
Satu jam sudah Aska, duduk tanpa bicara hanya cengar-cengir tak jelas karena pandangannya tertuju pada layar ponselnya yang memutar vidio yang dia ambil ketika Utari tidur tadi pagi.
Dia benar-benar terlihat seperti manusia kalau sedang tertidur begini.
Dia ternyata bisa mendengkur dan mengigau juga ketika tertidur.
Kenapa dia bisa begitu manis saat tak memakai riasan dan begitu mengemaskan saat matanya terpejam.
Aska tak bisa berhenti tersenyum karena memandang betapa lucunya wajah Utari yang tertidur pulas.
"Kau datang putra Mama,!" kata Nyonya Adelia, dan segera Aska bangun dari duduknya dan memeluk ibunya itu.
"Apa cuma dia putra Mama, aku bukan?" Varo dengan nada cemburu mengoceh ke arah kakak dan ibunya yang sedang berpelukan.
"Kau bukan putra Mama sana pergi!" usir Aska yang masih mengelayut seperti anak TK di pelukan ibunya yang tubuhnya lebih kecil dari Aska sendiri.
"Ayo sayang, kita pergi saja!, kita benar-benar tak di angap di rumah ini!" kata Varo yang langsung mengandeng tangan Utari yang baru keluar dari ruangan dalam.
"Kita pergi kemana?" tanya Utari, yang mengangap bahwa mahluk hidup di sekitarnya hanya Varo.
Aska seperti terjebak di alam delusi yang penuh Ironi. Rasa cemburu yang langsung membakar hatinya, tapi tak bisa dia utarakan. Dan jika pun dia memgutarakannya dia hanya akan menjadi bahan tertawaan semua orang, hantu, siluman dan mahluk lainnya.
"Kau mau kemana, kita punya waktu tiga jam!" kata Varo, yang mengetukkan jari telunjuknya ke arloji mewah yang tak harusnya di kenakan bocah ingusan seperti dia.
"Bioskop, aku ingin ke sana. Aku ingin nonton film yang romantis!" kata Utari dengan sangat semangat.
Nyonya Adelia tak mengatakan apa pun, dia hanya diam di samping Aska yang sudah melepas pelukan mereka.
"Sana cepat pergi,!" usir Aska yang sudah nhekkk dengan kemesraan pasangan bocil yang sama-sama laknut itu.
Saat Utari dan Varo sudah pergi Aska berbincang sebentar dengan Mamanya dan Aska pamit untuk pulang dengan alasan belom memgoreksi tugas siswa-siswanya.
Tapi Aska sekarang malah di bioskop, dengan pakaian serba hitam Mode Detektif di mulai. Aska duduk di salah satu kursi tunggu dan melihat ke sekeliling, dia melihat Utari dan Varo yang baru masuk ke dalam area bioskop.
Mereka dari mana aja, baru sampai sini.
__ADS_1
Aska sudah di dalam bioskop, ternyata mereka melihat film Kartun Jepang. Aska hanya menghela nafas lega, setidaknya mereka tak menonton film semi 19+++ lagi.
Sepanjang Film Aska hanya memandang ke arah pasangan Varo dan Utari yang terlihat sangat menikmati apa yang mereka lakukan.
Gelombang cemburu itu datang lagi, dia menunduk dan menenagkan dirinya. Di saat itu Aska baru menyesal, tak seharusnya dia datang ke sana dan melihat kemesraan mereka.
.
.
Aska berjalan gontai melewati gang yang sama setiap harinya, gang menuju ke kosannya gang mana lagi. Dia berpapasan rombongan ibu-ibu yang baru saja pulang dari pengajian di masjid.
"Baru pulang nak Aska?" tanya salah seorang ibu-ibu yang sangat memgenal dan mengidolakan guru sejarah yang tampan dan sopan ini.
"Iya buk, baru pulang pengajian ya?" Aska balik menyapa dengan ramah seperi biasa.
"Semenjak kamu di suruh putus dari Ratih oleh pak Husein, kok ngak pernah kelihatan ikut jamaah di masjit lagi sih Ka!" ibuk itu malah lanjut tanya hal yang sensitif bagi Aska.
