
Utari berdiri di depan pohon beraura biru yang mempunyai kuncup-kuncup ungu muda di setiap rantingnya.
Kuncup-kuncup ungu yang indah itu memang belum bermekaran, tapi sudah terlihat sangat indah.
Pohon Kehidupan yang selalu kering sepanjang 900 tahun Utari merawatnya kini akhirnya berbunga, dan Utari baru menyadari hal apa yang bisa membuat pohon kering itu berbunga kembali.
Cinta....
Tepatnya...Membuat manusia bisa mencintainya...
Sekarang ada dua pria yang menyukainya, itu hal baru bagi Utari. Itu artinya pohon Kehidupan akan lebih cepat penuh oleh kuncup, serta akan mekar lebih cepat..... lalu gugur.
Kematiannnya sudah dekat.
Saat kau menghadapi kematian, tak ada hal yang terasa amat berguna lagi...
Akhirnya Utari bisa merasakan ketakutan manusia akan kematian, dia merasakannya saat ini. Dia membayangkan meningalkan mbok Jumi dan Haruto yang sudah menemaninya selama se abat, rumah indah ini yang dia bangun dengan susah payah. Serta beberapa hal baru yang baru dia temui.
Reingkarnasi Praja yang mempunyai sikap keras kepala yang membuatnya tertegun, Reingkarnasi Anjani yang terlihat masih sangat rapuh seperti dulu. Mereka berdua memang di lahirkan untuk menjadi pasangan.
Hari ini atau 900 tahun lalu, Anjani dan Praja memang harusnya menjadi sepasang suami istri. Jika takdir itu tak di jungkir walik 900 tahun yang lalu.....Apa mungkin keluargaku selamat.
Apa mungkin aku harusnya menikah dengan Salendra 900 tahun yang lalu. Apa mungkin Salendra tau apa yang akan terjadi, sehinga dia mengulur waktu agar aku membunuhnya hari itu.
Jika di fikirkan kembali, Salendra memang mengejarnya tapi dia seakan melindunginya.
Salendra mempunyai isting bertarung yang hebat, tak mungkin dia tak bisa merasakan keberadaan Utari ketika Utari bersembunyi di tumpukan jerami 900 tahun yang lalu.
Bidikan panah Salendra adalah yang terbaik di Wanara, tapi dia meleset saat membidik Utari yang kabur dengan kuda. Salendra sengaja hanya mengenai bahunya yang tak akan membuat Utari mati.
Salendra tak berusaha membunuhnya 900 tahun yang lalu...
Wajah Utari tertunduk dan matanya berkaca-kaca, bagaimana bisa gadis itu baru bisa merasakan hal itu setelah 900 tahun.
Perasaan sebesar apa yang di simpan Salendra untuknya, kenapa pria itu tak mengatakannya sebelum kematiannya malah mengutuknya untuk berumur panjang.
"Aku pulang ya!" suara Aska memecah keheningan di lantai bawah rumah Utari.
Kenapa Salendra lahir tanpa ikatan takdir dengan siapa pun...
Apa dia akan mati dengan cepat....
Bahkan hantu pun masih punya ikatan takdir....apa yang sebenarnya terjadi.
Utari yang merasa sangat tau seluk beluk dunia....kini hanya bisa merasa di pojokkan oleh takdir.
Sorot mata Aska memojokkannya di sebuah sudut, dan membuatnya tak bisa bergerak bebas.
Sebenarnya siapa yang pendosa di antara kita....kau atau aku Aska...
Karena 900 tahun yang lalu kau telah melindungiku, maka aku akan mengunakan sisa hidupku yang tak panjang ini untuk melindungimu.
__ADS_1
Utari merentangkan telapak tangannya dan seketika sebilah belati bersarung yang tadi pagi dia berikan ke Aska muncul kembali di gengamannya.
Utari berjalan ke arah Aska, dia meraih tangan Aska dan membuka belati itu. Utari mengiris telapak tangan Aska dengan belati itu...
"Akkkkkk sakit tau!" pekik Aska, dia menahan rasa sakit itu karena dia tau hanya hal ini yang bisa melindunginya dari kejaran hantu-hantu yang sangat mengerikan.
"Lindungi lelaki ini, jangan sampai dia mati!" belati itu di mantrai oleh Utari setelah darah Aska membasahi seluruh bagian belati itu.
Aska tertegun saat mendengar mantra yang di ucapkan Utari untuknya, senyum di bibirnya segera mengembang. Ternyata Utari benar-benar bisa peduli dengan orang lain, bahkan pada dirinya yang adalah reingkarnasi musuhnya.
