Kencana Utari

Kencana Utari
Rasa Kehilangan


__ADS_3

Aska menyetir mobilnya dengan perasaan khawatir, karena kaus oblong putih Utari penuh dengan noda darah, dan terlihat sobek-sobek. Tangan mulus Utari pun penuh dengan bekas cakaran dan darah yang memgering, SuSi menyerang Utari dengan pisaunya di dalam pelukan Utari.


"Ku rasa kita harus kerumah sakit Utari, lukamu sangat parah!" kata Aska, dengan wajah yang sudah merah padam karena khawatir.


Sedangkan Utari yang di khawatirkan hanya bersandar santai di kursi penumpang di samping kemudi, dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas.


Serta pelaku penusukan tengah tertidur pulas di kursi belakang dengan gaun yang hampir berubah menjadi merah seluruhnya.


"Aku tak papa!" kata Utari yang masih santai.


"Kau yakin!" kata Aska, tangannya dari tadi gemetar alhasil laju mobil yang di setirnya menjadi pelan sekali.


"Yakin,....Tolong cepat antarkan aku ke rumahku!" kata Utari.


"Baik!" kata Aska, yang menginjak gas mobilnya dengan kuat. Seakan ada nyawa yang harus dia selamatkan, dia menyetir seperti sopir ambulance yang baru saja mendapat penumpang yang sekarat.


Terlihat jelas Utari bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tapi dia bahkan tak mengeluh atau berteriak. Dia hanya diam dan menahan semuamya.


"Kau yakin hanya ingin pulang?" tanya Aska.


"Aku pernah meledakkan tubuhku sendiri dengan bom darat tipe 98 no.25 produksi Jepang di saat perang dunia ke dua, dan aku masih hidup. Kau tak perlu khawatir 26 tusukan pisau dapur yang di hujamkan oleh anak kecil bukan sesuatu yang bisa membunuhku!" kata Utari.


"Kau Psychopath....kau bahkan sempat menghitungnya!" kata Aska, dia benar-benar sangat khawatir akan keadaan Utari yang terlihat sudah tak punya tenaga lagi.


.


.


Aska membukakan pintu mobil untuk Utari, Utari masih bisa mengerakkan tubuhnya sendiri dan berusaha keluar dari mobil tanpa bantuan siapa pun. Tapi Aska dengan cekatan membantu Utari dengan memegangi lengannya supaya tubuh Utari tetap seimbang ketika hendak keluar dari mobil.


Utari yang baru pertama kali mendapat perhatian yang begitu tulus dari seseorang merasa aneh.


"Aku bisa jalan sendiri!" kata Utari.


"Biar aku gendong!" paksa Aska.


Aska segera meraih tubuh Utari yang berdiri di dekat pintu mobil dan membopongnya masuk ke dalam rumah.


"Turunkan aku di bawah pohon!" pinta Utari, Aska pun hanya menuruti kata-kata Utari.


Aska dengan hati-hati menurunkan tubuh Utari yang di penuhi dengan darah yang mengering itu ke atas tanah di mana pohon kehidupan berdiri.


"Jiwa tanpa raga dengan dendam yang mendalam adalah yang sangat berbahaya, dia bisa membunuhmu jika terus di sekitarmu!" kata Utari yang sudah di dudukkan Aska di bawah pohon beraura biru yang sekarang tampak indah karena hampir di penuhi oleh kuncup-kuncup ungu yang menajubkan.


"Semua hantu yang berkeliaran di bumi ini adalah Jiwa tanpa Raga yang di penuhi Dendam!" kata Utari.

__ADS_1


"Kau harus menjauhi hantu-hantu jika ingin berumur panjang!" nasehat Utari.


"Ada kau yang menjagaku kan!" jawab Aska,


Aska merasa Utari berusaha melindunginya dari serangan SuSi, dan dia sangat terharu karena jika tidak Aska pasti akan mati.


"Aku menjagamu ?, sejak kapan?" tanya Utari, dia sudah bisa tersenyum meski wajahnya masih pucat.


"Kau mendorongku dan menghentikan SuSi!" kata Aska.


"Itu karena SuSi akan di cabik duluan dengan belati pengasih jika mencoba melukaimu, makanya aku mendorongmu!" kata Utari.


"Belati,?" tanya Aska, dia berfikir dan baru ingat.


"Belati itu hilang!" kata Aska dengan nada sedikit berbisik, dia takut Utari akan marah jika dia menghilangkan belati indah itu.


