Kencana Utari

Kencana Utari
Harta


__ADS_3

10 tahun yang lalu


Sebuah rumah berdinding papan yang tak terlalu besar, seorang tua sedang duduk bersila dan melantunkan mantra-mantra yang tak di memgerti oleh pemuda di depannya.


Lelaki muda itu hanya menatap penuh antusias dan ngeri pada kakek-kakek tua itu. Kepercayaan Bagas mulai sedikit luntur, tak kala kepintaran otaknya mendominasi.


Apa iya kakek Reot ini bisa membantunya...pikirnya.


Bau kemenyan terbakar yang sudah memenuhi ruangan membuat Bagas terbatuk, tapi di tahannya. Suasana remang-remang di dalam rumah semakin mencekam, di rumah tua ini tak ada listrik...Betul.


Di tahun 2011 tentu saja masih ada rumah yang tak di aliri listrik di plosok-plosok daerah yang terpencil, apa lagi letak rumah usang ini jauh dari desa dan gardu listrik yang di bangun PLN.


Desisan kakek tua itu di tengah kata-kata bahasa Sansekerta yang di ucapkan mbah dukun itu mengusik pendengaran Bagas....


Sebuah kesalahan dia datang ke tempat aneh ini... pikirannya kembali.


Lelaki tua itu memercikkan air rendaman bunga 7 rupa ke arah dupa dan


WEUSSSSSSSSS


Suara desisan bara api yang bertemu air, mengepul asap putih yang bau...dan mantra sudah selesai.


"Agak berat nakkk, untuk masuk kuliah di sana!" kata-kata modus dukun itu mulai keluar.


"Saya harus masuk ke sana mbahhhh!" kata Bagas agak kecewa.


"Kau mau hidup sukses?" tanya Mbah dukun itu dengan dengan wajah datarnya.


"Tentu saja mbahhhh,!"


Himpitan ekonomi, alasan klise seseorang untuk mencari jalan pintas...


Bagas adalah anak petani di sebuah desa di Indonesia, tapi dia bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses atau politisi....Menjadi apa pun asal dia sukses.


Agar bisa menampar mulut orang-orang yang mengejek kekurangan keluarganya,....Miskin


Apa sebuah kesalahan menjadi MISKIN ???


*Atau m**ungkin kau punya kesalahan karena itu kau jadi Miskin*!!!


.


.


Bahkan dukun sakti pun tak bisa membantunya, langkah gontai kaki yang beralas sandal jepit usang berhenti karena telinganya mendengar dentuman indah suara sepatu wanita.


Wajah lesunya mendongak dan menoleh ke kiri-kanan dan tubuhnya berbalik ke belakang. Tak ada siapa Pun di sekitar tempat itu.


Hantu....di siang bolong begini.

__ADS_1


Bagas memutar kembali tubuhnya dan sesosok wanita berdiri di depannya,


Utari


Rambut panjangnya yang hitam yang lurus itu tergerai melambai di tiup angin pegunungan, Wajahnya sangat cantik yang tak bisa kau temui di perkampungan pelosok.


Gaun bermotif Leopard di kenakan oleh Utari hari itu, gaun ketat berlengan panjang itu pas sekali di tubuh rampingnya. Panjangnya yang di atas dengkul menampakkan kaki jenjang yang indah berhias sepatu Paltfoam heels hitam merek ternama. Tak lupa di tangan cantiknya tertenteng tas Hermes birkin hitam yang mengkilat.


"Apa orang tua itu masih hidup?" tanya Utari dengan nada ketus.


"Akhhhh tadi masih Non!" jawab Bagas sambil menahan dek-dekan di hatinya...Bagas merasa jantungnya sudah kocar-kacil tak tau arah.


"Kau mau sukses dan kaya sepertiku?" tanya Utari pada Bagas.


Sebuah angukan kepala Bagas, Utari langsung menatap gubuk tua itu dengan kesal.


"Pulanglah, aku akan menemuimu dan membawa surat kontrak!" kata Utari yang langsung berlalu meningalkan Bagas yang berdiri diam tapi tubuh dan pandangannya memutar mengikuti arah langkah Utari yang sangat mengagumkan baginya.


Pintu pondok kayu itu terbuka tanpa di sentuh oleh tangan Utari, pria tua itu masih duduk bersila di sana.


"Kelihatannya kau tak punya banyak pasien sekarang, karena kau menolak mereka?" lelaki tua itu hanya diam tak bergeming dengan pertanyaan Utari.


