
"Pertama adalah Ibumu, lalu anak pertamamu dan ke tiga adalah anak bungsumu,!" kata Utari, dia mengeluarkan buku kunonya.
"Baiklah sekarang siapa?" tanya Utari, matanya yang tajam itu memandang ke arah tangan Presiden Direktur itu.
Benang merah yang tertali di tangannya tidak menjulur ke mana-mana, benang merah itu hanya menghubungkan kedua tangannya sendiri. Orang yang Presiden Direktur itu cintai adalah dirinya sendiri. Artinya dia tak bisa mengorbankan siapa pun kali ini.
Orang yang paling tamak adalah orang yang tak pernah merasa bersalah atas kejahatan yang pernah dia lakukan.
Jiwa-jiwa busuk itu sangat bagus untuk di bakar di inti bumi dan membantu bumi selalu tetap hangat.
Saat buku itu terbuka sepenuhnya, Pak Kandar mulai merasa sesak nafas dan tubuhnya mulai kejang-kejang karena berjuang mempertahankan jiwanya.
"Kenapa aku.....kenapa....akkkk uhukkk uhukkkk!" Pak Kandar belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Karena kau mencintai dirimu sendiri, maka kau yang akan di tumbalkan!" kata Utari.
"Tidakkkkkk....akuuuu mencintai gadis muda ituuuu, aku jatuh cinta pada gadis p.e.l.a.c.u.r. itu...aku!" Pak Kandar mengingat betapa dia tergila-gila pada gadis muda yang sudah setengah tahun menjadi pemuas nafsunya.
"Kau tak mencintai dia, kau memanfaatkan dia...kau harus belajar membedakan antara nafsu dan cinta!" jelas Utari, tapi gadis itu segera ingat bahwa jiwa Pak Kandar sudah di hisap oleh buku kunonya.
"Kau tak perlu repot-repot karena sudah mati juga!" kata Utari.
Tubuh pria tua itu sudah kaku di atas kursi dengan posisi yang tidak rapi lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
Pesta perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Aska di adakan di kediamannya. Taman belakang rumah mewah keluarga Sanjaya di sulap menjadi sangat indah, dengan bunga-bunga, lampu-lampu dan juga meja kursi yang cukup banyak.
Nyonya Adelia tampak sangat sibuk mengarahkan banyak pelayan untuk memyiapkan semuanya dengan benar, dia tak ingin ada kesalahan dengan perta ulang tahun pernikahannya yang ke 26 ini.
Semua harus tampak mewah dan elegan, karena semua rekan bisnis dan teman-teman sosialitanya akan datang di malam yang bahagia ini.
Seorang pelayan wanita dengan langkah cepat dan dengan raut wajah bahagia mendekati Nyonya Adelia yang tengah sibuk mengarahkan pelayan yang menata dekorasi di atas meja bundar yang sudah di tutupi kain putih yang lebar.
"Nyonya, Tuan muda Aska sudah ada di sini!" kata pelayan itu dengan kegembiraan yang terpancar di senyumnya.
"Benarkah!" tanpa basa-basi Nyonya Adelia segera melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam rumah,
"Ohhh putraku....peluk mama sayang!" kata Nyonya Adelia saat melihat Aska yang sudah berdiri di dalam kamarnya.
Aska yang sudah sangat merindukan ibunya pun dengan manja segera berhambur ke pelukan wanita paruh baya yang elegan itu.
"Mama sehat?" tanya Aska yang masih meringkuk dalam pelukan hangat mamanya.
"Tentu saja, ku dengar kau bekerja untuk Dewi Utari, apa kau baik-baik saja?" tanya mamanya yang sudah melepas pelukan mereka berdua.
"Mama berharap kau bertahan di sana demi Varo, hanya kau yang tak bisa di lukai oleh dia, karena tak punya ikatan lagi dengan keluarga kita...maafkan aku sayang...mama!" Nyonya Adelia segera terisak karena sedih.
