Kencana Utari

Kencana Utari
Parlemen


__ADS_3

Seperti rapat pemegang saham pada umumya, rapat pemegang saham di Devano Grup membahas arah bisnis perusahan tambang itu kedepannya dan memperkenalkan Utari sebagai pemegang saham minoritas terbesar di perusahaan tersebut dengan persentase saham 14%.


Aska berdiri di depan sebuah ruangan dengan raut wajah gelisah dan tampak cemas, di tambah gerakan mondar-mandirnya di depan pintu ruangan itu menambah aura kegelisahannya semakin menjadi-jadi.


Kegelisahan Aska tentu saja karena Utari belum keluar dari ruangan rapat, sebab Utari di ajak berbincang oleh Brian Devano dan juga Jernih Devano, serta seorang asisten yang sangat cantik dan seksi.


Asisten itu mempunyai wajah cantik khas gadis Rusia, berbibir seksi, hidung yang mancung dan lancip serta bola mata yang berwarna cerah.


"Saya merasa terancam, jika Sanjaya Grup dan SH Kencana bergabung. Mungkin kalian bisa mengalahkan Arkana Grup di kanca pasar Asia!" kata Jernih Devano.


Pria gagah yang terlihat lebih mirip bos gengster itu, berbicara pada Utari yang terlihat santai. Jernih duduk di sofa panjang yang sama dengan ayahnya, sementara Utari duduk sendiri di sofa single didepan mereka.


Bagaimana tidak, dua ayah dan anak ini terlihat punya hobi yang sama. Yaitu tato, Utari bisa melihat corak tato naga di salah satu lengan ayah dan anak itu.


"Arkana Grup bukan perusahaan untuk di tandingi, mereka punya segalanya!" kata Utari.


"Anda benar, tapi ada isu yang menyebut kekayaan keluarga Kencana tidak terbatas!" kata Brian Devano.


Utari hanya memandang mata lelaki tua yang berdiri di depannya itu.


"Anda bahkan bisa membuat orang biasa menduduki kursi parlemen dengan mudah, serta menjadikan bisnis kecil menjadi bisnis yang luar biasa. Apa anda seorang penyihir?" tanya Brian Devano dengan wajah serius.


"Jika saya bilang iya apa anda akan percaya?" tanya Utari dengan santainya.


"Tentu saja tidak, anda orang yang memang berpengalaman dalam bisnis dan infestasi. Mudah bagi keluarga anda untuk membuat semua hal yang tak mungkin menjadi mungkin di negara kita ini!" kata Brian Devano dengan senyum ramah pada Utari.


"Saya sudah berinvestasi sangat besar di perusahaan anda, tapi kelihatannya anda akan menusuk saya dari belakang!" kata Utari, dia sadar pembicaraan mereka sedang di rekam oleh kamera dan pengeras suara yang di pasang di fas bunga di depannya.


Dengan mengunakan sihirnya yang tak bisa di lihat oleh kedua orang itu, Utari menghancurkan benda tersebut sampai tak berfungsi lagi. Yang pasti tanpa menimbulkan suara apa pun.


"Apa maksut anda Nona Utari, kami...!" kata Brian masih dengan nada sok ramahnya.


Tapi pandangan Utari malah menuju ke Jernih yang langsung salah tingkah karena di pandang oleh Utari dengan tatapan setajam itu.


"Aku di sini untuk mendukung Jernih, dan aku berharap kau tak mengecewakanku Jernih. Merusak reputasi orang lain dan merebut tender mereka...itu cara yang sudah usang. Aku tau kau lebih bisa di andalkan dari pada buaya kloningan ini, berbisnislah dengan benar Ratih akan menuntunmu!" kata Utari.

__ADS_1


Jernih tampak sangat bingung dengan nasehat dari Utari barusan.


"Dari mana anda tau aku di jodohkan dengan gadis bernama Ratih?" tanya Jernih.


"Karena Ratih adalah temanku, jangan sakiti dia. Atau kau akan mendapat balasan dariku!" ancam Utari.


Tanpa berpamitan Utari berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Aku bukan penyihir Brian Devano, tapi aku adalah iblis!" kata Utari dengan santainya.


