
Suasana malam yang baru untuk Anjani, suasana perbatasan yang jauh berbeda dari pusat kota Wanara. Dua hari semalam dia menaiki kereta kuda dan baru sampai di penginapan Bulan di perbatasan terakhir antara Wanara dan Maladewa.
Suasana mencekam sisa perang masih tersisa, puing-puing masih berserakan di sana-sini. Para penduduk yang kehilangan rumah mereka hanya duduk berdekapan dengan anak atau kerabatnya di tepi jalanan kota itu. Suasana yang sangat tak biasa bagi Anjani yang tak pernah pergi dari pusat kota Wanara.
Untuk apa dia datang ke perbatasan ini dengan dadanan rakyat biasa, dia masih terlihat cantik. Wanita bangsawan tercantik di Wanara gelar yang telah di sandangnya bertahun-tahun itu tak bisa pudar meski Anjani menyamar menjadi pengemis sekali pun.
Aku harus bertemu dengan Putri Utari...
Tekat itu membawa Anjani nekat kabur dari istana ke perbatasan, malam itu dia tak langsung mengunjungi kediaman Senopati kota itu. Anjani memutuskan menginap di penginapan, besok pagi dia baru akan datang ke kediaman Senopati untuk menemui Utari.
.
Pagi menyingsing sang surya berderap naik ke cakrawala, hawa hangat menyeruak di kamar sempit dan pengap yang di tempati Anjani. Gadis cantik itu di bantu pelayannya menyisir rambut indahnya.
"Kanjeng yakin Ndoro Utari mau menemui Kanjeng?" tanya Ranti pelayan Anjani.
"Paling tidak, aku sudah berusaha menemuinya Ranti. Aku tau Ndoro Putri Utari masih sangat marah tentang kejadian yang telah menimpa keluarganya!" kata Anjani yang meskipun dia sudah bergelar Putri Mahkota, dia tak mau memangil Utari yang sekarang berkedudukan sebagai buronan dengan tak sopan.
.
"Utari di culik oleh prajurit Maladewa Kanjeng!" Jawaban yang di dapat Anjani dari Senopati membuat istri Putra Mahkota Salendra itu terdiam.
Kenapa setiap usaha yang ku lakukan untuk menemuimu selalu gagal Ndoro Utari....
"Mungkin Utari sudah di eksekusi oleh pasukan Maladewa!" sekali lagi, Anjani hanya bisa terpaku.
Ndoro Utari tak akan mati semudah itu, dia wanita yang kuat...
.
Gilanya Anjani mempunyai ide untuk menyusup kemah pasukan Maladewa malam itu, tanpa pengawal dan hanya di temani Ranti. Anjani sudah memutuskan ingin tau kebenarannya tentang ucapan Senopati.
Dia mengendap-endap di semak-semak pegunungan, dari atas gunung itu Anjani dan Ranti bisa melihat lampu-lampu obor yang di nyalakan di seluruh area perkemahan pasukan Maladewa.
"Kanjeng, kita balik saja yokkk....gimana kalau pasukan Maladewa menangkap kita?" tanya Ranti.
"Kalau kau mau kembali, kembali saja sendiri....aku harus menyelamatkan sahabatku....Ndoro Putri Utari pasti belum mati!" Anjani sangat yakin sekali, kecerdikan, kepintaran serta kekuatan sahabatnya itu pasti bisa menpertahankankan nyawanya sendiri.
Belum juga mereka melangkah dari semak-semak itu, dua prajurit Maladewa sudah menarik mereka dari semak-semak.
__ADS_1
Dengan kasar Anjani dan Ranti di paksa menuju perkemahan Maladewa, dan di hadapkan dengan Pangeran Praja.
Anjani memandang memutari ruangan tenda luas itu, dia sangat ketakutan seluruh tubuhnya gemetar. Dia sudah bertekat jika memang ini ajalnya itu lebih baik, dia lebih baik mati dari pada menangung penyesalan karena tak berbuat apa-apa untuk Utari sahabatnya.
Praja yang sudah di depan Anjani pun memandang wajah cantik Anjani, Praja seketika tau kalau ke dua gadis itu bukan dari perbatasan.
"Ndoro....apa anda akan membunuhku?" tanya Anjani, dia tak ingin tiba-tiba mati tanpa bicara.
"Iya!" kata Praja dengan nada yang sangat galak.
