Kencana Utari

Kencana Utari
Takdir Aska


__ADS_3

"Pedang ini sekarang milikmu!" kata ayah Salendra.


Jatmiko sudah memberikan pedang api kebangaan keluarganya itu pada Salendra, Salendra hanya memandangi pedang bergagang merah dan bermata tembaga mengkilat itu.


"Ayah, aku belum...!"


"Kau akan segera menguasainya, Dewi Penjaga sudah membuka aliran kanuragan di tubuhmu dan kau bisa sekuat Lodra sekarang!" jelas Jatmiko.


Dengan tangan gemetar Salendra mengambil pedang itu, dan tanpa dia sangka pedang itu langsung memancarkan auranya ketika di pegang oleh Salendra. Itu artinya Pedang Api sudah menjadi miliknya.


Senyum lebar merekah indah di wajah Salendra, impiannya untuk menyamai kesaktian kakaknya akan segera di capai olehnya.


"Kau harus menuruti semua perintah Dewi Penjaga itu, maka kau akan semakin sakti nantinya!" kata Jatmiko, dia terus meyakinkan putra bungsunya itu.


Salendra yang belum tau apa pun hanya menunduk penuh semangat.


Perkataan Jatmiko hari itu bukanlah sebuah kebohongan, satu tahun sudah berlalu sejak hari penyerahan pedang api itu pada Salendra.


Sebuah kebenaran akhirnya terungkap.


Salendra melangkahkan kakinya dengan semangat dia menuju puncak gunung Lelembut, puncak di mana pohon kehidupan hidup. Dia membawa dua nyawa yang sudah tersegel di dalam buku kuno untuk pohon kehidupan itu.


Gunung dengan aura mistis yang sangat kuat, di huni oleh banyak siluman dan juga mahluk goib lain. Itulah alasan gunung ini di namakan gunung Lelembut. Gunung yang di tingali mahluk astral yang tak mungkin di bayangkan manusia biasa.


Pohon yang di penuhi bunga ungu yang bermekaran indah, tapi tak mempunyai sehelai daun pun itu berdiri kokoh di puncak tertinggi gunung Lelembut sudah terlihat di depan mata Salendra.


Di sana sudah ada Sameda yang menunggu Salendra tapi wanita cantik itu sedang berdebat panas dengan seorang wanita lain yang sama cantiknya. Wanita berpakaian hijau dengan mahkota emas yang indah serta rangkaian bunga melati menghiasi rambut hitam panjang yang sangat indah itu.


"Ratu pantai selatan!" gumam Salendra.


Entah kenapa Salendra sangat penasaran akan apa yang di bicarakan Samada dan Ratu pantai selatan, tanpa ragu dia mengendap-endap hinga dia merasa cukup dekat untuk menguping pembicaraan dua wanita goib tersebut.


"Samada, apa kau tak faham memanfaatkan manusia untuk kepentingan tugasmu itu tak bisa di toleransi lagi!" kata Ratu pantai selatan dengan nada membentak yang cukup kasar.


"Apa pedulimu, kembalilah ke laut sana jangan ikut campur urusanku!" bentakan Samada lebih kasar lagi.


"Kau harus membebaskan manusia itu sebelum Dewi Azura menyadari!" Ratu pantai selatan mulai menurunkan nada suaranya.


"Jika kau tak mengadu, dia tak akan tau!" Samada berkata tanpa sopan santun pada Ratu pantai selatan.


"Salendra adalah budakku, dia adalah nyawa penganti kakaknya!" jelas Samada.


"Dewi Azura tak akan menyadari, nyawa yang harusnya sudah mati itu. Salendra tak akan bisa di rasakan oleh Dewi Azura!" lanjut Samada, dia berusaha membenarkan perbuatannya.

__ADS_1


Salendra yang mendengar itu pun segera terduduk lemas, dia baru tau kalau dia adalah seorang tumbal. Dia tumbal yang mengejar tumbal lainnya, ironis bukan.


"Karena kau sudah tau, Salendra keluarlah!" perintah Samada. Wanita itu menyadari kehadiran Salendra dari bunyi suara dedaunan kering yang di injak Salendra.


"Aku seorang tumbal?" tanya Salendra dengan wajah merah padam, karena dia sedang menahan kesedihan dan juga kemarahan di hatinya.


"Tapi kau bisa mengantikan nyawamu dengan belahan jiwamu!" kata Samada dengan cueknya.


Salendra memandang Ratu pantai selatan yang hanya tertunduk sedih.


