Kencana Utari

Kencana Utari
Karya wisata sejarah


__ADS_3

Pangeran Saprajadewa/ Jernih Devano








"Kenapa ayah memintaku menikah dengan wanita yang memakai serbet panjang kemana-mana!" Jernih Devano,


Lelaki reingkarnasi Pangeran Praja itu duduk di kursi penumpang dan mengoceh kesal sendiri, dia baru saja melihat calon istrinya. Dia langsung kecewa melihat penampilan Ratih Fatimah yang syari dan hampir semua bagian tubuh wanita itu di tutup kain.


"Apa yang coba di sembunyikan wanita itu, apa dia punya penyakit kulit yang serius?" tanya Jernih pada supirnya.


"Bisa jadi!" sopir Jernih adalah sahabatnya sendiri namanya Boy, tapi bukan Boy anak jalanan. Dia Boy si anak setan.


(Kira-kira setan beranak di rumah sakit apa di kuburan????🤔🤔🤔)


"Aku tak bisa menikahinya Boy!" kata Jernih dengan penuh keraguan.


"Jangan di nikahin kalau ragu...tapi apa bisa kau pisah sama Devano Grup?" tanya Boy.


"Tentu tidak!" kata Jernih ngegas, dia tak mungkin bisa meningalkan penyokong kehidupan nyamannya.


"Nikahin aja kalo gitu!" kata Boy, ni anak emang ngak pernah berguna sepanjang hidupnya.


"Ngasih solusi kek!" Jernih frustasi sekali karena apa yang akan di katakan sahabat bagsatnya ini tak akan pernah ada gunanya.


"Ya itu solusinya Jer!" Boy hanya terus fokus menyetir, seakan tak merasa apa yang sedang di galaukan sahabat baiknya itu.


Alasan Jernih tak menyukai Ratih bukan cuma penampilannya yang berlebihan, tapi juga ocehan keagamaan yang mungkin akan membakar kupingnya setiap hari jika dia benar-benar menikahi Ratih.


.


.


.


.


Waktu akan merubah segalanya, Utari yang menjadi saksi akan kebenaran perkataan itu. Dia hidup di beberapa Zaman, dari zaman kerajaan, zaman penjajahan, kemerdekaan, revolusi, menjadi negara berkembang.


Dari Waktu ke waktu ketamakkan manusia semakin merajalela, menimbulkan perang, kerusuhan, bencana. Apa semua kejadian itu ada campur tangan Sang Penjaga.


Dari semua manusia yang tamak itu hanya sedikit yang bisa bertemu dengan Utari.


Gadis cantik dengan penampilan yang menarik, dengan kekuatan magis yang paling kuat di antara mahluk sejenisnya. Gelar penjaga Pohon Kehidupan adalah milik Dewi atau Dewa, tapi hal itu malah menjadi kutukan untuk Utari.


Manusia tak akan pernah menjadi Dewa, begitu pula Dewa tak akan pernah menjadi manusia.

__ADS_1


Waktu terus berputar tanpa membuatnya menua, apa itu sebuah anugrah. Tentu saja bukan, bagi Utari semua yang dia punya sekarang adalah Hukuman.


Manusia punya rasa bosan, rasa cinta dan banyak rasa yang lainnya. Hal yang tak bisa di rasakan oleh Dewa-Dewi.


.


.


.


.


Sore itu semua siswa kelas tiga yang akan melakukan karya wisata tentang sejarah kolonial di Banten sudah berkumpul termasuk Varo dan Aska selaku guru sejarah.


Karena di ancam poin nilai akan di kurangi jika ada siswa yang tak ikut, maka semua siswa yang berjumlah ratusan itu ikut semua.


"Harusnya aku langsung ke Belanda sekalian, kenapa malah ke daerah-daerah plosok...desa apa tadi namanya?" tanya Rose, gadis paling populer di Neverland.


"Sajir......sujin.....tajin....entahlah aku lupa!" guman Ravael yang menurunkan tas ranselnya dan di letakkan di atas koper berukuran sedang yang dia bawa.


"Untung pak Aska ikut, jadi ngak bakal bosen aku di sana!" kata Rose, sambil tersenyum indah ke arah Aska yang sedang mengatur siswa-siswanya untuk naik bus.


Varo yang duduk di atas kopernya masih sibuk mengutak-atik layar Handphonenya. Dia sibuk mengirim Chat pada Utari tapi tak kunjung di balas.


"Kalian dari kelas Venus naik Bus pertama!" kata Aska.


Perkataan Aska di sambut oleh siswa-siswa di sana dengan malas, para anak sultan kok di ajak ke perkebunan Belanda di Banten. Pasti ngak akan ada semangat-semangatnya.


