Kencana Utari

Kencana Utari
Calon mertua


__ADS_3

Visual Alvaro Sanjaya Putra





.


.


.


"Kau mau mati?" sorot mata dengan penuh dendam di tunjukkan Utari pada Aska yang masih mengatur nafas tersengalnya.


"Kau menciumku lebih dulu!" kilah Aska, dia tak tau harus berkata apa. Dia juga bingung kenapa dia begitu mengebu mencium bibir Utari seakan dia sangat merindukan sosok Utari.


Utari masih memandang Aska dengan penuh dendam, tapi dia juga sadar ciuman ini tak akan terjadi jika dia tak memulai duluan. Utari merasa sangat kesal, dia yang awalnya ingin membuat Aska kesal sekarang malah dirinya yang di buat dongkol oleh Aska karena reaksi pria itu tak sesuai ekspetasi yang di bayangkan Utari.


Seperti biasa Utari melakukan teleportasi untuk meningalkan Aska yang masih bengong di tempat.


Aska mencoba mencerna kejadian barusan dan dia baru ingat tentang sosok yang sangat mirip dengannya yang pernah mencium Utari.

__ADS_1


Apa ingatan itu ada hubungannya dengan nenek moyang ku...


Jika dulu kekasih Utari adalah orang yang mirip dengan aku, maka pemandangan ingatan yang tak sengaja ku ingat pagi itu dan barusan adalah ingatan siapa...


Rasa sakit yang amat sangat kembali menjalar di dada Aska, dia sampai terduduk dan mengeluarkan air mata dari pelupuk matanya karena rasa sakitnya yang tak tertahankan. Rasanya ada batu besar yang menghantam dadanya dan menusuknya menuju kegelapan yang paling dasar dan menguncinya di sana. Aska merasakan perasaan ketakutan yang sangat dalam, entah apa yang dia takutkan tapi rasa takut yang menyakitkan itu seperti cukup untuk membunuhnya saat ini.


"Apa yang terjadi padaku?" gumam Aska. Aska terduduk di lantai yang dingin di depan kantor itu, seorang guru yang baru saja kembali mengajar mendekat ke arah Aska yang sedang menahan rasa sakit di dadanya.


"Ada apa pak Aska, mau saya bawa ke UKS?" tanya Bu Rohaya, dia adalah wakil kepala sekolah ini.


"Ngak papa kok buk....saya baik-baik saja!" kata Aska, karena menang rasa sakitnya sudah mulai berkurang.


Setelah sakitnya agak reda Aska kembali beraktifitas mengajar lagi seperti biasa, tapi fikirannya sama sekali tak bisa fokus, dia harus memgerahkan banyak usaha agar tetap kosentrasi pada pelajarannya. Karena di otak dan hatinya hanya ada bayangan rasa tentang ciumannya bersama Utari barusan.


Desahan nafas panjang yang berat di hembuskan Aska yang sudah frustasi, dia bersandar di kursi kantornya dan memadangi langit-langit ruangan itu. Bayangan ciumannya dengan Utari kembali terpampang nyata di hadapannya, bibirnya seakan masih bisa merasakan sentuhan manis dan lembut bibir Utari.


Ciuman ini bukan ciuman pertama Aska, karena saat kuliah Aska di kenal si playboy Kupu-Kupu. Dia lebih bahaya dari buaya yang menebar pesona dan kata-kata manis saja. Aska adalah pecinta yang seperti kupu-kupu, mempesona dan menarik tapi tak bisa di miliki.


Intinya Aska tak keberatan berhubungan romantis dengan wanita mana pun asal tak ada ikatan, itulah kenapa dia di juluki playboy cap kupu-kupu. Yang suka hingap kesana kemari. Barulah setelah dia mengenal Ratih Aska berusaha untuk merubah gaya hidup bebasnya.