"Kalau begitu, anda bisa menusuk jantungku....jika anda menebas leherku hinga putus....aku takut sahabatku akan lari ketakutan saat kami bertemu di alam baka nanti!" kata Anjani sambil menahan gemetar.
"Kalian bukan dari Perbatasan?" tanya Praja kembali dengan nada yang galak.
"Kami dari luar perbatasan!" kata Anjani dia tak mau mengaku sebagai Putri Mahkota karena dia tau, hal itu akan membuat Wanara rugi.
Seseorang masuk ke dalam tenda,seseorang berpakaian lelaki itu berjalan melewati Anjani yang bersimpuh di lantai dan dia langsung duduk berjongkok untuk memberi hormat pada Pangeran Praja.
"Ndoro Putri Utari!" kata Anjani, seketika Utari menoleh dan kedua sahabat itu berpandangan.
Tangisan Anjani segera pecah, gadis 16 tahun itu menagis keras seperti bayi. Utari segera mendekati Anjani dan melepas tali yang mengekang tangan Anjani. Dua gadis cantik itu saling berpelukan.
"Ndoro Putri Utari.....kenapa anda pucat sekali...apa anda mati kedinginan....mereka pasti menengelamkan anda di sungai yaaaa!" kata-kata itu keluar di sela-sela tangis keras Anjani.
"Aku masih hidup bodoh!" Utari menyeka air mata di pipi Anjani,
Tangis sedih Anjani berubah menjadi tangis bahagia, Anjani tak menyagka kalau dia akan bertemu dengan Utari dalam ke adaan sebaik itu.
Malam itu Anjani dan Utari tidur di ranjang yang sama, Anjani terus saja mendekap tubuh Utari yang tak suka di perlakukan seperti itu.
"Aku takut Putri akan meningalkanku lagi!" kilah Anjani, tangan lembutnya kembali menyeruak dan mendekap pingang Utari yang memungunginya.
"Putri apa kau membenci kami?" tanya Anjani, tak ada jawaban lagi dari Utari. Anjani yang tak yakin memeriksa dengan bangun dan mengoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Utari.
Utari sama sekali tak bergerak, dan Anjani beringsut kembali ke posisi tidurnya yang mendekap pingang Utari.
"Aku tak bermaksut menikah dengan Raden Salendra, Ayah yang memaksaku....dia mengancamku akan mengirimku ke Maladewa kalau tak menikahi Raden Salendra!" Anjani tau Utari hanya pura-pura tidur, dan pasti mendengar celotehannya.
"Ayahku juga tak punya pilihan saat perintah Kaisar di turunkan untuk mengeksekusi Ndoro Ageng Putra Mahkota waktu itu...!"
__ADS_1
"Putri tolong maafkan kami, kami tau tak pantas untuk di maafkan....tapi....tolong maafkan kami!"
Isakan tangis Anjani kembali mengema di tenda kamar Utari, sementara Utari dengan mata terpejam juga menitikan butiran air mata tanpa suara.
Kenapa takdir harus begitu kejam...
Menyisakan duka...
Menumpahkan banyak darah...
Menghancurkan banyak keindahan...
Seperti telah di obrak-abrik....takdir di antara kita telah di jugkir balik....
Entah oleh siapa...
Mahluk seperti apa dia yang tega melakukan ini pada kami....
.
10 Tahun sebelum pemberontakan
"Keturuanku harus ada yang menjadi Raja!" kata Ayah Salendra, dia berada di sebuah ruangan dengan wanita cantik berbaju merah yang indah.
Ruangan remang-remang yang sempit itu hanya ada dua kursi dan satu meja lusuh yang terbuat dari kayu.
"Dewi penjaga pohon kehidupan, keturunanku harus menjadi Raja!" kata Patih itu lagi.
"Kau akan menumbalkan Putra pertamamu kan?" tanya wanita cantik itu.
"Putra ke duaku...!"
"Orang yang paling kau cintai....hanya itu orang itu yang bisa mengantikan nyawamu!" jelas Wanita itu.
Buku kuno sudah terbuka di depan Patih Jatmiko.
"Teteskan darahmu dan sebutkan permintaanmu!" kata wanita itu.
Dengan tangan gemetar Patih Jatmiko mengambil belati kecil dari tangan wanita itu dan mengores jari telunjuknya.
__ADS_1
"Keturunanku harus menjadi penguasa!" kata Patih Jatmiko.