"Belati itu sudah menjadi bagian dari dirimu, dia memang tak terlihat tapi jika kau dalam bahaya belati itu pasti akan menyelamatkan mu!" Jelas Utari.


Utari sudah merasa baikkan, dan dia berdiri untuk membersihkan tubuhnya.


"Kau mau kemana?" tanya Aska yang bingung karena melihat Utari sudah bangun dari duduknya dengan lincahnya tanpa merasakan sakit lagi.


"Mandi, kau mau ikut?" tanya Utari.


"Lukamu?" tanya Aska.


"Apa pohon ini yang melakukannya?" tanya Aska.


"Pohon ini hanya membantu saja, aku di beri karunia tak akan bisa mati sebelum bunga itu mekar dan gugur!" kata Utari.


Aska terpaku sejenak dengan pernyataan Utari, usia bunga itu hanya sebentar apa dia akan kehilangan Utari secepat itu.


Dadanya kembali sakit, Aska terduduk di depan pohon kehidupan. Dia merasa ada hantaman keras menerpa dadanya lagi, apa Aska takut kehilangan dia.


Benar aku takut kehilangan dia....


Sejak kapan perasaan ini tumbuh, kenapa begitu kuat. Seakan sudah ratusan tahun yang lalu, perasaan ini terasa bisa membunuhku.


"Kau ini lelaki tapi lemah sekali!" suara gadis kecil tiba-tiba mengema di telinga Aska, dia terpejam dan melihat bayangan seorang gadis kecil sedang menenteng sebilah kayu di pundaknya.


Pakaiannya aneh seperti pakaian kerajaan jaman dulu, tapi Aska mengenali senyum itu. Gadis kecil yang sedang tersenyum di dalam otaknya itu adalah Utari yang masih kecil.


Aska merasa kepalanya sangat pusing dan tubuhnya sangat lemah, tubuh kekarnya seketika ambruk di lantai. Aska pingsan.


.

__ADS_1


"Kamu sebaiknya pergi!" pekik Salendra yang masih kecil, dia berdiri dan menghampiri Kanjeng Ndoro Putri Kencana Utari yang terlihat tak peduli dengan kostum bangsawan putri yang dia kenakan.


"Mungkin jika aku pergi kau sudah mati sekarang!" kata Utari dengan muka songongnya, sedari kecil sifat dan tabiat Putri kerajaan ini sudah menyerupai lelaki memang.


Salendra dan Utari kecil baru saja melumpuhkan dua bandit yang menghadang Salendra di jalanan, dan menyeret anak 13 tahun itu ke pingir hutan untuk di rampok.


Salendra kala itu baru menguasai dasar ilmu kanuragan begitu juga dengan Utari, tapi untuk melumpuhkan bandit-bandit seperti mereka bukanlah hal yang susah.


"Wahhhh anak-anak bangsawan di hutan belantara begini, rejeki nomplok. Bisa di culik dan minta tebusan ke orang tua mereka!" kata seorang bandit dengan tubuh tambun yang besar seperti raksasa, bagi kedua bocah itu.


"Jangan harap ya paman Jelek, maju dan lawan kami kalau berani!" tantang Utari.


Tak lama banyak bandit-bandit lain yang keluar dari dalam hutan, jumlahnya mungkin sekitar 20 an lebih.


"Mati lah kita!" bisik Utari ke arah telinga Salendra.


"Salah siapa, kau menantangnya!" kata Salendra dengan tenangnya.


"Ku pikir paman jelek itu sendirian, ngak taunya temannya banyak!" kilah Utari dengan senyum selengekan.


"Kau yakin bisa bela diri?" tanya Salendra.


"Bisa, tapi sebaiknya kita...!" kata Utari, tangan mungilnya sudah mengengam tangan Salendra dan menariknya.


"Lari!" teriak Utari.


Salendra awalnya kaget, dan ingin melepas gengaman tangan Utari. Tapi pilihan untuk lari bukanlah hal yang buruk.


Itu pertama kalinya aku merasakan getaran itu.


Cinta, Kasih sayang, apa pun itu.


Tapi aku baru menyadarinya setelah aku memutuskan sebuah hal yang akan merengut semuanya.


Aku telah merubah takdir kita.


Sehinga membuatmu menderita.


Jadi aku akan membayarnya di kehidupanku selanjutnya.


Aku akan mengorbankan apa pun untukmu.


Meski itu nyawaku.


Aku akan mengorbankan semua yang ku punya untukmu.

__ADS_1


Agar kau bisa memaafkanku Utari.


__ADS_2