Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Maharani Hilang


__ADS_3

Di sisi lain, sudah satu jam lamanya, Maharani tak kunjung datang ke rumah. Membuat perasaan Bude Sri tak menentu sedari tadi. Pasalnya jarak tempuh rumah Sadewa tidaklah jauh dari rumah Bude Sri. Ditambahlagi Maharani mengatakan bahwa ia akan segera pulang setelah mengantar makanan.


"Kemana si Rani? Kenapa perasaanku tidak enak ya," gumamnya pelan.


Di teras rumah, kepala Bude Sri celingak-celinguk menanti kedatangan Maharani. Kegelisahan melandanya seketika, apa Maharani bertandang dulu ke rumah Sadewa, entahlah. Padahal dia sudah mengirim pesan pada Sadewa barusan, menanyakan tentang Maharani namun, tak di balas Sadewa sampai sekarang. Karena tak mau menerka-nerka Bude Sri memutuskan untuk pergi ke rumah Sadewa, ingin memastikan sendiri.


Lima menit kemudian, sesampainya di salah satu rumah yang lumayan besar di desa. Bude Sri menggedarkan pandangan, menelisik keberadaan Maharani di antara pemuda-pemuda yang tengah bermain gitar di halaman depan rumah Sadewa.


"Kok nggak ada Rani ya..." ucapnya pada diri sendiri. Rasa takut bercampur cemas merasuk ke relung hatinya seketika. Dia pun semakin mendekati para kumpulan pemuda, yang kini menghentikan nyanyiannya, melihat kedatangan Bude Sri.


"Bude Sri." Sadewa meletakkan gitar di lantai lalu menghampiri Bude Sri. "Tumben Bude malam-malam ke sini?" tanyanya.


"Em itu Dewa, Rani nggak ada ya ke sini, tadi Bude nyuruh dia antar singkong rebus buat Ibu kamu," ucap Bude Sri dengan mimik muka panik.


"Rani? Nggak ada Bude. Bude yakin Rani tadi ke sini? Emangnya dia tahu rumahku?" Sadewa merasa ada yang tidak beres. Apalagi melihat gelagat Bude Sri nampak gelisah saat ini.


"Tahu Dewa, aduh gimana nih? Kemana ya dia, nggak mungkin dia nyasar." Bude Sri meremas sweaternya sejenak.


"Ada apa Le?" tanya Ajeng menyembul dari balik pintu. Dialah Ibunya Sadewa. Wanita berambut pendek dan memakai ciput dikepalanya itu tak sengaja mendengar perbincangan anak dan tetangganya itu.

__ADS_1


Sadewa menoleh. "Ini loh Bu, keponakannya Bude, nggak tahu kemana, aku mau nyari Rani dulu ya Bu."


"Owalah, ya sudah, cari gih sana, mau hujan loh ini, semoga nggak kenapa-kenapa dan cepat ketemu." Ajeng pun ikut gelisah dibuatnya. Merasakan dirinya jika di posisi Bude Sri sekarang.


"Terima kasih Jeng." Wajah Bude Sri terlihat muram.


Ajeng tersenyum tipis.


"Iya Bu, ayo Bude kita cari sama-sama." Sadewa menatap Bude Sri sejenak.


Bude Sri mengangguk.


Supri dan Bejo serta kawan yang lainnya menoleh ke arah Sadewa. Kedua teman akrab Sadewa itu menghampirinya.


"Ada apa Dewa?" tanya Supri.


"Rani hilang, bantu aku cari dia," ucap Sadewa.


"Ha? Hilang? Lah kok bisa?" Bejo melonggo mendengar perkataan Sadewa barusan.

__ADS_1


"Udah, nggak usah banyak tanya, cepat suruh anak-anak bantu cari juga, mau hujan ini, aku mau ambil senter dulu ke dalam." Tanpa mendengarkan tanggapan Supri dan Bejo, Sadewa melangkah cepat masuk ke dalam rumah hendak mengambil jaket dan beberapa senter.


Meninggalkan Supri dan Bejo yang tengah memanggil teman-temannya.


Selang beberapa menit, mereka memutuskan berpencar mencari Maharani.


Sadewa dan Bude Sri pun bersama-sama mencari Maharani. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya keduanya memanggil-manggil nama Rani.


"Rani!" teriak Sadewa sambil menggerakan senter ke segala arah.


"Rani! Nduk di mana kamu?" Bude Sri begitu gelisah, takut terjadi sesuatu pada Maharani.


Sepuluh menit pun berlalu, tak ada tanda-tanda Maharani akan muncul. Napas Bude Sri tersengal-sengal karena harus berlari barusan menyimbangi langkah lebar Sadewa barusan. Dia dapat melihat sorot mata Sadewa yang terlihat mengkhawatirkan Maharani.


Bude Sri menarik napas panjang sejenak. Matanya melebar, melihat piring plastik dan beberapa singkong di ujung sana berhamburan. Dengan cepat ia berlarian mendekati benda tersebut, ingin memastikan apakah itu piringnya.


Sadewa pun mengekori Bude Sri.


"Ini kan piring Bude, aduh gimana ini? Rani di mana Dewa?" Tanpa permisi cairan bening mengalir di kedua mata Bude Sri. Dia benar-benar takut dengan keadaan Maharani sekarang.

__ADS_1


Perasaan Sadewa semakin kalut juga.


__ADS_2