Kencana Utari

Kencana Utari
Keputusan


__ADS_3

Ratih menatap dirinya di dalam pantulan cermin besar di kamarnya, sebuah keputusan telah di ambilnya. Gadis syari itu kini mengenakan rok hitam lebar dan kaus oblong panjang berwarna putih longar yang di masukkan kedalam roknya. Serta pasmina yang di tata indah untuk menutupi kepalanya.


Dia telah mantap untuk merubah penampilannya, dia tak mau menjadi sebuah boneka orang tuanya lagi. Langkah kaki bersepatu kets itu melengang santai keluar dari kamarnya.


"Astaghfiruloh hal adzim Ratih, kamu apa-apaan ganti bajumu!" bentak ibu Ratih.


Ini adalah pertama kali di dalam hidup Ratih di bentak oleh ibunya. Ratih adalah anak yang baik dan tak pernah membantah sejak kecil, tapi hari ini gadis penurut itu sudah berubah.


Rasa tertekan atas tindakan kedua orang tuanya yang tak memikirkan keinginannya membuatnya memberontak, bahkan seekor semut akan mengigit gajah jika di injak.


"Ratihhhhhh cepat ganti bajumu!" perintah ayahnya, pria tua itu sudah mengacungkan tongkat kayu yang selalu di pegangnya kemanapun dia pergi.


"Apa aku maling, apa aku penjahat, kenapa orang tuaku sendiri memperlakukanku seperti sampah!" teriak Ratih.


"Kau tak mau mendengar ayah lagi!" bentak ayah Ratih semakin keras.


"Ayah, aku hidup di negara demokrasi tapi aku bahkan tak bisa berpendapat di rumah ayahku sendiri!" kata Ratih butiran air mata telah menetes deras di pipi gadis muda itu.


"Ratih, ganti bajumu nak!" kata ibu Ratih dengan nada lembut.


"Ir Soekarno pernah berkata. Jika jadi orang Hindu jangan jadi orang India. Jika jadi orang Islam jangan jadi orang Arab. Jika jadi orang Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah menjadi orang nusantara dengan adat bangsa ini!" jelas Ratih.


"Aku tak mau di jodohkan dengan lelaki itu dengan cara taaruf ayah, ibu!" lanjut Ratih.


"Taaruf adalah proses perjodohan yang paling baik di agama kita Ratih, jangan membantah ayah dengan selogan tak beragama seperti itu!" kata Ayah Ratih masih dengan suara kerasanya.


"Apa ayah menanyai semua orang yang di jodohkan dengan cara taaruf satu persatu ?, tak semua pernikahan dengan cara taaruf itu bahagia, dan tak semua orang yang menikah setelah pacaran tak bahagia!" kata Ratih, ini adalah perdebatan yang paling panjang yang pernah dia lakukan dengan kedua orang tuanya.


"Ayah aku sudah dewasa, biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Aku mohon!" kata Ratih.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya Ratih melangkah keluar dari rumahnya. Dengan wajah penuh air mata Ratih keluar dari dalam pintu rumahnya. Tapi hatinya sangat lega, dia seperti baru saja bebas dari penjara dengan masa hukuman seumur hidup.


Dia tersenyum sepanjang jalan dan tak malu-malu lagi untuk menyapa para tetangganya. Semua mata juga tampak kagum dengan tingkah Ratih pagi itu. Gadis tertutup yang terkesan kolot itu sekarang telah berubah ramah dan terlihat normal.


Wanita bukanlah tempat dosa, wanita bukanlah sampah yang tak boleh terlihat. Tapi wanita adalah mahluk yang sama derajatnya dengan pria, wanita adalah mahluk dengan kasih sayang yang tak terbatas.


.


.


.


.


Di sebuah kamar mewah disalah satu rumah sakit ternama, seorang petinggi salah satu fraksi partai terbesar di negara ini tengah terbaring dengan keadaan yang begitu memprihatikan.


Pejabat DPR yang di segani itu, kini hanya berbaring di ranjang empuk rumah sakit dalam keadaan setengah gila.