"Saya agak sibuk, dan mengambil pekerjaan lain selain menjadi guru buk. Jadi sholat saya di mana saja ketika saya sempat!" jawab Aska dia berusaha seramah mungkin.
"Iya, punya mantu baik dan sopan serta pekerja keras kayak mas Aska ini, bagi pak Ustad itu ngak cukup...ya harus kaya lah... ibu Warti ini gimana sih..!" dan di sahut oleh mulut kompor lainnya.
"Sabar ya nak Aska, Meriska anak saya lagi jomblo....siapa tau kamu tertarik, dia juga kalem kok kayak Ratih!" si tukang nawarin anaknya pun ikut angkat bicara.
"Masih banyak cewek lain mas Aska, ngak usah sedih. Ratih itu cantik tapi banyak yang lebih cantik!" dan si tukang adu domba-domba mulai menyinyir.
"Maaf ya buk, saya pulang duluan!" kata Aska, yang sudah malas mendengar ceramah tanpa dasar, cerita ngawur dan persepsi mulut ibu-ibu yang suka berhalu bebas.
"Iya mas,!" ibu-ibu itu mengucapkannya hampir serempak.
"Mas Aska itu b.o.d.o.h, harusnya si Ratih itu di ajak kabur aja, kan beres!" Ibu Warti kembali angkat bicara.
"Di hamilin dulu gitu!" sahut Markonah si tukang kompor-kompor ati.
"Cara itu paling jitu, apa lagi!" Bu Warti kembali bersuara.
__ADS_1
"Iya....biar kita ada bahan gunjingan juga!" koar Samsiah si tukang adu domba-domba.
"Dasar kamu Sam-Sam!" Buk Tumijah yang sok kalem suka nawarin anak perawannya ke berberapa bujang yang dia angap baik di komplek ini dan komplek-komplek lainnya.
"Alah kamu Tum-Tum sama aja, pagi-pagi udah ngomongin Ikatan Cinta sama Utaran di rumah gue padahal aku masak belom mateng!" Kata Sumijah.
"Saya duluan buk-ibuk!" kata seorang gadis berjilbab lebar yang mengelepar dengan suara kibasan yang mengiringi langkah cepatnya.
"Iya dek Ratih!" kata rombongan ibu-ibu rumpi yang masih tak sadar bahwa Ratih dari tadi berjalan di belakang mereka.
"Dia dengar ngak ya kita ngomongin dia?" tanya Tumijah.
"Kalau Ratib punya kuping ya pasti dengar!" sahut Buk Warti yang mukanya langsung melempem.
Alamat di pengajian selanjutnya mereka pasti akan di sindir habis-habisan oleh Ustad Husein dengan kata-kata keras dan kutukan yang memb.a.b.i-buta.
.
.
Di kamarnya Ratih langsung menitikan air mata, sebab apa yang dia dengar dari pedasnya mulut tetangga nya adalah sebuah fakta.
Ayahnya yang seperti menjualnya ke keluarga yang kaya, dan tak meminta persetujuan dulu dari Ratih membuat Ratih sangat terpukul. Bagaimana bisa ayahnya sendiri bisa melakukan hal semacam ini pada putrinya sendiri.
Ratih melepas jilbab panjangnya, dan melihat wajah kusutnya di cermin. Dia masih terisak, tapi dia berusaha untuk menentang ke inginan di hatinya.
Tapi rasa sakit kembali dia rasakan, dia bukan malaikat atau nabi, yang bisa membendung perasaannya.
Dia hanya manusia biasa yang ingin mencintai dan di cintai.
Pandangan mata Aska yang acuh padanya lebih menyakitinya saat ini, laki-laki yang pernah memandangnya bagaikan sebuah keindahan syurga kini begitu sangat acuh, seakan memandangnya dirinya seperti seongok kotoran.
Apa aku sekotor itu Aska.
Apa kau begitu membenciku, karena aku menolakmu.
__ADS_1