
"Apa benar ini Utari, kenapa aku merasa di beda orang!" kata Banaspati si Siluman Serigala setengah Manusia yang bisa mengeluarkan api dari tubuhnya, Si anak Iblis yang di lahirkan di Neraka.
Tapi penampilannya kini sangat jauh berbeda dari kata mengerikan, dia tampak sangat tampan di usianya yang sudah 200 tahun. Dengan wajah melankolis yang dramatis dengan di lengkapi penampilan rapinya yang mengunakan jas hitam yang beraksen batik merah di kerahnya. Rambut klimisnya mendukung style egy namun berwibawa, pandangan matanya yang sayu tapi dramatis. Si Don Juan di antara para siluman.
"Mungkin ini yang di bilang manusia, tanda-tanda kematian akan merubah mereka menjadi lebih baik!" jawab seorang perempuan cantik yang memgenakan gaun putih yang cantik tapi tak berlebihan.
Rambutnya yang juga putih yang di sangul seperti putri di film drama kolosal Cina. Bahkan seluruh bulu-bulu di tubuhnya juga pulih, hanya pupil matanya yang terlihat merah menyala, Su Chen dia biasa di pangil begitu oleh banyak orang dari tempat asalnya. Si siluman Ular putih yang sangat beracun.
"Kurasa dia tak akan mengomel tentang tumbal yang kita punya!" Seseorang menengahi pembicaraan mereka si Monyet kampret, siapa lagi kalau bukan Sarimin. Siluman tertampan di jagat raya, ngakunya.
Dengan penampilan kasual jaket kulit celana jins dan sepatu kets serta rambut yang di tata bak bintang korea Lee Min Ho, membuat Sarimin tampak berbeda dari yang lainnya.
Kanaya dengan gaun hitam legam yang elegan tampak hanya berdiri di tengah kerumunan dan memandang Utari yang tampak sangat cantik di balut gaun merah yang mewah dan berlengan pendek, serta sangulan indah pada rambut hitamnya membuat wanita itu tampak cantik luar biasa.
Kanaya tampak sedih dengan apa yang di lakukan Utari, bagaimana Utari malah senang saat dia akan mati. Teman satu-satunya akan meningalkannya, dia akan di tingal sendirian dan menjalani kehidupan yang terkutuk ini sendirian.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu cantik?" tanya, seorang lelaki yang cukup tampan. Lelaki itu mengunakan baju kerajaan jaman dulu dengan mantel bulu harimau yang tampak sangar serta rambut panjang kuning yang mencolok.
"Kau terlihat selalu sangat kuno, Balakosa!" kata Kanaya dengan nada kesal.
Balakosa masih saja berdiri di samping tubuh ramping Kanaya dan ikut memandang keceriaan Utari yang sedang bersenda gurau dengan siluman lain, yang selalu dia angap rendahan.
"Dia tampak sangat senang, akhirnya dia bisa Mati!" kata Balakosa, yang langsung membuat Kanaya semakin naik pitam.
"Aku tak akan membiarkan Kak Utari mati secepat itu, aku akan memastikan bunga itu layu sebelum gugur!" kata Kanaya dengan tekat yang sangat kuat.
.
__ADS_1
"Baiklah, karena hari sudah hampir pagi kalian boleh memgambil energi sesuai jatah kalian dan letakkan surat kontrak yang sudah kalian dapatkan di meja ini!" kata Utari tanpa peduli apa pun lagi karena dirinya sekarang sudah setengah mabuk.
Para siluman sudah berjajar rapi dan melakukan apa yang di suruh oleh Utari. Meski Utari tak memperhatikan mereka saat ini, tapi Kanaya sebagai rekan kerja Utari memgantikan posisi Utari untuk memgawasi para siluman agar tak melakukan kecurangan.
Kanaya menatap tajam pada setiap siluman yang mengambil energi di pohon kehidupan. Sehinga para siluman tak berani mengambil lebih banyak untuk di salah gunakan.
Hari udah menjelang pagi dan Kanaya masih di depan pohon kehidupan, dia memandang kuncup-kuncup berwarna ungu yang melekat indah di setiap ranting-rating pohon kehidupan. Pohon kehidupan yang dari dulu hanya terlihat sepeti pohon yang kering, kini terlihat seperti pohon sakura dengan bunga kuncup ungu yang indah.
