
"Haha!"
Maharani dan Sadewa berlarian cepat sambil bergandengan tangan. Di sepanjang langkah suara tawa berkumandang dengan sangat kuat.
Setelah merasa agak jauh, Sadewa menghentikan gerakan kakinya kemudian melepas tangan Maharani yang tengah mengatur napasnya yang tampak terengah-engah.
"Kamu jahat banget sih Dewa, kasihan loh Supri sama Bejo," kata Maharani dengan napas tersengal-sengal.
"Biarin, siapa suruh ngintip kita, kurang kerjaan banget, tuh kan kasihan sama kamu, sampai kecapean begini." Sadewa mendekati Maharani lalu mengusap peluh keringat yang mengalir dari kening Maharani.
Detak jantung Maharani kembali berdegup kencang. "Nggak apa-apa, hitung-hitung olahraga malam, sekarang kita kemana Dewa?"
Sadewa tak langsung menjawab. Dia malah mendongak ke atas sana, melihat rembulan dan bintang berhamburan di langit.
"Hm, pulang aja ya, kayaknya udah terlalu malam, besok kita ketemuan lagi, nanti aku izin aja sama Bude, mungkin gara-gara nggak izin ada banyak nyamuk tadi," ucap Sadewa kemudian.
"Oke deh," ucap Maharani lalu menguap pelan.
"Tuh kan ngantuk, ayo!" Sadewa mengulurkan tangan pada Maharani.
Maharani tertegun sesaat. Lalu tanpa banyak kata meraih tangan Sadewa. Di perjalanan pulang, keduanya hanya diam saja.
Sesampainya di rumah Bude Sri, setelah memastikan Maharani benar-benar aman, Sadewa bergegas pulang ke rumahnya.
Maharani pun mengintip sedikit di celah jendela, kala melihat Sadewa menjauhi rumah Bude Sri.
"Kenapa gue merasa kalau Sadewa mau nembak gue ya tadi," gumamnya pelan sambil menutup pelan jendelanya.
"Kalaupun dia nembak gue, gue harus apa?" Maharani mulai merebahkan diri di atas kasur lalu memeluk bantal gulingnya. Binar kebahagiaan di matanya tak memudar dari tadi.
Maharani dimabuk kasmaran. Pikirannya sekarang sudah dipenuhi wajah Sadewa.
"Hoam." Maharani menguap lebar saat rasa kantuk menyerangnya tiba-tiba. Dia pun menutup perlahan kelopak matanya.
Keesokan harinya. Tak seperti biasanya Maharani bangun pagi dengan begitu semangat. Gadis itu bangun lebih awal dari Bude Sri. Saat ini ia tengah di dapur, bernyanyi-nyanyi pelan sambil mencuci piring-piring kotor sisa semalam.
Bude Sri baru saja terbangun, saat mendengar suara nyanyian dari dapur. Tentu saja ia penasaran, dan betapa terkejutnya ia melihat Maharani tengah sibuk membersihkan piring sekarang.
"Rani," panggil Bude Sri sembari menepuk pelan pundak Maharani.
Maharani sedikit terkejut. Secepat kilat menggerakan kepalanya ke belakang. "Ya Bude, hehe, udah bangun Bude?"
Bude Sri mengulum senyum. "Udah dong, tumben kamu bangun pagi Nduk?" tanyanya.
"Kan ajaran Bude, kalau mau sukses nggak boleh bangun kesiangan! Mulai dari sekarang Rani harus rajin dan bisa jadi orang sukses nanti!" seru Maharani semangat.
"Owalah, sepertinya keponakan Bude, udah berubah sekarang, amin, Bude doain Rani jadi orang sukses."
__ADS_1
"Amin, terima kasih, Bude." Maharani kembali melanjutkan perkerjaannya. "Bude, kita ke pasarnya jam berapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Sebentar lagi, nggak sabaran ya Nduk." Bude Sri mengambil air putih di teko. Kemudian meneguk air bening tersebut hingga tandas.
"Oke Bude, ya nggak sabaran pengen beli kue mendut, hihi." Maharani cekikian sejenak.
Bude Sri melemparkan senyuman sambil menaruh gelas yang kosong ke atas meja.