"Yes Ser!" jawab Rose, dan di ikuti semua temannya. Hanya Varo yang tak ikut menjawab karena sibuk dengan dunianya sendiri bersama Utari di dalam Smart Phonenya.


Perjalanan menaiki bus yang hampir tiga jam itu membuat para siswa tampak letih dan mereka semua menginap di sebuah hotel di kota banten sebelum ke desa pelosok orok.


Aska kebagian menginap dan menjaga siswa di kelas Venus, dan mendapat jatah kamar dengan Varo.


"Kak makan keluar yuk!" ajak Varo.


"Tadikan udah makan!", Aska melihat arloji di pergelangan tangannya, pukul 11 malam.


"Laper kak!" rengek Varo.


Akhirnya Aska mau tak mau menuruti permintaan adiknya itu, karena perutnya juga melilit kelaperan.


Mereka memutuskan makan di warung pecel lele pingir jalan di depan Hotel tempat mereka menginap.


"Punten...mau pesan apa mas?" dengan logat sunda yang mendayu-dayu si pedagang menyapa kami.


"Kamu apa Ro?" tanya Aska,


"Bebek goreng aja sama tahu tempe!" jawab Varo.


"Bebek mas dua, sama nasi, minumnya es teh manis satu, es teh tawar satu, lalapannya yang banyak, sambelnya juga banyak.!" kata Aska dengan cepat lalu duduk di kursi plastik di samping Varo.


"Kenapa kamu kusut begitu!" tanya Aska, ke adiknya yang memang terlihat sama sekali tak ada daya kehidupan sepanjang sore tadi.


"Apa Utari orang yang sibuk?" tanya Varo,

__ADS_1


Aska menerawang ke angkasa dan membayangkan Utari yang kerjaannya hanya malas-malasan di rumah, belanja, marah, dan gadis itu hanya punya satu kesibukan lain di sela-sela hal itu, yaitu gerjain dia.


"Utari adalah orang yang sangat sibuk!" kata Aska, dengan tatapan tak percaya ke arah atap terpal warung itu.


"Dia mengurus perusahaannya sendiri, karena ayah dan ibunya sudah meningal. Dia seorang diri di dunia ini, kasian sekali dia kak!" kata Varo, Aska yang lebih tau siapa Utari hanya mencibir kesal.


Meski benar keluarga iblis itu sudah meningal semua tapi mengurus perusahaan apa, dia hanya menjaga sebatang pohon selama 900 tahun, kenapa engak menjaga lilin sekalian. Benar-benar tak masuk akal.


"Pokoknya aku akan menjadi suami yang baik dan bisa di andalkan oleh Utari, dan pasti bisa melindunginya!" Kata Varo dengan semangat dan serius.


Tapi Aska sudah tak kuat menahan tawanya....


"Hahahhahahahhhaaaaa Varo kau lucu...lucu sekali!" kata Aska, dia menepuk pungung atas adiknya untuk menambah semangatnya.


"Kenapa kakak tertawa?" Varo menoleh ke arah kakaknya yang tertawa setelah mendengar celotehan bersemangatnya.


"Kakak tak percaya aku bisa menjadi lelaki seutuhnya?" tanya Varo.


"Percaya kok, aku juga akan membantu mu dengan terus menjadi asisten Utari!" kata Aska, tapi ekspresi di wajahnya segera berubah masam.


Kenapa aku menjanjikan hal itu,


Melihat Utari berbicara asik dengan cowok lain saja Aska sudah pontang-panting. Apa lagi melihat Utari menikahi Varo dan hidup bahagia, dan punya anak.


"Trimakasih kak!" Ucap Varo.


Pesanan kita telah sampai dan si abang penjual dengan ramah menanyai kami sambil menyajikan makanan yang kami pesan.


"Mas-mas ini dari Jakarta ya?" tanya pria paruh baya berkumis tipis itu.


"Mau ke mana kayaknya bawa romongan banyak pisan?" tanya si pedagang dengan logat sundanya seakan tak lekang oleh waktu.


"Ke desa Sajir pak, ke perkebunan VanTill!" kata Aska.


"Jangan....jangan ke sana, belom lama ini ada serangan binatang buas!" kata pedagang itu, tentu saja dengan mimik yang nakut-nakutin.


"2021 di pulau jawa masih ada binatang buas?" tanya Aska heran.


"Iya mas....orang di sana memangilya Kerud!" Aska sebenarnya tak percaya akan hal mistis, tapi setelah Aska bertemu Utari dan mendapat hadiah Indra keenam dia jadi percaya.


"Kerud?" tanya Varo.


"Siluman macan kumbang!" kata Pedagang itu.


.


.


.


.


Trimakasih buat Kerud si macan kumbang


Di ambil dari Novel

__ADS_1


Serial the Van Till House



__ADS_2