Kencana Utari

Kencana Utari
Dua perasaan


__ADS_3

"Iya!" kata Utari dengan santainya,


"Kenapa kau tak suka kami bersama?" tanya Aska, meski tak bisa marah pada Utari tapi raut wajah Aska tampak berubah kesal dengan jawaban Utari yang sangat tanpa dosa itu.


"Meski aku jahat, tapi aku bukan manusia yang suka berbohong!" desah Utari, dia mengambil secangkir kopi di depannya yang baru saja di sajikan oleh mbok Jumi yang terlihat seperti pembantu yang normal.


"Kau masih bisa menyebut dirimu manusia, setelah melakukan banyak hal aneh di hidupku?" tanya Aska,


"Tidak juga!" jawab Utari, tentu saja setelah menyeruput kopi hitam panas yang menyegarkan otaknya yang sangat menderita dari malam tadi.


"Kenapa kau menganguku, bukankah adikku yang akan di jodohkan denganmu?" Aska mencoba menahan amarah,


Pemuda tampan itu tak mau melontarkan kata-kata kotor yang kasar yang akan memancing Utari mengeluarkan pedang Goibnya. Bagaimana pun juga Aska tau Utari bukan tandingannya yang hanya seorang manusia biasa.


"Karena kau reingkarnasi musuhku!"


jawaban Utari membuat Aska mematung, "reingkarnasi" kata yang hanya dia jumpai di novel-novel fiksi, kini dia dengar dari mulut seorang mahluk aneh bernama Utari, serasa mimpi di pagi hari.


"Lalu Ratih?, kenapa kau juga mengangunya?" tanya Aska,


Utari terdiam sejenak, dia tak mungkin bilang dan menjelaskan siapa Ratih di masa lalu. Atau Aska akan sulit untuk di manfaatkannya untuk kepentingan bunga di pohon Kehidupan.


Tak mengatakan bukan berarti bohong kan...


"Seperti kau yang harus makan, minum dan buang air besar.....aku juga punya tugas yang tak bisa ku hindari yaitu mengumpulkan jiwa-jiwa yang tamak!" jelas Utari,


Mata indah Utari tertuju pada pohon yang memancarkan aura biru di tengah ruangan bawah rumahnya yang di desain sangat lapang tanpa sekat, lebih mirip lobi hotel yang sangat mewah.


Tapi kuncup di ranting yang tumbuh tak kunjung bertambah.


Harusnya kuncupnya bertambah...


Apa laki-laki ini bukan alasan, pohon kehidupan mau berbunga....


Lalu siapa???

__ADS_1


Varo....???


"Pergilah, jika kau ingin hidup lebih panjang di bumi ini!" kata Utari setelah sadar bahwa alasan pohon Kehidupan berbunga bukan Aska.


"Jangan gangu Ratih lagi!" pinta Aska, membuat Utari beranjak dari kursinya. Sepertinya menghabiskan waktu mengobrol dengan orang ini sangat tak penting lagi bagi Utari.


Utari melangkah mendekat ke arah Aska yang duduk di sofa melingkar di depannya. Utari menyentuh dagu pria rupawan itu dengan lembut dan menurunkan tubuh bagian atasnya ke arah Aska hinga wajah mereka saling berdekatan.


"Bahkan sebutir debu yang melayang di udara bumi ini, adalah kehendakku....kau siapa berani mengaturku ?, manusia rendahan!"


Aska hanya membeku dengan perlakuan Utari padanya, desiran aneh mulai menjalar di dadanya. Para pelayan hantu Utari sudah sibuk menghubungi bantuan berupa Kanaya, karena bisa di pastikan jika tak ada yang menolong Aska maka akan terjadi pertumpahan darah di rumah ini.


Mata Aska hanya bisa memandang wajah sempurna Utari yang sama sekali tak mengunakan riasan, perasaan apa yang di milikinya pada gadis aneh di depannya ini.


Apa cinta?


Lalu perasaannya pada Ratih itu apa?


Apa dia sedang jatuh cinta dengan dua wanita yang berbeda di waktu yang sama, Aska kau benar-benar maniak.


