
Ketiga teman sepermainan itu akhirnya melepas rindu satu sama lain, saling bercerita pengalaman masing-masing.
Utari dan Salendra yang waktu itu masih kecil hanya bisa sedikit menyerap pembicaraan para kesatria yang sangat hebat di negri Wanara mereka.
5 tahun setelah hari itu terjadilah sebuah serangan gaib pada kekaisaran Wanara. Banyak kematian tiba-tiba tanpa alasan, dan kematian mendadak itu tak hanya menewaskan warga biasa tapi juga para bangsawan serta beberapa Senopati dan Tumengung.
Wanara gempar, Kaisar dan Putra Mahkota akhirnya menyuruh Aruna dan Lodra untuk mencari asal-usul serangan goib itu secara diam-diam. Agar tak terjadi rericuhan dan mengoyangkan tiang-tiang pemerintahan serta menyebabkan pemberontakan atau serangan dari luar.
.
Ayah Lodra yaitu Patih Jatmiko adalah dalang dari semua yang terjadi pada Wanara kala itu.
Salah satu kesatria terkuat Wanara yang harusnya melindungi tanah kelahirannya malah membuat sebuah kesalahan yang akan merubah takdir negrinya.
Patih Jatmiko membuat kontrak dengan Dewi Penjaga. Jatmiko meminta agar keturunannya menjadi penguasa di Wanara, dan tumbalnya adalah Lodra.
.
Malam itu Aruna berjaga dengan mengunakan kekuatan mata batin yang bisa merasakan kehadiran mahluk aneh di seluruh kota Wanara, dan saat menjelang tengah malam dia merasakan sesuatu memasuki kota.
"Kau merasakan sesuatu Aruna!" tanya Lodra yang dari tadi hanya duduk santai dan makan cemilan di dalam kamar Aruna.
"Dia kerumahmu!" kata Aruna.
Tanpa basa-basi lagi kedua pendekar tersakti di Wanara itu menuju rumah Patih Jatmiko.
Dengan kesaktian yang mereka miliki tak sampai satu menit mereka sudah sampai di sana, tapi Aruna merasakan aura aneh itu pergi ke arah hutan.
Mereka bisa menghadang aura aneh itu di dalam hutan, aura itu berasal dari wanita pelayan yang sedang berlari ketakutan entah karena apa.
"Siapa kau?" tanya Aruna, dia sampai beberapa detik sebelum Lodra.
__ADS_1
"Saya pelayan di rumah Ndoro Patih Jatmiko Tuan,!" kata wanita itu, tentu saja dia berbohong.
"Auramu sangat kuat, kau bukan manusia biasa!" kata Aruna, dia masih menghadang langkah pelayan wanita itu.
"Dia hanya pelayan Aruna, lepaskan dia!" kata Lodra.
"Bukan dia punya kesaktian yang bahkan tak bisa ku lihat, dia pasti lebih sakti dari pada kita Lodra!" jelas Aruna.
"Jangan bicara omong kosong, Aruna....akkkkkkk!" pekik Lodra.
Tubuh Lodra langsung terduduk lemas dengan kedua tangannya mengengem erat dadanya.
"Kau benar Pangeran, aku bukan manusia biasa.!" akhirnya pelayan wanita itu merubah dirinya seperti wujut aslinya.
Gadis cantik bermata hitam legam yang indah, kulit seputih kapas dan rambut hitam panjang yang bergelombang wanita itu mengenakan pakaian putri bangsawan dengan kain terbaik.
"Dewi Penjaga, ternyata kau tak hanya sebuah mitos!" kata Aruna yang langsung bisa menebak apa yang sedang dia hadapi.
Aruna tau dia akan kalah, tapi melihat Lodra yang sedang sekarat membuatnya bertekat untuk menghabisi Dewi sialan yang sangat cantik itu.
Tapi dengan lincahnya Dewi cantik itu bisa menghindari pukulan Aruna, Aruna tak menyerah dia membuka sarung pedangnya dan sebuah kilatan biru keluar dari pedang itu.
Pedang Es dalam kekuatan penuh dengan aura biru sempurna dan mata Aruna juga berubah menjadi biru. Dewi Penjaga hanya mengunakan tangan kosong dan tanpa mengeluarkan kekuatannya untuk menahan semua serangan Aruna tanpa membalas atau pun menyerang.