Utari mengunakan kekuatannya untuk menutup luka Aska. Aska hanya memandang hal ajaib itu dengan wajah terkejut dan bahagia yang tak dia tahan.
Telapak tangan Aska kembali utuh kembali.
"Kau ternyata bisa sulap!" tanya Aska dengan mengoda Utari.
"Iya....aku bisa menyulapmu jadi kodok juga...apa kau mau coba?" tanya Utari.
"Bercanda oyyyy....rendah banget humormu!" kata Aska,
Di mata Utari lelaki yang tersenyum padanya saat ini adalah Salendra yang berambut panjang dan berwajah dingin, setulus apa senyum yang dia buat selalu terlihat seperti tak tulus.
Kenapa mengingatmu menjadi sangat meneyedihkan.....
Apa yang kau simpan di hatimu, sehinga kau tak sangup tersenyum bahagia dengan bebas.
Salendra mari berbahagia di sisa waktuku ini...
.
"Aku hanya pergi selama tiga hari, kau tak perlu sedih begitu!" kata Aska, ternyata dia bisa melihat kesedihan yang di rasakan Utari, tentu saja mata Utari berkaca-kaca.
"Pergilah, kau pamit dari tadi tapi tak keluar-keluar!" Utari mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Aku pamit dulu ya!" kata Aska.
"Kau mau pergi apa tidak?" bentak Utari, gadis yang tak peka.
"Kalau begitu aku pergi sekarang!" Aska memandangi sekitar, di mana ada Haruto dan mbok Ijah di sana, dia masih punya malu untuk sekedar mencium kening Utari di depan dua hantu itu.
Mata Aska kembali memandang wajah Utari yang ada di depannya, wajah itu langsung berubah kesal. Dan hanya di balas dengan senyuman ketakutan oleh Aska.
"Ok-ok aku pergi!" kata Aska akhirnya.
"Mungkin Tuan Aska meminta uang jalan, Nona Utari!" kata Mbok Ijah.
"Uang jalan itu apa?" tanya Utari.
"Uang untuk ongkos transportasi!" jelas Mbok Ijah.
"Ohhhhh!" desah Utari mengerti.
__ADS_1
"Ngak kok....aeisttttt...aku punya uang sendiri!" kata Aska kesal, dia lalu berbalik dan ngoceh-ngoceh ngak jelas.
"Ngak peka sama sekali, dasar wanita tua!" kata Aska, dan hal itu di dengar Utari.
"Kau bilang aku apa Askaaaaa!" teriak Utari,
Aska sudah ketakutan karena suara melengking itu sudah mengema keras di seluruh ruangan dan aura biru sudah mengerumuni tubuh ramping Utari.
Ngibrit lari, hanya itu yang bisa membuat Aska selamat siang itu.
.
Aska akan aman karena di lindungi belati Pengasih milik Salendra yang tak pernah di kontrak oleh Salendra, kenapa Salendra punya senjata Goib itu tapi tak mau mengunakannya.
Belati yang kini di gengam Aska adalah belati yang sama dengan belati yang di gunakan Salendra untuk memyerang Utari di kamar Putra Mahkota.
Belati Pengasih adalah senjata Goib yang di buat dari kasih sayang 1000 nyawa cinta abadi. Belati yang hanya ada satu di alam semesta, sebagai penjaga pohon kehidupan selama 900 tahun Utari bahkan tak bisa membuat senjata seperti itu.
Mengumpulkan 1000 jiwa yang mau berkorban untuk cinta, itu tugas yang tak mungkin di capai di saat jaman beranjak moderen seperti sekarang.
Bahkan sudah hampir 200 tahun terakhir Utari belum pernah bertemu manusia yang seperti itu. Manusia yang mau berkorban nyawa untuk orang yang mereka cintai....Manusia seperti itu sangatlah langka.
Siapa yang tau kalau Kanaya adalah salah satu jiwa pengorbanan untuk pohon kehidupan, tapi karena terjadi kesalahan perjanjian Kanaya bebas dari kematian tapi di kutuk menjadi Siluman ular yang akan haus akan kenikmatan, dan tunduk pada Sang Penjaga.
.
.
.
.
**Kanjeng Ndoro Putri Kanaya Sagara Danu.
.
Asik ni...di jadiin novel buat ngebahas kisah uler bego ini😁😁😁
__ADS_1
Di sini dia cuma jadi cameo aja genksss...Jadi ngebahas uler ini tipis-tipis aja yaaakkkk**