"Aku tau kau belum tuli Madi, jawab aku.....Kenapa kau menolak mereka?" bentak Utari.


"Aku ingin menyelamatkan mereka Dewi!" kata Madi tanpa ekspresi.


"Istri dan anakmu yang kau tumbalkan padaku pasti sedang tertawa bahagia melihatmu seperti ini!" kata Utari,


"Apa kau sudah makan, kau terlihat sangat mengerikan Madi!" kata Utari dengan mimik begidik jijik.


Madi meminta kesaktian untuk membunuh orang dari jarak jauh....banyak orang menyebutnya ilmu Santet dari Utari.


Dia bisa membunuh siapa pun di dunia ini setelah menumbalkan istri dan anaknya, dan kini dia hanya sebatang kara terkunci di dalam kepedihan dan penyesalan tiada akhir.


"Kau masih punya 1 tahun lagi, hiduplah bahagia di bumi ini....meski kau berbuat kebaikan di sisa usiamu...dosamu tak bisa di ampuni Madi!" Kata Utari, Utari segera meningalkan tempat kumuh itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Siapa yang punya ide membakar kemenyan semacam ini....benar-benar tidak elegan!" desah Utari kesal.


Sepeningalan Utari kakek Madi yang tua itu mengeluarkan foto keluarganya. Keluarga bahagia dengan seorang anak yang sangat tampan.


5 tahun yang lalu dia kehilangan anak lelakinya yang berusia 17 tahun, dan 3 tahun yang lalu dia kehilangan istrinya yang menderita sakit jiwa karena kehilangan putranya.


Pernikahan kembali dengan gadis cantik juga di lakukan dukun yang dulunya kondang itu, tapi gadis itu malah selingkuh dan menghabiskan sebagian hartanya 1 tahun yang lalu. Tentu saja Madi membunuh istri mudanya itu dengan ilmu Santet yang di berikan oleh Utari.


Semua mahluk hidup akan membayar apa pun yang mereka lakukan...


Entah di dunia...


Atau di alam baka...

__ADS_1


.


.


Di samping sedan hitam BMW Utari, terlihat Bagas menanti wanita itu. Dia ingin cepat menjadi kaya, Bagas sangat yakin jika gadis yang baru saja dia temui bisa menunjukkan jalan kesuksesan untuknya.


Sebelum sampai di mobilnya yang dia parkir di jalan beraspal, Utari sudah tersenyum manis. Dia bisa merasakan seseorang sedang menunggunya, siapa lagi kalau bukan remaja yang baru saja dia temui.


Utari memandang sekilas remaja itu, lusuh, kotor dan mengenaskan.


korban yang sangat luar biasa sesuai harapannya.


"Non, maksut Nona tadi kontrak apa ya?" tanya remaja itu, ketika Utari baru saja muncul dari tanjakan jalan setapak yang menuju rumah dukun tua tadi.


Cepat kaya...hanya kata itu di otak Bagas.


Utari berjalan mendekat ke depan pemuda itu berdiri, matanya tampak berbinar.


Remaja ini....adalah korban yang sempurna....


"Siapa orang yang paling kau cintai?" tanya Utari,


Seketika Bagas menjawab "Ibuku!"


"Yang akan kau korbankan untuk kesuksesanmu....Ibumu?" tanya Utari.


Bagas memandang tajam ke mata Utari, tapi senyuman manis tersunging di bibir seksi Utari.


"Aku benar-benar bisa kaya?" tanya Bagas.


"Kekayaan....sekaya apa yang kau minta?" tanya Utari.


"Aku ingin punya rumah, mobil yang bagus dan juga tak pernah kehabisan uang untuk makan!" kata Bagas.


"Ada lagi?" tanya Utari.


"Aku ingin adik-adikku sekolah ditempat yang bagus!" kata Bagas.


"Intinya kau mau hidupmu Sejahtera bukan?" tanya Utari menyimpulkan.


"iyaaaa!"


Buku kuno sudah di depan mata mereka, entah dari mana munculnya.


Belati yang sama yang di berikan wanita cantik pada Patih Jatmiko, kini Utari memberikan belati itu pada Bagas.


"Teteskan darahmu di atas buku ini, maka semua keinginanmu akan terwujut, dan sebagai gantinya Ibumu akan mati!" kata Utari.


Pandangan mereka berdua tak pernah lepas.

__ADS_1


__ADS_2