Kencana Utari

Kencana Utari
Mati Lampu


__ADS_3

Utari menyetir mobilnya sendiri karena Kanaya memilih mengunakan kekuatannya untuk kembali ke istana galian tikusnya setelah sampai di bandara, tentu saja karena salah satu suaminya sudah menunggunya untuk memuaskan hasrat Kanaya yang entah kenapa tak pernah padam.


200 tahun sudah Kanaya menjadi kaki tangan Ratu Retno untuk membantu pekerjaan Utari, tapi Kanaya bagi Utari hanya bumbu pelengkap saja di tugasnya.


Selain Kanaya tipe siluman yang ceroboh dia juga bukan siluman yang bisa di andalkan, karena kebiasannya sebagai manusia yang licik masih melekat di diri siluman ular mamba hitam, yang berawal dari selir licik yang suka bermain pria di belakang suaminya.


Tengah malam Utari sampai di depan rumahnya yang berada di puncak sebuah gunung di pingiran ibu kota, tentu saja gunung itu milik Utari dari bawah sampai ke atas adalah milik Utari karena gunung itu adalah gunung Lelembut yang menjadi akar dari pohon kehidupan.


Utari tampak bingung dengan rumahnya yang tampak seperti sarang hantu, meski memang penghuni rumah itu tak ada yang manusia. Tapi kegelapan mencekam seperti ini tak pernah dia inginkan di rumah yang bak Istana Buckingham nya itu.


Utari memarkirkan mobilnya di depan rumahnya tanpa mematikan lampu mobilnya, sebagai bantuan untuk penerangan. Sementara dia menyusuri jalan setapak yang berkerikil putih menuju pintu utama rumah mewahnya itu.


"Ada apa ini!" tanya Utari dengan nada teriakan yang melengking tentunya.


Di kegelapan malam itu, Mbok Jumi dan juga Haruto selaku pelayan utama di rumah itu segera melayang dari lantai dua ke pintu depan untuk menyambut si empunya rumah yang sedang dalam keadaan emosi.


"Maaf Nona Utari, tapi saya rasa listrik di rumah ini padam!" kata Haruto dengan nada sangat ketakutan.


"Kenapa listrik di rumahku bisa padam, katakan!" teriak Utari lagi.


"Ada manusia yang datang kemari tadi siang dan meningalkan surat ini nona!" kata mbok Jumi yang sudah seperti biasa berbusana rapi dengan busana pelayan hitam putih yang tampak sangat cocok di tubuh gempalnya.


Utari menerima surat itu dan mendesah kesal. 917 tahun dia hidup di bumi ini, tapi baru kali ini dia mendapat surat dari PLN.


"Kalian tau apa maksutnya?" tanya Utari yang meski bisa membaca tapi dia sama sekali tak faham dengan angka-angka yang tertera di secarik kertas putih itu.

__ADS_1


"Sudah 3 bulan listrik rumah ini tidak di bayar, dan petugas PLN memadamkan listrik rumah ini tadi siang Nona!" jelas Haruto.


Utari memegang kepala dengan satu tangannya. Siapa yang tak frustasi seorang Kencana Utari yang mempunyai banyak kekayaan meski hanya rebahan di rumah, telat mbayar PLN selama tiga bulan dan harus mengalami pemadaman listrik di rumah yang bak istana ini.


"Lalu kemana si manusia dukun cabul itu siapa namanya.....Yanuar!" ya Utari punya menejer manusia yang biasa mengurusi semua hal tentang hal semacam ini, bahkan dia masih bisa menghubungi dukun cabul itu untuk mendapatkan tiket pesawatnya dan Kanaya kemarin.


"Dukun Yanuar meningal pagi tadi Nona!" kata Mbok Jumi yang malah mewek ngak jelas.


"Berani sekali dia meningal tanpa sepengetahuanku....dasar dukun cabul tak tau diri, lalu bagaimana apa yang harus kulakukan!" teriak Utari.


Alhasil malam itu Utari tidur di kamar dengan jendela terbuka saking panasnya ruangan karena tanpa AC atau kipas angin.


Pagi harinya Utari bertambah frustasi karena dia tak bisa mandi air hangat, mengeringkan rambut atau sekedar mengisi daya ponselnya yang sedang koit.


Mata indah nan bulat itu memandang pantulan dirinya yang berantakan di dalam kaca, dan sekali lagi teriakan melengking mengema di seluruh ruangan itu, tentu saja teriakan Utari.


Utari kembali melihat pantulan wajahnya di kaca, dan mendengar bunyi aneh yang baru saja mengema di telinganya.


"Mbok bunyi apa itu?" tanya Utari pada Mbok Jumi yang dari tadi berdiri di dekat Utari.


"Itu bunyi suara bel rumah kita Nona!" kata Mbok umi.


"Ohhhh bel Rumah kita!" kata Utari yang seketika langsung bengong.


"Bel rumah kita, mahluk apa yang datang kemari membunyikan bel?" tanya Utari bingung, dia segera berdiri dan mondar-mandir di kamarnya untuk berfikir.

__ADS_1


Tapi bel rumah itu masih saja berbunyi. Dan pandangan ketakutan nampak di wajah polos Utari yang masih tanpa MakeUp karena habis mandi.


Jegrekkkkk


Utari membuka pintu depan rumahnya, dia masih mengenakan piama mandinya dan dengan rambut setengah basah yang tidak bisa dia keringkan karena tak ada aliran listrik di rumahnya.


Aska yang dari tadi sudah kesal karena Utari lama sekali membuka pintu rumahnya, dan juga hal yang membawa Aska ke kediaman terpencil itu membuatnya langsung naik pitam.


Tapi ketika mata Aska melihat wajah polos Utari yang sangat manis yang terbingkai indah dengan rambut panjangnya yang masih setengah basah membuat Aska terdiam sejenak, penampilan Utari semakin erotis dengan piyama mandinya yang terbilang cukup tipis melekat di tubuhnya yang sempurnanya.


Sebagai lelaki jantan yang normal pemandangan di depan Aska itu adalah sebuah surga. Apa lagi, Aska seperti memendam perasaan aneh untuk Utari di masa lalu.


"Kau tau rumahku?" tanya Utari, nada ketus Utari malah terdengar seperti desahan di telinga Aska.


"Aku bertanya pada ayahku!" jawab Aska lembut, mana mungkin dia marah pada gadis imut yang masih polos itu.


"Kau tak menyuruhku masuk?" tanya Aska yang memang penasaran bagaimana isi rumah mahluk seperti Utari yang tak masuk dalam golongan apa pun.


Rumah Utari tampak sangat bersih tapi cukup bersuasana kelam karena listrik di padamkan.


Utari mempersilahkan Aska duduk di sofa di dekat pohon kehidupan yang tampak menyala kebiruan. Utari ikut duduk di depan Aska. Pandangan Aska tak pernah lepas dari penampilan polos Utari yang di nilai Aska lebih tampak cantik, sangat berbeda ketika di luar yang memakai riasan tebal dan berpenampilan nyeleneh menurut Aska.


"Ada perlu apa kau jauh-jauh datang kemari?" tanya Utari.


"Apa kau mengatakan pada Ratih, bahwa aku dan dia tak di takdirkan bersama?" tanya Aska, dia tak bisa marah lagi pada Utari. Padahal niat awalnya dia ingin menghajar wanita itu sampai meminta ampun pada Aska.

__ADS_1



__ADS_2