah asik Varo mematikan lampu kamar itu dan hanya megandalkan cahaya dari layar TV.
Posisi Varo sudah terlentang di tindih tubuh Utari di atas sofa panjang itu, karena dorongan Utari yang cukup bertenaga saat meraih wajah Varo yang mencoba menjauhinya.
Orang yang baru saja masuk langsung terperangah dengan adegan film yang sedang di putar dan Utari yang bagun dari atas tubuh Varo dengan cara yang sangat seksi.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Aska,
Ayah dan Ibunya menyuruh Aska ke rumah karena pembantu mengabari kalau Varo bersama seorang gadis di dalam kamar.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini!" tanya Utari dan di ikuti Varo yang bangun dari posisi berbaringnya.
"yakkkkk...kalian bahkan belom 18 tahun!" teriak Aska.
Varo dan Utari duduk di sofa ruang tengah rumah itu dan Aska duduk di depan mereka, dengan pandangan galak yang dia sangar-sangarkan tapi tak sangar itu mencoba mendominasi keadaan.
"Apa yang tadi kalian lakukan?" tanya Aska pada adiknya,
"Nonton film kak!" jawab Varo.
"Aku ngak tau itu film gituan kak!" jawab Varo jujur.
"Sebelum menikah, kalian tak boleh melakukan hal semacam itu!" Bentak Aska.
"Iya Kak aku tau!" jawab Varo, yang seketika lunglai dan menatap Utari yang tak memperhatikan percakapan mereka, malah melamun memandang jam dinding berdiri yang terbuat dari kayu jati di pojok ruangan mewah itu.
Sepasang netra Aska juga tak luput dari pemandangan langka itu, Utari yang tampak melamun memikirkan sesuatu.
Apa di dalam kepala wanita ini ada otaknya...
Kenapa tiba-tiba dia memikirkan sesuatu...
.
Dengan alasan untuk mengantar Utari, Aska kini menyetir mobil baru Utari yang belum lama ini dia beli menyusuri jalanan sepi yang terus menajak.
Ingat rumah Utari yang terletak di puncak gunung,
Utari masih saja diam, dan pandangannya menerawang entah kemana. Sebenarnya apa yang di fikirkan Jelmaan setan iblis ini,
__ADS_1
Apa adegan film yang baru saja dia tonton dengan Varo, dia terusik karena hal itu...
"Apa yang kau fikirkan?" tanya Aska,
Utari masih tak bergeming dan masih di posisi bersandar pada kursi penumpang dan memandang tajam lurus kedepan.
"Oyyy apa kau sedang berfikir, memang kau punya otak di kepala kecilmu itu?" tanya Aska lagi.
"Diam, dan fokus menyetir saja!" desah Utari malas.
Apa dia memikirkan kejadian di pusat perbelanjaan tadi siang??
Dia melakukannya karena tugas, dia pasti terpukul karena harus melakukan itu....
Ternyata dia masih punya sisi lembut juga, di balik sikap kejamnya....
"Kau bisa cerita padaku, jika kau merasa tertekan!" kata Aska, dia tak mendengar perintah Utari untuk diam.
Akhirnya wajah songong Utari menoleh ke arah Aska yang sedang mengemudi.
"Berapa banyak manusia yang pernah kau cium?" tanya Utari,
Pertanyaan Utari sukses membuat Aska kehilangan harapan, ternyata dia sedang memikirkan adegan panas di film tadi.
"Aku tak menghitungnya!" jawab Aska, dia mengatakan itu karena ingin membuat Utari jengkel.
"Itu artinya kau tak hanya berciuman dengan ku saja kan?" Utari mengatakan pertanyaannya tanpa memandang Aska.
Ni anak kenapa, sih kok malah mbahas ciuman....
"Kenapa?" Aska tak mau berprasangka karena isi otak Utari itu pasti kelabang, jadi selalu mikir hal-hal nyeleneh.
"Tadi aku berciuman dengan Varo, dan rasanya lain....tak sama dengan rasa ciuman yang kau berikan!" dengan santainya gadis sinting itu berkata seperti itu.
"Aku merasa kelembutan, perasaan yang tulus dan hangat serta rasa ingin melindungi saat berciuman dengan Varo tadi!"
Penjelasan Utari yang detail itu membuat Aska terdiam meski masih fokus pada kemudinya karena tikungan tajam tepat di depan laju mobil yang dia kemudikan.
"Sedangkan ciumanmu, terasa seperti orang itu....kemarahan, dan rasa kecewa serta perasaan ketakutan, itu membuatku gugup dan ingin kabur!"
Utari menjelaskan tanpa melihat ke arah Aska yang sedang menahan gejolak di hatiku.
"Fokuslah menyetir, aku masih menyayangi mobil baruku ini!" teriak Utari, saat Aska meremas setirnya.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Aska.
__ADS_1
"Di kehidupan yang lalu kau sama sekali tak mencintaiku Salendra !, Kau hanya ingin memanfaatkan ku untuk mencapai keserakahanmu, lalu kenapa waktu itu kau tak menusukku juga?" pernyataan Utari membuat lelaki itu menginjak rem mobil itu sekuat tenaga, dan membuat Utari hampir mencium dasbor di depannya.