
Visual Kencana Utari
.
.
.
900 tahun yang lalu.....
Wajah dingin Salendra akhirnya tersenyum manis, wajah pria dingin yang hanya tau bagaimana mengayunkan pedang itu hanya tersenyum pada satu gadis yaitu Kanjeng Ndoro Putri Kencana Utari.
Di hiruk pikikuk pasar pagi itu, Salendra sangat setia menunggu dambaan hatinya itu meski kakinya harus kram karena berdiri lama di luar dengan cuaca yang cukup dingin. Tapi rasa sakit di kedua kakinya yang kini dia tahan terbayar dengan lambaian tangan cantik yang di iringi teriakan kuat dari gadis pembangkang yang selalu berusaha lebih kuat dari orang lain, Utari sedang berlari ke arahnya.
Senyuman bahagia tak pernah pudar dari wajah keduanya, tanpa mereka sadari hari itu adalah hari yang paling bahagia di hidup mereka berdua. Ketika dua sejoli itu bertemu lagi setelah sekian lama karena sama-sama belajar ilmu kanuragan di luar kota.
"Wahhhh kau benar Salendra yang suka ngompol itu!" pekik Utari dengan nada kagum dan lebih banyak mengejek, senyuman di wajah Salendra semakin lebar mendengar godaan dari sahabatnya itu.
"Itu kan dulu, apa kau Utari yang sering memukul kepalaku itu?" pertanyaan mengejek juga keluar dari mulut Salendra.
"Sekarang pun aku masih suka memukul mu....bodoh!" sebuah tempelengan mendarat di kepala Salendra, membuat Salendra cukup kaget. Tapi melihat senyuman di wajah Utari, pria kuat dan pemberani itu malah balik tersenyum ke Utari.
.
__ADS_1
.
.
.
Sekarang....
Pagi itu seperti biasa Aska di sibukkan dengan berbagai aktifitas paginya, dia akan bersiap untuk pergi mengajar ke sekolah. Setelah rapi dia bergegas keluar dari kosannya dan seperti biasa makan bubur Mang Soleh di depan kosannya.
Perpedaan suasana pagi ini jatuh ke pada Ratih yang tiba-tiba, tanpa ada petir atau geledek duduk di depan Aska dengan suasana yang langsung menjadi serius setelah gadis lembut gemulai itu mengucapkan salam pada Aska dan langsung di jawab salam juga oleh Aska.
"Mas, nanti siang sepulang ngajar mas Aska ada acara atau tidak?" kata ratih dengan wajah yang gusar.
Ratih melihat ke sekitar karena banyak mata yang memandanginya aneh, gadis syari yang dengan sengaja mendekati pria. Tentu saja aneh.
Tiga bulan pacaran, dan baru kali ini Ratih bertanya hal semacam itu pada Aska, Aska seketika langsung bingung.
"Kayaknya engak sih Tih, ada apa ya?" jawab Aska, lirikan mata Aska ke wajah ayu Ratih membuat gadis itu menurunkan pandangannya.
"Bapak mau bicara sama mas Aska!"
Sendok yang ada di tangan Aska langsung terjatuh ke dalam mangkok buburnya, wajah Aska yang semakin terlihat goblok melongo di depan Ratih. Tapi seketika Aska sadar ekspresi wajahnya dan berusaha untuk lebih cool di depan calon istrinya itu.
"Baik....mas usahain untuk pulang cepat dan menemui ayah!" kata Aska, dia mencoba menyembunyikan kegugupannya agar tak di lihat oleh Ratih.
"Baik mas, saya pulang dulu!" pamit Ratih, Aska hanya memandangi pungung gadis pujaan hatinya itu yang tertutup kerudung lebar menjauh dari hadapannya.
Mau ngomong apa lagi bapaknya Ratih....ngomongin masalah nikah lagi....
baru juga tiga bulan pacaran masa iya langsung di suruh nikah...mana masalah Varo dan Utari lebih penting.....
.
.
.
__ADS_1
Tanpa sopan santun Utari masuk ke kediaman Ratih dan duduk di depan ayah Ratih yang sedang ngeteh ria di teras rumah Ratih yang di tata indah dan asri dengan berbagai macam bunga dan tumbuhan.
"Siapa kamu!" pertanyaan itu langsung keluar saat ayah Ratih memandang wajah Utari di depannya dengan pakaian yang cukup tak sopan bagi penglihatan ayah Ratih yang seorang tetua agama di daerah itu.
"Aku menunggu putrimu!" kata Utari, dia masih terus menatap ke arah mata ayah Ratih dan bola mata Utari membiru. Ayah Ratih merubah ekspresinya kembali seakan tak terjadi apa-apa.
Ratih yang baru sampai di depan rumahnha tampak terkejut dengan keberadaan Utari yang duduk santai bersama ayahnya di ruang depan, dengan baju yang amat terbuka itu bagaimana bisa Utari tak dapat ceramah gratis dari ayahnya.
Senyuman manis Utari memecahkan lamunan Ratih di depan pagar besi rumahnya. Dengan langkah perlahan Ratih masuk ke dalam dan menyapa ayahnya dan Utari dengan salam.
"Kenapa kau tak mendengarkan apa kata ayahmu?" tanya Utari, dia sudah di dalam kamar Ratih yang sangat rapi dengan nuansa pink yang cantik.
"Tentang apa!" Ratih baru saja masuk ke dalam kamar dengan beberapa cemilan dan air putih di atas nampan.
"Aska!" kata yang di sebutkan Utari langsung mengema di renung hati Ratih.
"Kalian tak punya ikatan apa pun di masa lalu atau masa kini, kalian tak pernah di takdirkan bersama!" lanjut Utari.
"Apa maksut mu?" Ratih masih bingung dengan perkataan wanita aneh di depannya.
"Intinya kau tak akan mendapatkan Aska jika kau tak merubah takdir!" kata Utari dengan wajah liciknya.
"Takdir itu hanya Allah yang menentukan....siapa kamu berani....!"
"hustttttttttt....jangan bicara agama pada ku....aku menghabiskan 900 tahun hidupku untuk mencari hal-hal semacam itu....tapi hal itu tidak ada, satu-satunya yang bisa kau percaya hanyalah aku!" kata Utari, membuat Ratih sedikit bengong karena mendengar ucapan "900 tahun" dari bibir wanita yang bahkan lebih muda darinya.
"Aku tak tau apa agama mu, tapi tak baik jika kau menghina agama saya!"
"Dengar baik-baik Ratih, apa kau bisa menahan keinginan mu ?. Kau hanya di takdirkan lewat sebentar di kehidupan Aska, dan akan menjadi debu di ingatan Aska !. Kau hanya wanita yang pernah mengisi renung hatinya sebentar, hanya sebatas itu!" perkataan Utari itu selalu terngiang-ngiang di fikiran Ratih.
Cintanya pada Aska bahkan melebihi cintanya pada keluarganya, entah berapa kali bapaknya mengomelinya masalah pacarannya dengan Aska yang menjadi bahan gunjingan orang sekampung. Tapi dia tetap tak berani bicara pada Aska secara tegas untuk menuntut pernikahan atau perpisahan. Ratih merasa berat untuk berpisah dari Aska meski dia harus mengorbankan kehormatannya sebagai seorang wanita syari.
Tak hanya kehormatan dirimu Ratih yang sangup kau korbankan untuk Aska, tapi rasa cintamu yang sangat besar itu sangup membuatmu mengorbankan jiwamu untuk lelaki itu....
Karena itu aku datang ke sini, meski aku engan melihat wajahmu yang menyedihkan itu....
UTARI
__ADS_1