Kencana Utari

Kencana Utari
Masa yang sangat indah


__ADS_3

Salendra hanya berlari mengikuti tarikan kuat di salah satu lengan tangannya, gengaman yang harusnya dia pertahankan sampai Salendra mati.


.


Utari terus menarik pergelangan pria muda yang masih saja terpesona oleh kecantikan dan juga ketegasannya, tak banyak gadis bangsawan di masa itu punya keberanian seperti yang di tunjukkan Utari.


Di saat perempuan di angap tak lebih berkuasa dari lelaki, Utari tanpa rasa takut bertenger menginjak ketidak adilan itu. Dia bahkan berani berteriak kepada bandit bertubuh besar yang menguasai daerah kota.


Tanpa protes Salendra terus mengikuti arah kaki Utari melangkah, akhirnya mereka sampai di tepi kota dan teriakan bahagia Utari membuat Salendra sadar. Dia baru saja di selamatkan oleh seorang Putri Bagsawan.


Tapi para bandit masih mengejar dua anak kecil itu tanpa rasa lelah. Kaki-kaki kuat dan berotot para bandit terus bergerak menuju dua anak kecil yang lemah itu.


"Apa mereka gila!" kata Utari kesal. Dia melanjutkan larinya ke dalam kota dan Salendra dengan tersenyum melihat selendang dan rok Utari yang berkibar indah mengikuti irama berlarinya.


Akhirnya mereka masuk sebuah toko kain dan pakaian dan sembunyi di sana.


"Kanjeng Ndoro Putri, anda dari mana saja Patih Jatmiko mencari anda dari tadi!" kata pemilik toko dia seorang pria yang cukup kemayu, pangil saja dia Mawar.


"Paman, kau tak bilang kalau aku dari sini kan?" tanya Utari dengan wajah songong dan juga tangan-tangan kecilnya sudah berkecak di pingang mungilnya.


"Tapi anda dari sini dan menghilang!" kata Mawar dengan kemayunya.


"Mati lah aku!" kata Utari yang tubuhnya tiba-tiba lemas seperti kehilangan tulangnya.


Suara riuh di luar terdengar sangat keras dan mengangu pendengaran mereka bertiga, dengan penuh rasa penasaran mereka segera mendekati jendela kayu yang sudah terbuka di samping bangunan kayu yang cukup mewah itu.


"Bandit, siang-siang begini, sangat tidak cocok!" kata Mawar yang langsung menutup jendela rumah tokonya itu.


Melihat gerak-gerik Utari dan Salendra yang langsung mengendap-endap ketika tau ada bandit di luar, seketika Mawar menjadi curiga.


"Kalian yang membawa bandit gunung itu kesini?" tanya Mawar dengan wajah penuh curiga.


"Untuk apa kita membawa bandit gunung, ya tampan!" kata Utari, pada Salendra.


Salendra hanya diam karena di bilang tampan, dan baru menunduk mengiyakan saat Utari meyengol bahu Salendra dengan bahunya.

__ADS_1


"Kalian ini benar-benar!" teriak Mawar histeris.


Mawar yang mempunyai nama lengkap Raden Pangeran Daniar Wongso, Pangeran yang lebih memilih menjadi pedagang karena dia tak menyukai politik Istana yang keruh dan penuh gejolak.


Mawar meningalkan Istana dan melepas gelar Pangerannya untuk hidup sebagai rakyat biasa dan berdagang, serta menjalankan usaha keluarga ibunya yang seorang Selir kesayangan Kaisar yaitu memproduksi kain dengan kualitas tinggi untuk Istana.


.


Seorang lelaki muda yang gagah menaiki kuda coklat kemerahannya dan memasuki kerumunan para bandit di pusat kota, seragam militer berwarna perak yang terkesan kuat membuat Lodra semakin berkharisma.


Lodra turun dari kudanya, dan menghampiri para bandit yang sudah mengacungkan semua senjata mereka ke arah Lodra.


Senyuman penuh kemenangan sudah terlihat di wajah Lodra yang tampan bahkan sebelum dia menarik pedang Sasonggo kebangaan keluarganya.


Para bandit dengan tanpa rasa takut langsung maju untuk menyerang prajurit yang hanya sebiji itu. Tentu saja para bandit itu tak tau seperti apa kehebatan Lodra sang penerus keturunan klan Hasa.


Klan dengan kemampuan kanuragan beraliran Api yang sangat di takuti oleh pendekar di seluruh penjuru Benua Besar.