"Belahan jiwaku, siapa?" tanya Salendra dengan suara gemetar.


"Kanjeng Ndoro Putri Kencana Utari!" kata Samada.


Salendra merengkuh wajahnya dengan satu telapak tangannya, dia bertahan melakukan ini hanya untuk mendapatkan Utari. Agar dia bisa sejajar dengan Utari, tapi kenapa dia harus mati dan jika bukan Salendra yang mati maka Utari yang mati.


"Aku akan memberi kau waktu 2 tahun, putuskanlah!" kata Samada.


Wanita itu memberi waktu pada Salendra karena dia belum bisa mengambil hati Aruna, karena Aruna malah memutuskan menjadi budha yang tak boleh dekat dengan perempuan dan tak boleh menikmati kenyamanan dunia.


.


.


.


.


Gadis pujaan hati Salendra itu mengenakan gaun bermotif bunga-bunga yang indah, dengan anting berlian yang panjang menjuntai.


"Kau takut darah?" tanya Utari, saat melihat mata Aska sepenuhnya terbuka.


Lelaki reingkarnasi Salendra itu berbaring di atas kasur empuk di kamar Utari.


Aska segera mengengam tangan Utari, dia merasakan getaran yang sama. Aska sadar dia adalah Salendra.


"Kau kenapa?" tanya Utari, dia menangkis gegaman tangan Aska itu.


Dia pasti sangat membenci Salendra.


Aku tak bisa menjelaskan apa pun sekarang.


Trimakasih karena sudah membuatku bisa melihatnya lagi.

__ADS_1


Trimakasih banyak Dewi Azura.


"Aku tidak papa, benar aku sedikit punya fobia terhadap darah!" kilah Aska.


"Bagaimana lukamu?" tanya Aska, dia segera menarik lagi pergelangan tangan Utari hinga gadis cantik itu terduduk di pingir ranjang.


Aska segera mendekati tubuh Utari dan memeluk, tubuh ramping itu dengan penuh perasaan.


"Lepaskan!" kata Utari, dia tampak risih dengan perlakuan Aska itu.


"Jangan lakukan lagi, kau tak perlu melindungiku!" kata Aska.


"Baru tadi kau bilang aku pelindungmu!" kata Utari dengan senyum mengejek.


"Lepaskan, kau mau ku bekukan sampai mati!" ancam Utari.


"Kau galak sekali!" desah Aska, yang langsung melepas tubuh Utari.


Terlihat ponsel Utari berkedip-kedip, sebuah tanda kalau seseorang memangilnya melalui saluran koneksi internet.


"Varo!" kata Utari dengan senyum yang sangat indah, dia segera keluar dari kamar menuju balkon. Aska bisa melihat Utari begitu bahagia saat berbicara dengan Varo di dalam sambungan telefon.


Aska hanya bisa menebar senyum kecutnya, dia bahagia jika Utari juga bahagia. Dengan siapa pun.


Dia mencoba ikhlas dengan takdirnya, dia sudah sangat beruntung karena bisa di lahirkan kembali dan bertemu pujaan hatinya kembali. Itu sudah lebih dari cukup baginya.


.


Aska menuruni tangga menuju lantai satu, ketika dia menginjak anak tangga yang terakhir Aska melihat seorang wanita dengan gaun hijau yang panjang menutupi kakinya, wanita berambut panjang itu memandang lurus ke arah pohon kehidupan.


"Ratu pantai selatan!" kata Aska.


Aska bisa mengenali wanita itu meski posisi berdiri wanita itu membelakangi arah munculnya Aska yang baru saja turun dari lantai dua.


Perlahan langkah kaki beralaskan sepatu kulit sintetis itu melangkah mendekati wanita bergaun hijau itu. Aska berdiri sejajar dengan wanita yang di kenalnya Ratu pantai selatan itu.


"Bukankan indah sekali, butuh waktu 900 tahun bagi Utari untuk menetralkan dendam di hatinya!" kata Ratu Retno.


"Apa tugasku untuk mengugurkan bunga-bunga ini setelah mekar?" tanya Aska pada Ratu Retno.


"Kau bisa mengugurkan bunganya setelah kau siap!" kata Ratu Retno.


"Aku akan menebus kesalahanku dulu padanya, apa itu sempat?" tanya Aska.

__ADS_1


Ratu Retno mengangukkan kepalanya beberapa kali.


"Itu terserah kamu Salendra, jangan sia-siakan ke sempatan langka ini !. Kau mengerti?" tanya Ratu Retno.


__ADS_2