Hartono Sulaiman tengah melamun dalam diam sambil terbaring lemah di tempat tidur pasiennya, matanya hanya menatap jendela dan di fikirannya kini hanya di hiasi kenangan para tumbalnya yang mengantarkannya sampai ke tempat ini.


Ibunya yang renta dan pekerja keras, wanita tua yang bekerja menjadi buruh pemanen padi di sawah untuk menghidupi 11 anaknya. Ayah mereka sudah lama meningal dan menyisakan wanita tua itu dengan anak-anak yang masih kecil. Senyum rentanya, nasehat-nasehat sederhananya, kedip mata sayu yang lelah, semua kenangan sedih itu tengah berputar di otak Sulaiman.


Ibunya adalah tumbal pertamanya dan tumbal ke duanya adalah cinta pertamanya, wanita tercantik di desanya. Rasa cintanya pada gadis itu mendorongnya untuk menandatangani perjanjian dengan Utari.


Jika dia kaya, siapa yang akan berani menolaknya. Gadis itu dulu menolaknya mentah-mentah karena kemiskianan Sulaeman.


Bukannya benci tapi Sulaeman malah semakin teropsesi untuk mendapatkan Nadirah, meski dia harus menumbalkan wanita itu sebelum sempat meminangnya.


Korban ke tiga adalah putra pertamanya yang masih bayi saat itu. Sulaeman sudah berencana untuk di penumbalan berikutnya, dia akan meminta Utari untuk mengambil nyawanya saat hari itu tiba.

__ADS_1


Tapi semua orang tengah membicarakan Utari yang sangat mirip dengan ibu dan neneknya, serta kekayaannya yang tak bisa di ketahui oleh negara. Sulaeman bercerita tentang Utari ke banyak orang yang dia temui, termasuk keluarga Devano yang dengan segala keberuntungannya mendapat uluran dana dari Utari.


Gadis itu datang ke rumah sakit di mana Sulaeman di rawat, dengan gaya glamornya yang selalu paripurna. Hari ini Utari mengenakan topi floppy hats merah yang mencolok, dan gaun putih se lutut serta Dolce & Gabbana devotion micro bag, high hlees LV merah senada dengan tas dan topinya.


Wanita itu sukses mencuri perhatian setiap pasang mata yang di lewatinya. Dengan langkah tegapnya dan pembawaan yang angun serta berkelas siapa yang tak akan kagum dengan kecantikan dan kekayaan Utari. Dari ujung kepalanya sampai kakinya seakan tak pernah di sentuh oleh barang murah.


Sulaeman akhirnya menoleh saat Utari memasuki ruangannya, dia segera bangun dan menyuruh para pengawal di kamarnya untuk keluar.


"Menceritakan identitasku pada manusia lain adalah hal bodoh!" kata Utari.


"Maaf kan aku Utari, aku hanya merasa...!" Sulaeman mencoba mencari alasan.


"Karena aku sedang bahagia aku akan melepasmu, tapi aku butuh bantuanmu!" kata Utari.


"Bantuan apa?" tanya lelaki tua itu kaget, bagaimana orang seperti Utari memohon bantuan pada manusia biasa seperti dia.


"Carikan aku keluarga yang mau merawat seorang anak perempuan berusia 11 tahun!" kata Utari.


"Anak siapa itu?" tanya pria tua itu dengan penuh tanda tanya.


"Jangan banyak bertanya, carikan saja keluarga yang baik yang akan menyayangi anak itu!" kata Utari.


"Baiklah!" lelaki tua itu menyangupi permintaan Utari.


"Gunakan dua tahun terakhirmu dengan baik, siapa tau nanti yang menjemputmu bukan aku!" kata Utari.


"Kau mencurigakan Utari!" kata pria tua yang masih duduk di ranjangnya.


"Aku hanya ingin pengsiun, sudah 900 tahun aku menjalani profesi ini. Ini sangat memelahkan!" kata Utari.

__ADS_1


"Di tambah dengan para pengacau seperti mu yang tak tau trimakasih, benar-benar sangat menyebalkan!" lanjut Utari dengan nada kesal yang mengancam.


"Aku tak akan mengulanginya lagi Utari!" kata lelaki tua itu dengan wajah ketakutannya.


__ADS_2