"Kami di ikat benang merah beberapa saat yang lalu!" kata Utari yang memperlihatkan tangannya pada Aska.


"Tapi jika dia sama sekali tak berguna bagiku, dia akan ku musnahkan dengan tanganku sendiri!" kata Utari dengan senyum merekah.


Di pandangan Utari dia melihat benang merah sudah terikat di jari manisnya, artinya jodohnya yaitu Varo akan mendekat padanya.


Utari berjalan ke arah tangga untuk meningalkan Aska, senyuman manis tanda kemenangan tersunging di wajah cantiknya. Suasana hatinya sedang bagus setelah mengetahui bahwa Aska bukan alasan pohon kehidupan berbunga.


Mbok Jumi yang berdiri di dekat tangga langsung menghalau langkah Utari dan mengatakan sesuatu dengan berbisik, wajah Utari kembali kesal.


Dengan terpaksa, Utari kembali lagi ke arah ruangan tamu yang sangat megah dengan sofa putih yang melingkar mengelilingi meja yang serasi dengan warna ruangan yang bernuansa mini malis pastel itu.


"Aku tak akan mengangu Ratih lagi, tapi kau harus bekerja denganku!" suara Utari kembali mengema di ruangan luas itu dan membuat Aska seketika melihat ke arah pemilik suara indah itu.


"Hehhhhh...jangan mimpi!" kata Aska, membuat jiwa Utari yang tak pernah di tolak itu bergejolak.

__ADS_1


Aska segera berdiri dan ingin cepat beranjak dari rumah Utari, karena fikiran dan hatinya sudah tidak tenang. Tekanan di batinnya saat melihat Utari benar-benar sangat kuat, dia tak mungkin berada di sekitar Utari dengan perasaan yang mengebu seperti itu.


"Apa kau ingin Ratih mati karena di cabik-cabik, atau kering karena kehabisan darah?" tanya Utari.


Tapi amarah segera menguasai Aska, lelaki itu berbalik dan segera menarik kerah piyama mandi Utari dan mencengkeramnya di kain lembut itu sangat keras.


Sepertinya Aska tengah di kuasai dua perasaan yang berbeda, perasaannya sendiri yang emosi karena tak suka Ratih di ganggu dan perasaan Salendra yang ingin menelanjangi Utari di sana sekarang juga dan melakukan tindakan tak senonoh yang penuh nafsu ke tubuh indah Utari.


"Jangan coba-coba kau mendekati Ratih lagi!" ternyata jiwa dan perasaan Aska masih lebih dominan saat ini.


"Pekerjaanmu ringan kok, hanya mengurus atministrasi bisnisku!" kata Utari tanpa rasa takut, padahal Aska sudah dengan wajah tersangarnya untuk mengancam Utari.


Melihat Aska tak bergeming Utari kembali memberi penawaran.


"Aku akan menjaga adikmu sampai akhir hayatnya, asal kau mau menjadi menejerku!" kata Utari dengan nada iba setengah manja.


Aska ingin rasanya mengampar wajah Utari yang sangat membuatnya lemah itu, tapi yaaa kemarahan dan kegundahan Aska langsung hilang begitu saja saat melihat senyuman manis di wajah Utari.


"Apa kau menyihirku?" tanya Aska.


"Kau satu-satunya mahluk di bumi ini yang tak mempan dengan sihirku!" kata Utari.


Bohong....


Aska melepas cengkeraman tangannya dari piyama mandi Utari dan kembali menata nafas serta perasaannya.


"Aku akan mengajimu cukup tinggi!" mohon Utari lagi.


Utari tak punya pilihan. Rahasia pohon kehidupan yang harus dia jaga, dan juga Aska terlihat cukup bisa di andalkan untuk menyimpan rahasia dengan ancaman Ratih dan Varo.


"Apa yang harus ku kerjakan?" tanya Aska,


Aska menyerah karena iming-iming gaji tinggi itu dan juga dia tau Utari mampu melakukan ancaman kejinya pada kekasih hatinya Ratih dan juga adik kesayangannya Varo.


"Pertama bantu aku bayar listrik!" kata Utari sambil tersenyum manis.

__ADS_1



__ADS_2