
"Apa kau sudah bosan hidup di dunia ini Askaaaaaaa!" teriakan Utari, suaranya yang melengking tinggi hampir meretakkan kaca mobil mewah itu.
Aska melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dan menutup kembali pintunya. Dia berdiri di tepi jalan dan tampak raut wajahnya sangat berantakan.
"Kau kenapa?" bentak Utari yang juga ikut keluar.
"Kau yakin pria yang bernama Salendra itu hanya memanfaatkanmu?" tanya Aska, Utari tak bisa menjawab pertanyaan Aska. Dia juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Salendra di masa lalu.
"Bagaimana jika lelaki itu sangat mencintaimu?" tanya Aska,
Entah kenapa Aska di kuasai emosi yang tak bisa dia tahan. Dia selalu kehilangan kendali saat Utari memgatakan tentang Salendra.
"Apa kau menyukaiku?" tanya Utari pada Aska, kini Aska yang tak bisa menjawab pertanyaan Utari.
"Kau membenciku kan?" Utari hanya bersedekap di samping mobilnya.
"900 tahun lebih aku hidup di bumi ini, tapi tak ada 1 mahluk pun yang pernah jatuh cintai padaku!" jelas Utari.
Pernyataan Utari membuat Aska merasa bersalah, dia menundukkan kepalanya dan menata kembali amarahnya.
"Siapa yang akan mencintaimu jika kau menyebalkan begitu?" Aska sepertinya sudah tak punya rasa takut untuk mengutuk wanita jelmaan setan iblis itu.
Utari tak menjawab pertanyaan Aska, karena di otaknya kini sedang memikirkan kata-kata Aska tentang Salendra yang mencintainya.
Bayangan peperangan Maladewa dan Wanara di masa lalu kembali berputar di ingatan Utari....
Salendra tak mungkin mencintaiku dengan sungguh-sungguh...
Kalau dia mencintaiku, dia harusnya...
Utari dan Aska berbaring di tempat tidur mereka masing-masing di rumah mereka, tapi mereka masih terjaga dan memandangi langit-langit kamar mereka dengan isi kepala yang penuh pertanyaan.
"Harusnya kau membunuhku juga waktu itu,!" desah Utari.
Bayangan peperangan 900 tahun lalu kembali ter-play di memori otak Utari, dia masih ingat bagaimana bernafsunya Salendra ketika mengejarnya dan menjadikannya buronan di Wanara sebelum dia di buang ke Maladewa.
"Kenapa dulu kau tak membunuh wanita iblis itu?" gumam Aska,
Aska mengingat lagi kepingan-kepingan mimpi yang dia dapatkan setiap malam, dan dia mengingat tentang Utari yang memgunakan pakaian seorang jendral di film-film kolosal.
Penampilannya yang tampak lusuh dengan noda bercak darah hampir di setiap bagian tubuhnya. Utari mengayunkan pedang ke arah Salendra dan menusuk jantungnya. Sedangkan Salendra membelokkan pedangnya agar tak melukai gadis itu.
"Semoga kau berumur panjang, dan selalu berbahagia. Aku titip putraku!"
__ADS_1
Itu ucapan terakhir Salendra dan ingatan wajah putranya yang masih bayi terlelap di ayunan, menjadi ingatan terakhirnya.
Suara adzan subuh berkumandang. Aska terkesiap, nafasnya tampak terengah. Lagi-lagi dia mendapatkan mimpi aneh, dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menyadarkan dirinya.
Aska terus bertanya kenapa dia berada di situasi yang aneh ini, apa dia sedang menjadi pemeran utama di sebuah film horor. Ini lebih menakutkan dari kisah horor mana pun.
Karena jika hantu kau bisa datang ke ustad untuk di doakan, tapi apa yang ku alami ini. Utari itu mahluk apa, dia bukan hantu, bukan manusia, bukan siluman, dan bukan malaikat, apa lagi Tuhan dia juga tak seperti iblis.
Aska segera membuang lamunanya dan kekamar mandi untuk mengambil air wudhu, dia harus rajin ibadah agar Utari menjauhinya.
Sujutnya ke arah kiblat setidaknya membuatnya sedikit tenang, lantunan doa bahasa arab mengema indah di ruangan kamar kosan sempit itu.
Aska baru menyadari beberapa hari terakhir dia memang selalu berdoa untuk di tunjukkan siapa Utari itu,dan dia mendapat mimpi-mimpi yang aneh.