Dua lelaki di dalam ruangan itu hanya bisa melonggo dan saling tatap, mereka tak menyangka Utari adalah gadis dengan mulut yang sangat pedas dan juga sangat berani.


.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aska, mereka sudah di dalam mobil.


"Besok pagi antar aku ke gedung parlemen!" kata Utari.


"Untuk apa, kita kesana?" tanya Aska bingung.


"Baiklah!" jawab Aska.


"Malam ini aku tidur di rumah mu ya, ini sudah terlalu malam untuk pulang!" Aska memberanikan diri untuk lebih mendekati Utari.


"Tidak!" jawab Utari dengan nada ketusnya.


"Kenapa?" tanya Aska.


"Ketika malam, para pelayan hantu ku....!" jawab Utari.


Belom sampai alasan Utari di ucapkan Aska sudah bisa membayangkan kelakuan hantu-hantu di rumah Utari ketika malam hari.


"Ok, aku pulang saja!" kata Aska dengan nada ketakutan.


.

__ADS_1


Di gedung yang sangat besar itu Utari telah siap di sisi mobilnya mengisi amunisi senjata laras panjang M4 Carbine yang entah dia dapat dari mana.


Dengan santainya gadis bergaun merah panjang itu dengan angunnya melangkah masuk ke dalam gedung parlemen dengan menenteng senapan laras panjang di tangannya.


Tanpa ada satu orang pun yang menyadari gadis itu sudah sampai di tengah ruangan rapat dewan yang tengah di selangarakan.


Utari mengangkat senjatanya dan di tepatkan di bahunya yang setengah tertutup oleh kain gaun yang berpotongan of shoulder. Jemari tanga kanannya sudah kokoh memegang pistol grip dan jari telunjuk Utari yang lentik sudah siap menarik pelatuk untuk membidik. Salah satu mata indahnya mengintip dari celah lensa.


"Siapa dia?" teriak salah seorang dari mereka yang tapaknya hanya dia yang menyadari kehadiran Utari di tempat itu.


Moncong senjata Utari pun sudah menuju ke arah lelaki itu.


"Hayyyy apa kalian tak lihat wanita itu membawa senjata....hayyyy lihatttt ituuuuu!" kata lelaki tua yang beruban.


Lelaki tua itu adalah salah satu angota parlemen yang amat di cintai oleh rakyat karena semua keputusan yang dia buat selama menjabat selalu berpihak pada rakyat.


Setelah matanya melihat dengan lebih jelas, karena dia menengerkan kacamatanya di atas hidungnya. Lelaki tua itu terduduk lemas, seingat dia ini belum waktunya iblis itu menjemputnya.


Dengan kecepatan luar biasa Utari sudah nagkring di atas meja parlemen dan jongkok di depan pria tua itu, dia mengelus wajah keriput pria itu dengan ujung moncong senjata yang dia bawa.


"Jika kau terus bergosip tentang diriku, kau bisa mati lebih cepat pak tua!" kata Utari dengan senyuman menyeringai yang khas darinya.


"Tolooonggggg ammmpuniiii sayaaaaa!" katanya lirih,


Semua orang yang mengikuti sidang parlemen itu segera mendekati pria tua yang ketakutan itu.


"Kau tau aku tak suka mengampuni siapa pun?" tanya Utari yang langsung berdiri dan mengarahkan senjatanya kearah tubuh renta di depannya.


Utari menarik pelatuk pelontar peluru di senjata itu tanpa henti hinga peluru di dalamnya habis.


Lelaki tua itu merasakan rasa sakit tembakan itu, tapi tak ada satu goresan luka pun di tubuhnya. Karena rasa sakit yang di terimanya lelaki tua itu sampai terjatuh dari kursinya dan menggelepar-gelepar di lantai persis seperti orang yang baru saja terkena banyak tembakan di perang.


Tanpa peduli akan teriakan orang yang ketakutan, orang yang berlari ke atas menghampiri lelaki tua tadi serta perkataan si pemimpin sidang yang tengah bingung.


Utari dengan gaya santainya menuruni ruangan itu dengan melompat dari meja demi meja dengan angunnya.

__ADS_1


__ADS_2