
Rumah berukuran 7×9 dengan seluruh komposisi bangunan terbuat dari kayu, selain bagian atap yang di tutup rapi dengan daun rumbia. Aruna menurunkan tubuh Lodra yang sudah tak bisa bergerak itu ke salah satu dipan kayu di ruangan khusus pasien pria.
Seorang tabib yang berusia uzur, dengan rambut putih di seluruh bagian yang bisa di lihat mata memandang, datang dan mengecek ke adaan Lodra yang sangat memprihatinkan.
Setelah di rasa cukup tabib tua itu berhenti memeriksa tubuh Lodra dan melihat ke arah Aruna dengan curiga.
"Ku rasa ini bukan ulah manusia, nak!" kata tabib itu.
"Maksut Mbah, sesuatu menyerang kita tanpa kita ketahui bisa saja mahluk Goib?" Aruna mencoba menerka apa pun, dia benar-benar tak tau apa yang membuat mereka dalam kondisi seperti ini.
"Saya tak sangup menolong pemuda ini, sebagian jiwanya sudah tak di tubuhnya lagi!" kata tabib itu,
Pernyataan tabib yang membuat Aruna semakin bingung, dia sama sekali tak faham dengan semua ini. Dia hanya bisa berdiri di sana dan menerka-nerka apa yang terjadi semalam.
"Nak, bersihkan dirimu kelihatannya semalam kau baru saja melepas keperjakaanmu!" kata tabib itu.
Seorang tabib tahu betul akan kondisi seseorang, apa lagi tabib bernama Gandewo ini terkenal paling sakti di Wanara. Aruna hanya memasang ekspresi wajah bingung.
Semua tampak asing, dia tampak bukan dirinya dan tubuhnya seperti bukan miliknya. Badan tegapnya terduduk di dipan lain di dalam ruangan sederhana itu, kedua telapak tangannya tampak meremas keras kepalanya.
Dia tau kondisi pakaiannya yang sangat berantakan, dan noda merah-merah kecil di hampir setiap lekuk tubuhnya adalah bekas kecupan panas seorang wanita. Tapi kenapa dia tak ingat sama sekali apa yang terjadi setelah Aruna sampai di hutan.
Dia ingin tau apa yang terjadi semalam.
.
Malam itu Aruna memakai pakaian rakyat biasa, dia tak mau pulang sebelum Lodra di sembuhkan. Dia juga merasa malu karena separuh ilmu kanuragannya hilang entah karena apa.
Dia tak ingin kembali ke istana, sebelum dia tau apa yang terjadi. Dan mencoba mencari cara untuk penyembuhan Lodra dan mengembalikan ilmu kanuragannya yang telah hilang.
Aruna berbaring di dipan luar bangunan rumah tabib itu. Wajah tampannya tepat menghadap ke langit, matanya berkilauan karena pancaran sinar rembulan yang sedang purnama serta bintang-bintang yang menghiasi angkasa.
Fikiran pemuda pewaris negri Wanara itu tak di sana, di langit malam yang tampak sempurna itu. Fikirannya masih di malam itu, dia mencoba mengingat semua. Apa pun yang bisa dia ingat, tapi nihil dia tak dapat meningat apa pun.
"Hari sudah malam, kau tak tidur Aruna?" tanya mbah Gendewo yang keluar dari dalam rumah yang dia sulap menjadi penampungan orang sakit itu.
"Sekeras apa aku berfikir, aku tak mendapat jawabannya!" kata Aruna.
"Aruna, mata manusia mungkin bisa di tipu. Tapi perasaan tidak!" kata tabib tua itu, ke dua tangan rentanya tak henti-henti mengelus jengot putih panjangnya.
__ADS_1
"Maksut Embah?" tanya Aruna penuh ke ingin tahuan.
"Tanyakan pada hatimu, jangan pada orakmu!" kata mbah Gandewo.
"Aku merasa penuh semangat dan berapi-api, hatiku seperti di hingapi seekor kupu-kupu saat aku melihat bekas merah-merah kecil ini!" Aruna menunjuk salah satu bekas merah di lehernya.
"Tapi aku tak tau apa yang membuatku begitu, aku sangat kacau dan hancur!" kata Aruna, saat sadar akan kondisinya sekarang.
"Tampaknya dia akan selalu datang padamu,!" gumam Mbah Gandewo.
"Siapa Mbah?" tanya Aruna.