Kanaya mencoba berfikir kenapa setelah tumbuh kuncup pertama semakin bertambah banyak saja kuncup-kuncup itu setiap harinya, dia sangat khawatir karena jika kuncup-kuncup itu sampai mekar dan gugur itu artinya Utari akan mati.
Kalau Utari mati dia akan kesepian, meski Utari hanya memarahinya sepanjang hari. Tapi Utari lah yang membuatnya kuat melewati hidup ini, Kanaya masih bersyukur bisa memiliki banyak suami untuk menemaninya tapi Utari tak punya siapa-siapa.
Tanpa sadar air mata menetes dari dua pelupuk mata Kanaya.
.
.
"Tuan Aska, kelihatanya Nona punya mood yang baik hari ini. Anda bisa minta apa pun....alasan saja untuk urusan pekerjaan!" nasehat Haruro.
Aska hanya tersenyum kecut mendengar nasehat hantu Jepang itu, apa benar gadis iblis itu akan menuruti ke inginanku.
Aska dengan di bantu Mbok Jumi sudah selesai menata pakaian di lemari kaca Utari di ruang ganti.
Sedangkan Utari masih tidur di ranjangnya seperti b.a.b.i dengan dengkuran lembut dan mata di tutup dengan penutup mata.
"Nona pesta semalaman dengan bagsa lelembut, dan dia minum alkohol cukup banyak!" kata Mbok Jumi yang memebenarkan selimut Utari agar Utari tak kedinginan di suhu gunung dan ac yang sangat dingin di kamarnya.
__ADS_1
"Ayo Tuan kita ke bawah saja, Nona akan bangun sore nanti!" kata Mbok Jumi.
Aska turun dan di sambut oleh SuSi dengan gaun pink yang sangat indah.
"Kau cantik sekali hari ini SuSi!' kata Aska yang langsung mencubit pipi temben SuSi dan SuSi tersenyum malu karena tingkah Aska itu.
"Kapan kita pergi ke taman bermain?" tanya SuSi dengan gemasnya.
"Hari ini Nona sedang lelah bagaimana kalau besok!" bujuk Aska.
"Tuan akan mengajak Nona ke taman hiburan?" tanya Haruto.
"Iya, dia pasti belom pernah kesana!" kata Aska dengan senyuman penuh rencana.
Sore hari setelah usai memgajar dan menyelesaikan tugasnya menjadi guru, Aska mampir ke rumah Ayahnya karena mamanya mengundangnya.
Aska melihat mobil sport biru yang sangat dia kenali di parkiran, itu mobil Utari yang belom pernah di pakai Utari semenjak Aska kerja di sana.
Aska pun masuk dan di sambut para pelayan.
"Tuan dan Nyonya serta Tuan Muda Varo sedang makan malam bersama Nona Utari, Tuan muda....apa anda ingin ikut bergabung?" tanya salah satu pelayan yang bekerja sebagai asisten pribadi mamanya.
"Tak perlu, aku akan menunggu di sini saja!" kata Aska yang langsung duduk di salah satu sofa ruang tamu yang sangat megah berwarna abu-abu beraksen emas di pingirannya.
Lampu gantung kristal yang berdiameter hampir 2 meter mengiasi langit-langit berplafon kayu jati yang di tata dengan apiknya. Beberapa pajangan piring hias berbagai macam ukuran bernuansa emas berjajar rapi di lemari kaca yang cukup besar. Tak lupa Lukisan banyak kuda yang berlari di air yang berukuran sangat besar di bawah lukisan itu di tata rangkaian bunga mawar merah asli beralaskan meja ukir dari kayu jati yang kokoh
Seperti ruang tamu rumah-rumah mewah pada umumnya, wangi dan juga sejuk karena ada dua AC yang berhembus untuk mendinginkan ruangan berlantai marmer dan berdinding beton itu.
__ADS_1
Aska duduk di sofa dan memaninkan ponselnya dia melihat foto-foto teman-temanya di aplikasi IG dan berkomentar ria dengan aktifitas mereka masing-masing.