Dengan gerakan yang cepat, tangan berotot Lodra sudah menebas beberapa bandit yang berlari memyerangnya. Gerakan secepat kilatnya yang di dapatnya dari latihan kanuragan bertahun-tahun itu seperti tak bisa di lihat dengan mata manusia biasa.


"Luar biasa,!" Kata Utari, dia dan Salendra serta Mawar melihat ke arah pertempuran dari jendela yang di buka kembali dengan tatapan seperti saat kamu melihat bandrol baju brended di pusat perbelanjaan.


"Hiehhhhh, jadi kau anak ke dua dari Patih Jatmiko?" tanya Utari.


"Iya!" kata Salendra dengan senyum bangga.


"Aku tak percaya!" lagi-lagi Utari mengeleng dengan senyum mengejek.


"Ya sudah!" kata Salendra, dia tau semua orang pasti akan meremehkannya jika dia bilang adiknya Lodra si Pedang Api.


Seorang pemuda muncul dari arah jalan yang berbeda dengan jalan yang di lewati Lodra, dengan pakaian bangsawan yang mewah bernuansa putih dan emas yang berkilauan. Serta kuda putih dengan pelana yang senada, membuatnya bak malaikat di siang yang terik ini.


Rambut hitam panjangnya yang di tata rapi, dengan teknik tertentu. Kharisma kegagahannya tak kalah dengan Lodra, tapi pemuda ini tampak lebih berwibawa dari Lodra.


Dia adalah Ndoro Ageng Pangeran Kencana Aruna, putra pertama Ndoro Ageng Putra Mahkota Sri Kencana Kusuma. Kakak dari Kanjeng Ndoro Putri Kencana Utari.

__ADS_1


Lelaki itu turun dari kuda putihnya dan segera mencabut pedang Arsesa, Pedang Es yang biasa di gunakan Utari di masa depan itu adalah pedang yang hanya bisa di gunakan seseorang yang telah menguasai elemen es secara sempurna.


Sementara itu hanya Kakaknya yang mampu menguasai pedang kebangaan keturunan kerajaan Wanara itu.


Gelombang panas yang mungkin mencapai 40°C siang itu tak melelehkan Es yang di hasikan oleh kekuatan Pangeran Aruna yang baru saja merampungkan Topo Sukmo nya di Gua Singo Putih dia Gunung lelembut di pulau terkutuk.


Dua pendekar berbeda aliran itu saling berkerja sama untuk mengalahkan seluruh bandit gunung yang mengejar Utari dan Salendra.


Tak perlu waktu lama, seluruh tubuh bandit-bandit itu sudah tergeletak tak berdaya di tanah. Dengan luka bakar yang parah atau kaku karena membeku.


"Lihat duo si tukang pamer kita!" Sambut mawar, pada Aruna dan Lodra yang sudah masuk ke dalam tokonya.


"Kami ngak pamer paman, hanya pemanasan!" sahut Lodra, yang memang sudah sangat akrab dengan Mawar sejak lama.


Mawar adalah anak bontot kaisar, usianya masih sangat muda seumuran dengan Lodra dan juga Aruna.


Tiga orang ini seperti pria yang tak bisa di sentuh di Wanara. Gelar dan kehebatan, serta kemartabatan mereka membuat mereka mengalami penyakit jomblo kronis yang cukup tragis.


Tak ada yang mau mendekati pria gemulai tapi kaya dan juga keluarga kerajaan seperti Mawar.


Atau pria tampan yang garang penuh semangat berapi-api dan yang pasti terlihat selalu berantakan seperti Lodra.


Serta pria dingin yang berwibawa berlebihan, cuek dan tak punya perhatian seperti Aruna.


Para gadis di Wanara menyebut tiga pemuda naas ini dengan sebutan Segitiga kematian.


Pesona yang mematikan dari setiap kharisma wajah tampan mereka, membuat para gadis menyebutnya begitu.


Padahal mereka bertiga tak lebih dari seorang pria yang di rantai untuk tunduk pada Istana.


"Kakak!" kata Utari dengan gaya manjanya, dia segera keluar karena melihat kakaknya yang sudah setahun tak dia lihat.


"Kau di sini, anak manis!" puji Aruna.


"Putri Utari manis sekali, apa setiap hari kau mandi dengan madu?" tanya Lodra.

__ADS_1


Utari tersenyum tersipu karena di puji oleh lelaki dewasa yang sangat luar biasa seperti Lodra.


"Lelucon anda kuno, tapi aku suka!" kata Utari, mulut pedasnya yang tak bisa berbohong.


__ADS_2