
Lolongan serigala menekik di telinga, jeritan-jeritan ketakutan, tangis kesengsaraan, mengema di satu tempat. Suasana menjelang malam jumat kliwon, selalu seperti itu.
Tapi malam ini rumah peningalan Belanda yang berukuran sebesar bangunan sekolah menegah itu tampak berkabut dan cahaya-cahaya goib sedang meneyelimutinya.
Teng-teng-teng-teng-teng-teng-teng-teng-teng-teng-teng-teng-tengggggggg
Dentang loncang ke 13 mengema di setiap sudut desa.
Para penduduk desa sekitar yang terlihat biasa saja, masih beraktifitas seperti biasanya. Seperti tak mendengar dentumaan keras lonceng di rumah VanTill yang menegema membelah angkasa.
Tiga orang remaja tampak datang ke rumah usang peningalan Belanda itu, mereka saling memandang bingung. Langkah kaki mereka menyusuri halaman berumput liar itu dan memeriksa lonceng.
Wajah mereka pucat, dengan jemari yang memghitam di sela-sela kukunya. Urat nadi yang tak memerah lagi, pandangan kosong dan tak terlihat kornea berwarna di tengahnya.
Mereka tampak meraba-raba tiang gardu dengan tangan pucat yang menghitam, wajah mereka yang kosong berubah menjadi penuh ketakutan yang amat sangat.
Kik kik kik kik ki kik kik...
Suara tawa mengema di sekitar mereka, seorang anak perempuan dengan gaun putih usang yang penuh dengan noda tanah, perlahan-lahan wajah anak perempuan itu mendongak. Dia tersenyum menyeringai, gigi-gigi putihnya bergemratak dengan desisan mengerikan.
Gadis kecil yang sama pucatnya dengan ketiga remaja tadi mengambil sebilah pisau dapur yang entah dari mana.
"Kubunuh kau!" gadis kecil dengan kaki kotor yang pucat dan wajah tersenyum menyeringai bagaikan boneka Chucky berlari ke arah tiga remaja pucat yang tengah mengaruk-garuk tiang lonceng dengan ratapan dan tangisan.
.
.
.
.
Aska terjaga malam itu, dia mengingat lagi cerita seram yang di ceritakan oleh pedagang pecel lele di depan hotel. Baru kali ini dia terusik akan cerita horor semacam itu. Karena gusar dia menjadi ingat tentang belati yang di berikan Utari.
Aska semakin gusar karena meningalkan benda itu di kosannya, dia takut akan ada pemeriksaan di perjalanan dan belati itu kan benda tajam. Aska mencoba seluruh posisi tapi tak mendapat posisi tidur yang nyaman.
Adzan Subuh berkumandang, Aska yang masih terjaga segera bangkit dan mengambil air Wudhu. Dia akan memenagkan diri dengan berdoa, seperti dugaannya Aska tertidur setelah menjalankan Sholat Subuh.
Perjalanan di lanjutkan, mungkin perjalanan sekitar dua jam dari pusat kota Banten menuju desa Sajir yang masih asri dan tampak tak ada hawa mistis-mistisnya.
Seorang pria tua dengan dua orang pria berusia 30an tahun menyambut rombongan kami dengan sangat ramah khas orang sunda pada umumnya.
Pandangan Aska menangkap sebuah bangunan yang tampak seperti yang di ceritakan pedagang pecel lele di depan Hotel.
Apa itu bangunan yang di huni oleh Kerud.
__ADS_1
Kami mendatangi area camping di pingiran hutan, para siswa di bantu guru dan beberapa penjaga area kemping mendirikan tenda. Setelah siang mereka makan bersama di sebuah tenda yang sudah menyiapkan hidangan khas pedesaan orang sunda.
Siang itu Aska masih berdiri di dekat tendanya dan melihat anak-anak berbondong-bondong ke tenda makanan.
"Pak, ngak makan?" tanya pria tua, yang mengunakan celana cargo seperti satpam dan sarung di lehernya.
"Nanti saja pak, saya mau sholat dulu!" kata Aska.
"Kalo mau Sholat mari, ke desa saja di sana ada Musola!" kata seorang pria lain.
Mau tak mau Aska pun ikut naik sepeda motor dengan mereka.
Untuk pergi ke desa otomatis Aska di ajak melewati rumah usang yang cukup besar itu. Pandangan Aska yang tampak menelisik ke arah bangunan itu, di tangkap juga oleh Papa Tibi yang mengendarai motor di belakang Agustin yang membonceng Aska.
Sesuai syariat Islam yang ada di negara ini, mereka Sholat Duhur berjamaah bersama warga desa yang hendak menunaikan ibadahnya di Musola itu.