Benarkah Utari telah hidup lebih dari 900 tahun, lalu kenapa ada manusia yang setua itu tapi terlihat seperti gadis 17 tahun.
Apa Utari adalah seorang penyihir, mengunakan jiwa manusia untuk mempertahankan kecantikannya. Dan bodohnya Aska jatuh cinta pada pendosa seperti itu..
Aska memutuskan untuk mengunjungi rumah Utari pagi itu, dia hendak mengeluarkan motornya dari garasi. Tapi Aska urungkan, dia baru ingat kalau Aska membawa mobil Utari semalam untuk pulang. Aska memarkirkan mobil itu di depan jalan raya, dia titipkan di garasi bengkel milik temannya.
Dengan langkah gontai Aska berjalan ke depan gang, dan seperti biasa dia akan berhenti sejenak di depan belokan gang ke arah rumah Ratih. Mobil kuning yang di idamkan Utari terparkir di depan rumah Ratih.
Mobil yang hanya ada 1 di Indonesia saat ini, kenapa dia parkir di sana.
"Tebakanmu benar!" kata Utari yang sudah muncul di sebelah Aska.
Penampilan paripurna Utari membuat Aska langsung tercengang kaget.
"Sejak kapan kau berdiri di situ?"
"Baru saja!" jawab Utari yang menenteng tas ping mungil dan berkacamata pink dengan mantel bulu coklat serta rok mini coklat susu yang mengembang, tak lupa sepatu kets Chenel menghiasi kakinya.
"Apa kau harus berdandan berlebihan begitu setiap hari?" tanya Aska yang tak mengangap Utari norak tapi malah cantik.
"Wanita berdandan untuk dirinya sendiri, jika kau tak suka tutup matamu atau biar ku congkel sini!" Utari langsung naik pitam saat di singung soal cara dia berbusana,
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Aska.
"Aku rindu mobilku,!" jawab Utari.
"Kau rindu mobilmu atau aku?" tanya Aska kepedean.
"Kenapa aku harus merindukanmu?" tanya Utari balik, tentu saja dengan mimik wajah jijik.
__ADS_1
"Karena aku tampan!" kata Aska.
"Masih banyak lelaki yang lebih tampan darimu!" Jawaban Utari langsung menancap ke ulu hati Aska, dan dia tak peduli.
Benar saja seorang lelaki keluar dari rumah Ratih dan tampak keluarga Ratih sangat menyambut baik pria itu.
"Mereka di ikat benang jodoh!" kata Utari. Aska hanya melihat pemandangan di depannya itu dengan pandangan yang biasa saja.
Bagaimana bisa dia merasa biasa....
Saat tau Ratih bukan miliknya, tapi milik lelaki lain. Aska tak merasa sakit, cemburu atau...paling tidak marah.
Kenapa dengan hatiku, hormonku...
Seleraku....aku berubah secepat itu...
Pandangannya langsung tertanam ke wajah Utari yang di penuhi senyuman.
Kenapa aku hanya bisa memandang nya saja sekarang...
"Jangan mengejar sesuatu yang bukan milikmu, kau tak akan mendapatkannya. Tapi kau bisa menjual jiwamu padaku untuk Ratih!" jiwa seles Utari kembali muncul, dia sama sekali tak bisa tak promosi akan jasanya. Baginya jiwa-jiwa yang tamak harus di serap semua oleh pohon Kehidupan.
"Aku sama sekali tak percaya kata-katamu Iblis!" kata Aska.
"Kau ingin lihat?" tantang Utari.
"Aku akan memberimu hadiah, kau pria yang kuatkan dan tak gampang ketakutan?" tanya Utari.
"Apa yang akan...!"
Utari mendekat ke arah Aska dan lagi-lagi iblis Utari menghentikan waktu dengan sihirnya, tubuh Utari melayang ke udara, kini wajahnya dan wajah Aska berposisi sejajar.
"Bersiaplah!" kata Utari.
Aska hanya bisa diam dan memperhatikan wajah cantik Utari yang tanpa cacat itu.
Hembusan nafas Utari yang harum menerpa wajah Aska, dia mengerjap dan waktu kembali normal.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Aska.
"Lihat di sana!" Utari menunjuk ke arah Ratih yang sedang berbincang dengan lelaki yang baru saja keluar dari rumahnya.
Benang merah....telah mengikat mereka....
__ADS_1