
Visual Aska Sanjaya Putra / Salendra
.
.
.
.
.
Di sebuah atap bangunan gedung yang sangat tinggi bangunan itu terletak tak jauh dari kosan Aska, Nava berdiri di tepi pagar pembatas atap gedung. Nava yang berusaha menutup wajahnya dengan sehelai kain hitam menundukkan kepalanya untuk melihat seberapa tinggi gedung yang dia pijak saat ini.
Nava yang sudah putus asa, mengumpulkan semua tekadnya bayangan-bayangan indah kehidupannya setelah membuat perjanjian dengan Utari kembali merasuk ke dalam benaknya yang semakin sesak.
Selendang hitam yang menutupi wajah Nava terbang terbawa angin dan memeperlihatkan betapa buruknya penampilan Nava sekarang, dokter bedah Plastik di seluruh dunia angkat tangan untuk merekontruksi wajah Nava. Tapi dengan mudahnya dan tanpa rasa sakit, Utari merubah wajah cacat Nava menjadi sangat cantik dua tahun yang lalu.
Nava sudah putus asa, dia ingin melompat dari atas gedung karena penampilannya yang sudah berubah jelek padahal sesuai perjanjian Nava masih punya waktu satu minggu lagi.
"Korbankan saja dia!"
Suara lembut tapi menusuk itu terdengar di telinga Nava, Utari sudah berdiri di atas pagar pembatas gedung dengan sepatu high heels putihnya. Tanpa rasa takut wanita itu berjalan ke arah Nava dengan santainya tanpa turun dari atas pagar pembatas gedung yang pastinya sempit meski untuk sepatu hak runcing di kaki kecilnya.
"Siapa?" Nava mendongak untuk melihat wajah rupawan Utari yang membelah sinar mentari yang sudah mulai tinggi.
"Julian!" Utari mengatakan nama pemuda yang pernah dia lihat waktu menemui Nava di depan kosan Nava.
__ADS_1
"Tidak, aku tak akan mengorbankan dia!" butiran air mata menetes di pipi Nava yang bertekstur tak rata bukan cuma bopeng tapi wajahnya benar-benar cacat.
"Kalau begitu lompatlah sekarang!" suruh Utari, sosok bergaun putih yang terlihat sangat elegan itu sudah di samping tubuh tak sempurna Nava.
"Nyawamu atau nyawa belahan jiwamu, kau hanya punya dua pilihan itu....jika kau memilih nyawamu maka kau bisa bertemu Julian-julian lain di dunia ini....tapi jika kau memilih nyawanya kau tak akan pernah melihat Julian lain di mana pun!" jelas Utari.
Wanita berkelas nan angun itu menyandarkan tubuh bak modelnya ke pagar pembatas gedung itu dan sebuah buku kuno sudah berada di tangannya.
"Jika aku mengorbankan nyawa Julian berapa tahun penampilanku bisa bertahan!" tanya Nava.
"Sesuai perjanjian 2 tahun!"
Nava menunduk sedih, dia masih ingat apa yang terjadi di hidupnya. Kenangannya dengan pria yang sudah dia pacari sejak SMP itu, Julian Mahesa pria yang juga menyebabkan dirinya di keadaan ini.
"Aku akan mengorbankan nyawa lelaki itu!" kata Nava, dan sedetik berlalu.
Nava melihat kedua tangannya yang tampak sangat mulus dan meraba wajahnya yang kembali secantik semula. Nava sangat bahagia di tengah kesedihannya, Utari hanya menghela nafas lega. Paling tidak dia masih punya nyawa cadangan untuk dua tahun ke depan.
.
.
.
.
Tanpa aba-aba mobil sedan mewah Julian sudah terpelanting dan melompat dari pembatas jalan dan jatuh ke jurang yang sangat curam.
Utari sudah siap di dekat mobil yang sudah hancur itu, dia membuka buku kunonya. Dengan sendirinya buku kuno itu menyerap arwah Julian yang masih bernafas tapi sekarat di dalam mobil.