Tak sampai 10 menit ibadah mereka selesai, Aska masih di apit oleh dua orang yang menyambut rombongan Siswanya tadi.
"Saya sudah bilang ke guru yang lain agar tak mengijinkan anak-anak pergi terlalu jauh ke dalam hutan dan juga pergi sendirian ke rumah Belanda itu!" kata Papa Tibi, pada Aska.
Aska ingin sekali menanyakan tentang Kerud dan hantu SuSi kepada orang-orang di depannya ini, tapi entah kenapa Aska selalu merasa tak enak.
Aska di antar kembali ke area kemping oleh Agustin dan dia makan bersama di tenda makan yang sudah sepi bersama Agustin.
"Maaf Pak, apa tempat ini angker?" tanya Aska akhirnya.
"Maksut bapak ?, kami kesini untuk wisata sejarah!" kata Aska, dia menelan silivanya yang tercekat di tengorokannya.
"Hahahahhahaaaa ya memang angker Pak, tapi ngak seangker dulu, zaman sudah berubah!" kata Agustin, tapi Aska bisa menagkap raut aneh di wajah bahagia pak Agustin.
"Tenang aja Pak, para penjaga yang kami siapkan adalah orang-orang yang sudah berpengalaman menagani hal-hal semacam itu!" jelas Agustin,
Tampaknya penjelasan Agustin tak bisa di terima lapang dada oleh Aska yang telah melihat mahluk aneh tengah tersenyum ke arah murit-muritnya yang tengah di area kemping.
Gadis kecil yang memakai gaun putih kotor yang membawa sebilah pisau SuSi, Si Sulung Sial.
Dari dalam hutan SuSi tersenyum menyeringai tapi, pundaknya di tepuk oleh seorang pria dewasa tampan yang mempunyai rambut panjang hitam yang sangat indah. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian jaman kerajaan yang berwarna serba hitam.
"Kau tak boleh mengangu mereka SuSi!" kata Arya Tungal.
"Kenapa Arya?" gadis pucat itu memasang ekspresi tak senang di wajah seramnya.
"Di sana ada Budak istimewa Dewi Penjaga, dan juga pendekar Penakhluk sembilan kegelapan!" jelas Arya tungal.
"Pendekar Penakhluk Sembilan kegelapan?" Tanya SuSi heran.
__ADS_1
"Sebuah kehormatan bisa melihatnya meski dalam bentuk Reingkarnasi kembali!" Arya Tungal melanjutkan ceritanya.
Arya mengiring gadis kecil itu ke dalam hutan yang semakin gelap karena tumbuhan liar yang semakin rapat.
"ingat SuSi kau tak boleh menggangu mereka jika kau tak di ganggu!" kata Arya, dia berjongkok di depan hantu SuSi yang bermuka seram dan penuh dendam.
"Baik, Tuan Arya!" wajah seramnya memjadi sedih, karena janjinya dia tak akan bisa bersenang-senang.
Arya kembali berdiri dan meningalkan SuSi di sana, dia harus cepat kembali karena Suzy pasti sudah menunggunya.
.
.
.
.
Sembilan kegelapan
Saat itu Salendra masih berusia 16 tahun dan Utari berusia 9 tahun, mereka berdua pergi ke gunung di dekat desa untuk berlatih ilmu kanuragan yang mereka pelajari di perguruan.
Salendra terus menjaga tubuh kecil Utari dengan selalu berdiri di belakang gadis itu.
"Salendra, ayo kita ke tebing batu, pasti tak akan susah mencari batu untuk di hancurkan di sana!" kata Utari dengan semangatnya yang tak pernah habis.
Salendra yang hanya sebagai pengawal Kanjeng Putri Kencana Utari hanya menganguk dengan wajah dingin dengan senyum yang terlihat seperti di buat-buat, tapi di hati Salendra menemani Utari berlatih adalah sebuah kesenangan yang tak ada taranya.
Melihat senyum di wajah gadis kecil itu, dan raut kebahagiaan yang selalu di pancarkan oleh Utari membuat Salendra seperti kembali memiliki dirinya lagi.
Setatus budak Dewi penjaga tak dia hiraukan saat bersama dengan gadis itu.
Budak Dewi Penjaga, yang mengharuskannya menahlukkan banyak mahluk Goib di seluruh penjuru dunia. Salendra tak pergi ke perguruan tapi ke tempat Dewi Penjaga untuk menerima misi.
Hanya itu yang dia bisa lakukan agar kakaknya tetap hidup.
.
.
.
.
Sumber:
__ADS_1
Thenks kak Jibril Ibrahim yang udah ngijinin ❤❤❤