Tampaknya si Dewi cantik dengan aura hitam yang jahat itu sudah terpana dengan ketampanan Aruna yang sedingin es. Hinga tak sadar akan serangan Aruna yang akhirnya berhasil membekukan tubuh seksi Dewi sialan itu.
Hal itu membuat tubuh Lodra terkulai ke tanah dan itu artinya penumbalan jiwa Lodra telah gagal, Aruna berhasil menyelamatkan sahabatnya dari penumbalan.
Tapi dia juga sadar Dewi Penjaga akan menghajarnya sampai mati karena telah mengagalkan tugasnya. Dewi Penjaga, sudah siap dengan energi hitam di tubuh cantiknya. Dia berjalan perlahan ke arah Aruna setelah melelehkan Es abadi yang membelengu tubuhnya dengan sihirnya.
Dewi Penjaga tak boleh melukai seseorang yang tak terikat kontrak dengan pohon Kehidupan.
__ADS_1
Karena aturan itu Dewi Penjaga tak bisa melukai Aruna secara fisik, Dewi penjaga mengunakan sihir agar waktu bersenti. Saat itu mata hitam yang tajam itu menatap wajah tampan Aruna yang membeku karena waktu berhenti.
"Tampan sekali!" kata Dewi Penjaga itu.
Jemari lentik dengan kuku tak terlalu panjang yang di cat hitam itu menelusuri setiap lekuk wajah Aruna, dengan tatapan penuh nafsu wanita gaib itu melepas pakaian luarnya sendiri tanpa mempedulikan ke adaan sekitar.
Waktu kembali berputar, Aruna tampak linglung setelah Dewi itu mengucapkan beberapa mantra ke telinganya. Pandangan Aruna kosong, tubuhnya telah di kuasai oleh Dewi Penjaga.
Bibir mereka sudah saling memberi kecupan, lidah mereka saling bertautan dan terdengar bunyi hisapan-hisapan penuh nafsu yang memecah kesunyian malam yang gelap ini.
Lolongan serigala terdengar dari seluruh penjuru hutan yang seakan iri akan percintaan mahluk beda Sepesies itu. Erangan-erangan kenikmatan mereka berdua mengalun bagaikan dialok romantis di pertunjukan opera di Villa InCanto Opera Lirica Italia. Seakan di iringi musik klasik jeritan lirih tertahan dari bibir seksi Dewi Penjaga terdengar merdu bak penyanyi Seriosa.
Setelah nafsu birahinya terpuaskan Dewi Penjaga melepaskan tubuh Aruna yang sudah lemas, tentu saja dengan bekas-bekas khas manusia yang bercinta dengan panas.
Tak lupa Dewi Penjaga juga mengambil sebagian kemampuan kanuragan Aruna agar tak menyerangnya lagi jika dia butuh pelampiasan dan membuat Pangeran itu lupa akan apa yang terjadi di hutan itu.
.
.
.
.
Pagi itu, suara burung bersiul-siul hinga tak jemu-jemu bukan suara tri-li-li-lililili yang terdengar di telinga Aruna, yang di dengarnya suara kicauan banyak burung yang menjadi satu dan membuatnya hampir mengumpat.
Tapi mulut bagsawan Aruna yang di didik ketat sejak lahir dengan segala aturan istana tak akan mengumpat secepat itu, dia hanya meneliti sekeliling yang tampak asing.
Setelah nyawanya sudah memenuhi setiap ronga-ronga di tubuhnya barulah dia sadar dia sedang terbangun di tengah hutan belantara tidur di samping Lodra dengan pakaian yang terbuka serta celananya tampak longar.
"Apa yang terjadi semalam, apa kami berhasil bertemu aura aneh itu?" tanya Aruna bingung, dia masih mencoba untuk berfikir. Tapi alangkah lebih baik jika dia bertanya pada Lodra saja.
__ADS_1
Aruna menguncang tubuh Lodra tapi tak ada jawaban, segera Aruna membalikan tubuh Lodra yang sudah kaku. Aruna segera mengecek nadi Lodra, meski pelan dan lemah jantung Lodra masih berdetak.
Segera Aruna mengendong Lodra dan membawa tubuh kaku itu ke tempat tabib di sekitar hutan itu. Di sekitar hutan itu memang ada beberapa tabib yang sangat sakti yang mungkin bisa menolong Lodra.