Utari berbalik untuk meningalkan tempat itu, dan dengan satu jentikan jari telunjuk dan ibu jari lentik Utari. Suara ledakan dan api yang besar menyambar menghanguskan mobil Julian.
.
.
.
.
Kecelakan yang sama di tempat yang sama pernah di alami oleh Nava, bedanya di hari Nava kecelakaan baru saja terjadi badai yang menumbangkan banyak pohon di sekitar tempat itu.
__ADS_1
Setelah di beritakan jika jalan sudah di buka Nava segera kembali ke Jakarta karena suaminya Julian sudah menunggunya, apa lagi hari itu Nava baru saja mendapat tanda-tanda kehamilan.
Di perjalanan Nava menyetir sendiri, wajahnya yang masih cantik dengan penuh senyum dan tubuh yang sempurna dan sehat Nava cukup terburu-buru agar cepat sampai.
Hp di tas Nava berdering sangat sering, dan siapa yang menelefon sesering itu kalau bukan suaminya Julian Mahesa. Nava sambil menyetir berusaha meraih hpnya di dalam tas tangannya yang dia letakkan di kursi penumpang. Suaminya itu akan sangat marah jika pangilan telefonnya di abaikan oleh Nava.
Naasnya sebuah truk ngebut dari jalur bawah dan membuat Nava kaget lalu membanting stirnya ke arah tebing. Nava selamat dan di rawat di RS selama setahun, dan selama setahun itu Julian tak menjenguknya karena pria itu malah menikah dengan kakak Nava.
Singkat kata Julian dan kakaknya Noren menikah dan di karuniai seorang putri, Ibunda Nava tiba-tiba meningal dan Nava menjadi terlantar di rumah sakit. Wanita jelek nan cacat itu berusaha mencari kakaknya tapi malah di usir dari kediaman keluarganya.
Di tengah ke putus asaan Nava bertemu dengan Utari dan melakukan perjanjian, permintaan menjadi muda, cantik dan menarik sudah di kabulkan oleh Utari. Nava dengan penampilan yang jauh berbeda datang menjadi asisten Julian untuk mengambil hati Julian lagi.
Yang di dapat Nava adalah fakta tentang suaminya yang ternyata hidung belang, dan Julianlah yang mendalangai kematian ibundanya dan menyebabkan kakak Nava yaitu Noren sakit parah.
Tapi cintanya pada Julian membawa Nava hampir menikahi pria yang sama untuk yang kedua kalinya, pernikahan itu gagal karena Noren meningal dunia di hari bahagia itu.
.
.
.
.
Di kamarnya yang bernuansa pink Ratih melamun mengingat kembali kejadian tadi pagi, dia merasa sangat femilier dengan gadis bernama Utari itu. Penjelasan singkat Aska tak dapat Ratih cerna begitu saja.
Gadis yang sangat muda itu, bagaimana bisa di jodohkan dengan adik Aska. Tapi gadis muda itu tampak tak punya rasa sopan santun pada Ratih yang jauh lebih tua darinya.
tok tok tok tok
"Tih, bapak sama ibu mau bicara sebentar!" Ratih segera bangun dari duduknya dan berjalan ke luar menuju ruang keluarga.
Di rumah yang bisa di bilang sederhana ini Ratih di besarkan dengan penuh kasih sayang dan juga pendidikan agama Islam yang sangat kental.
"Ada apa buk, pak?" kelembutan suara Ratih mengema di seluruh ruangan yang di isi parabotan dari kayu itu.
"Gimana nak Aska udah kamu jelaskan tentang hukum larangan pacaran?" ayah Ratih bersuara cukup tegas, membuat Ratih meremas ke dua telapak tanggannya.
"Belum pak, saya belum sempat bertemu mas Aska. Akhir-akhir ini mas Aska sangat sibuk!" untuk pertama kalinya Ratih yang sangat menghormati orang tuanya itu berbohong. Terlihat dari kegusaran yang dia lampiaskan dengan mengaruk beberapa area tubuhnya yang tak gatal.
__ADS_1