Tapi seseorang telah mengoyahkan pendiriannya yang belom lama Aska kelakarkan. Dan seseorang itu telah memporak-porandakan hati, fikiran, nafsu dan juga ingatan Aska. Dia masih membayangkan semua hal tentang Utari yang belum lama ini selalu bertemu dengannya.


"Kenapa aku jadi begini!" teriak Aska frustasi, untung di ruangan guru itu tak ada siapa pun.

__ADS_1


Hari semakin sore dan Aska sudah melengang pulang dari tempat bekerjanya dengan motor bebek 4 tak yang sudah beberapa tahun menemani Aska hilir mudik menyusuri jalanan ibu kota semenjak petengahan kuliah sampai sekarang.


Alhasil meski sering perawatan rutin di bengkel, namanya mesin yang sudah di pakai lama yaaaa sering ngadat dan pilek. Tapi hari ini si hitam julukan Honda Supra Fit milik Aska ngak rewel dan dengan mulus mengantar si kusir sampai ke kosannya.


Setelah Aska memarkirkan motornya di teras depan kosan dia masuk ke dalam bangunan kosannya yang bermodel menjulur lurus ke dalam, di sana ada 10 kamar kosan yang meski sempit kamar mandi sudah ada di dalam kamar. Seperti biasa sore itu banyak bocil duduk di meja depan untuk main game, mereka numpang WiFi kosan untuk menghemat kuota.


Aska yang sudah masuk ke dalam kamar, melepas tasnya dan meletakkannya di meja pojokan dekat meja dia menyimpan peralatannya membuat kopi. Dia membuka kemejanya dan memperlihatkan dada bidangnya yang cukup kekar meski jarang olahraga. Karena merasa hari ini cukup panas dan melelahkan Aska memutuskan untuk langsung mandi.


Mandi, bagi si pecinta kebersihan seperti Aska itu adalah hal yang sangat penting, di kamar mandi dia mengosokkan sabun ke tubuh sempurnanya. Entah kenapa bayangan sentuhan Utari padanya seakan terpatri di ingatannya, Aska tak bisa melupakannya.


Pada saat mandi pun dia harus mendesah kesal karena ingatan itu muncul lagi, Aska berusaha menghilangkan ingatan itu dengan menguyur kepalanya dengan air dingin dari sower cukup lama. Aska harus mengusir gambaran-gambaran mesum tentang Utari yang sudah bertumpuk di dalam kepalanya.


Selesai mandi Aska mengenakan baju santai untuk bersiap menunaikan ibadah sholat Ashar yang tertunda, Aska berharap setelah sholat fikirannya menjadi jernih kembali. Usaha Aska membuahkan hasil tak salah dia memetuskan menekuni ibadah dan mendalami Al Quran akhir-akhir ini, karena hal ini sangat manjur untuk menjernihkan fikirannya dan juga hatinya.


Setelah hari semakin sore Aska kembali menunikan ibadah sholat magrib dan juga isya di masjit, seperti biasa Aska akan bertemu Pak Husein ayah Ratih dan juga Ratih yang selalu tekun beribadah di masjit ini.


Ratih, pak Husein, ibu Huda istri pak Husein tak ketingalan calon mantu yang sempura yaitu Aska. Telah duduk di ruang tamu yang di penuhi pemandangan islami dari semua parabotan di sana.


"Nak Aska, tempo hari saya sudah menjelaskan tentang hukum pacaran pada nak Aska. Sekarang bagaimana kalau kita membahas tentang hubunganmu dengan putri saya Ratih!"


jeng jeng jeng


Aska sebenarnya sudah menduga, pembicaraan tema ini yang akan di cetuskan oleh calon mertuanya itu.

__ADS_1


"Maaf pak, jika bapak berbicara tentang pernikahan....sepertinya saya belum siap!" entah keberanian dari mana dan ide siapa Aska bisa mengucapkan kata-kata itu di depan wajah serius nan bengis calon mertua lelakinya itu.



__ADS_2