"Apa aku mengatakan sesuatu?" Mbah Gandewo berlagak bingung, jelas-jelas dia tadi bicara begitu.
"Aku sudah tua Aruna, terkadang aku bicara tanpa sadar!" kata Mbah Gandewo dengan tawa yang di buat-buat.
Aruna hanya bisa menerima pernyataan itu, dia tak mau mendesak orang tua yang bahkan ke susahan untuk berjalan itu.
"Ayo masuk!" ajak Mbah Gandewo.
"Saya ingin tidur di luar mbah,!" kata Aruna.
"Semoga Dewi Penjaga cepat di gantikan, dia benar-benar meresahkan!" gumam Mbah Gandewo lirih.
.
Dewi Penjaga sedang menatap pohonnya yang di penuhi bunga yang bermekaran indah, dia punya cinta yang sempurna. Seseorang yang mencintainya secara tulus, orang itu mendekap tubuh indah Dewi Penjaga yang cantik dari belakang.
"Samada, aku mencintaimu!" kata manis itu di ucapkan oleh bibir Jatmiko Ayah Lodra.
"Tentu saja Jatmiko aku juga mencintaimu, tapi malam ini kita tak bisa bersama ada yang harus ku lakukan.!" kata Samada, mata hitam yang bening itu menatap bunga yang telah mekar dengan senyuman yang indah.
"Baiklah, kita bersama malam besok!" kata Jatmiko dengan lembutnya.
"Biarkan Salendra menjadi budakku!" kata Samada.
"Maksutmu?" tanya Jatmiko, dia kaget karena bibir Samada tak pernah menyingung Salendra sebelumnya.
"Aku kuwalahan jika sendirian, aku butuh seseorang untuk membantuku. Salendra akan menjadi tawananku karena penumbalan Lodra yang gagal!" kata Samada.
__ADS_1
Tapi di fikiran licik Samada, dia ingin bercinta siang dan malam dengan Aruna. Dia sudah siap akan permintaan berikutnya jika bunga di pohon kehidupan sudah gugur. Dia ingin menjadi manusia dan Salendra yang akan mengantikan posisi Samada untuk beberapa waktu sampai Dewi Azura menemukan Dewi Penjaga yang baru.
Samada ingin kembali menjadi manusia dan hidup bahagia dengan Aruna.
"Apa pun akan ku lakukan untukmu Samada!" kata Jatmiko, pria paruh baya yang sudah hampir tua itu memeluk tubuh Samada dengan penuh cinta dan kasih sayang.
.
.
.
.
Aruna tengah tertidur pulas di dipan luar rumah tabib, sedangkan Samada sudah berdiri di tepi hutan menunggu dambaan hatinya yang baru.
"Aruna....Aruna....kemarilah...ayo kita bersenang-senang!" Kata Samada lembut.
Wanita dengan pakaian putri kerajaan berwarna merah itu telah menunggu untuk di puaskan oleh tubuh Aruna.
Aruna segera membuka matanya, dia terduduk di pingiran dipan dengan tatapannya kosong. Lelaki ini sudah di pengaruhi sihir oleh Samada.
Dengan langkah santai tubuh tegap Aruna menyusuri jalan setapak untuk menunaikan perintah sang Dewi Penjaga.
Aruna dan Samada sudah saling berhadapan di dalam hutan, Samada yang tampaknya sudah rindu berat segera memeluk tubuh sempurna Aruna.
"Kekasihku, mari kita bercinta sampai pagi!" desahan semangat keluar dari mulut Samada.
Wanita dengan penuh nafsu itu menciumi bibir Aruna yang masih segar, mereka saling menyalurkan hasrat dewasa yang tak selaras itu.
Cinta dan hasrat yang berbeda arah selalu mengubah haluan mata angin di jiwa, tak akan ada ke puasan dalam percintaan seperti itu.
Perasaan dan fikiran yang tak sejalan, keterpaksaan yang di sadari oleh sel-sel pintar dalam tubuh Aruna membuat senjata rahasianya tak mau bereaksi. Seperti apa pun Samada berusaha berjuang untuk membuat batang kenikmatan milik Aruna itu berdiri dia tak berhasil.
Malam ini si Samada Dewi Penjaga yang cabul mendapatkan Zonk.
Maaf anda kurang beruntung.
ALIAS
__ADS_1
Coba lagi.