"Mama tak perlu khawatir, wanita itu sangat baik padaku!" kata Aska bohong, bagaimana pun dia harus menghibur mamanya.
"Aku percaya padamu sayang,!" kata Nyonya Adelia. "Mama sudah menyiapkan baju untukmu,!" kata Nyonya Adelia,
Tak lama beberapa pelayan wanita datang membawa setelan jas, sepasang sepatu kulit yang mengkilap, jam tangan mewah, ikat pingang kulit yang berwarna senada dengan sepatu, serta beberapa dasi dengan merek desainer Eropa.
.
Pesta di mulai sejak sore, tamu-tamu mulai berdatangan. Semua tamu yang datang adalah orang kaya, di antara banyak tamu itu Aska memgenal seseorang yaitu Pria yang membeli Lamborghini Urus Kuning.
__ADS_1
Ternyata pria itu adalah kakak dari Rose teman sekelas Varo dan ayahnya adalah Brian Devano pemilik Devano Grup yang berbasis di bisnis pertambangan batu bara.
Aska juga melihat Utari datang dengan mobil putihnya sendirian.
Utari duduk di meja keluarga Sanjaya, bagaimana pun dia adalah calon istri Varo. Sepanjang acara sambutan Utari hanya memandang ke arah Jernih Devano tanpa peduli pada Aska atau pada Varo.
"Apa kau menyukainya?" tanya Aska pada Utari, ketika Varo tak ada di sekitar mereka tentunya, karena Varo ke kamar mandi.
"Kenapa jika aku menyukainya?" tanya Utari yang masih menatap tajam ke arah Jernih.
"Kau sudah punya Varo!" bentak Aska lirih,
"Aku juga punya kamu!" katanya, dan masih memandang ke arah Jernih.
"Kau mau membuatnya jadi milikmu juga?" tanya Aska, kecemburuan sudah memenuhi wajahnya.
"Seharusnya kau bercermin, lihat betapa berantakannya dirimu padahal aku hanya memadang lelaki lain selama 27 menit 26 detik!" kata Utari.
Apa Utari sadar kalau Aska menyukai Utari. Aska semakin salah tingkah, dia segera berpaling dari wajah manis Utari dan berusaha fokus ke pangung dan tak mempedulikan Utari yang asik bersenda gurau dengan Varo setelah Varo kembali.
Hobi baru Utari adalah bermain Mobile Legends, dan game sejenisnya. Siapa biang kerok yang memberi tahu Utari tentang Game di androit kalo bukan si Varo.
Hari mulai malam, waktunya acara bebas. Dimana para tamu bisa menyapa dan berbincang satu sama lain. Tentu saja Utari langsung mendekati keluarga Devano.
"Bagaimana kabarmu Utari,?" tanya Brian Devano ayah Jernih.
Keluarga Utari dikenal sebagai pengusaha di bidang investasi dan saham, tentu saja dengan kemampuannya memanipulasi apa pun yang di miliki Utari, membuat keluarga Utari yang hanya berisi Utari saja selama 900 tahun itu di juluki Dewi investasi karena apa pun yang mendapat saluran dana dari perusahaan Utari maka bisnis itu tak akan pernah gagal.
"Tentu saja aku baik Tuan Brian Devano!" kata Utari dengan elegan khas wanita pengusaha pada umumnya.
"Perkenalkan ini putraku Jernih Devano, harusnya aku menjodohkannya denganmu tapi kau sudah akan menikah dengan Varo Sanjaya!" raut menyesal di perlihatkan di wajah tua Brian Devano yang bahagia karena Utari mau masuk untuk menjadi investor untuk bisnis yang akan di bangun Jernih.
__ADS_1
"Kami berjodoh di bisnis saja itu sudah membuatku senang kok Tuan Brian Devano!" Ujar Utari yang memandang penuh arti ke arah Jernih yang tak mungkin bisa santai di depan Utari yang begitu luar biasa.
Muda, cantik, pintar, kaya, dan selalu beruntung. Pesona berkelas yang di kumpulkan Utari selama 900 tahun hidupnya.