Sekitar pukul delapan pagi, setelah pulang dari pasar, memasak dan sarapan bersama. Bude Sri hendak pergi ke sawah. Maharani yang biasanya mau ikut ke sana, hari ini enggan ikut bersama Bude Sri.
"Tumben Nduk, ada apa? Apa masih sakit badanmu? Kalaupun mau ikut, kamu nggak usah kerja, duduk aja di gubuk," ucap Bude Sri.
"Ya Bude, masih agak nyeri," kilah Maharani, padahal ia tengah menghindar dari Sadewa. Gara-gara Sadewa semalam membuat ia tidak bisa tidur nyenyak. Jadi selepas kepergian Bude Sri, Maharani berencana akan tidur lagi.
Raut wajah Bude Sri seketika cemas. "Oh ya udah, kamu di rumah, tidur aja, kalau mau ngemil atau apa, ada makanan di dalam kulkas."
"Iya Bude." Maharani amat bersyukur karena mendapat perhatian dari Bude Sri.
Jam di dinding berdetak cepat, hingga tak terasa sekarang sudah menjelang sore. Saat ini Maharani tengah menonton televisi di ruang tamu sambil menyantap kripik pisang. Setelah bangun tidur ia memilih menghabiskan waktu menonton tayangan di televisi.
Semenjak pergi dari Jakarta, Maharani tak pernah membuka handphonenya. Terakhir ia membuka handphonenya saat mendapatkan kabar dari Dono kalau Rara dan Tomi akan menikah muda. Maharani sangat kecewa dengan keputusan yang di ambil Papinya itu dan memilih untuk cuek akan kabar tersebut.
Malam pun tiba, setelah Maharani dan Bude Sri menyantap makan malamnya. Sadewa tiba-tiba datang ke rumah. Dia meminta izin pada Bude Sri, hendak mengajak Maharani keluar sebentar.
"Aku antar sampai jam 10 ya Bude," ucap Sadewa sambil tersenyum jahil.
"Lamanya, jam 8 aja ya." Bude terperangah.
"Ish, si Dewa bandel ya ternyata, keponakan Bude belum sembuh sepenuhnya, pokoknya baliknya jam 8, titik!" Bude Sri mencubit gemas perut Sadewa.
Sadewa malah tertawa lebar. "Haha, ya ampun-ampun Bude. Cuma bercanda kok."
"Hmm." Bude Sri geleng-geleng kepala sejenak lalu melemparkan senyuman pada Maharani, yang dari tadi senyam-senyum sendiri memperhatikan interaksi antara Bude Sri dan Sadewa.
Selang beberapa menit, Sadewa dan Maharani sudah tiba di taman desa yang agak jauh dari rumah Bude Sri.
Kini keduanya duduk berdampingan di bangku kayu yang memanjang. Sedari tadi Maharani diam saja tengah menunggu Sadewa untuk mulai berbicara. Entah apa yang mau disampaikan Sadewa. Namun, membuat Maharani salah tingkah. Sebab pria itu saat ini mengenggam erat tangannya.
"Rani, kok nggak mau lihat aku?" Setelah lima menit keheningan tercipta di sekitar, Sadewa akhirnya membuka suara.
Maharani memberanikan diri menatap mata Sadewa."Habisnya kamu selalu buat aku sesak napas."
"Sesak napas?" Sadewa mengerutkan dahi tipis.
Maharani menggangguk cepat. Lalu tersenyum hangat. "Jadi kamu mau ngomongin apa?"
Sebelum menggerakan bibirnya, Sadewa menarik napas panjang sambil menggenggam lebih erat lagi tangan Maharani.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Rani, aku bukanlah pria yang pandai merangkai kata-kata. Walaupun aku tahu kalau kamu udah punya pacar, tapi sebelum janur kuning melengkung, aku masih ada kesempatan bukan. Aku nggak bisa membendung perasaanku ini. Sejak pertemuan pertama kita waktu itu, aku sudah jatuh hati sama kamu, Rani. Aku sayang banget sama kamu, kamu wanita pertama yang bisa ngebuat jatuh cinta, seandainya saja kita bertemu duluan, aku mau kamu jadi istri aku kelak," ucapnya tulus.
Deg.
Maharani terpaku di tempat. Tak menyangka Sadewa sudah berpikir terlalu jauh mengenai suatu hubungan.
"Tapi aku tahu diri, aku hanyalah seorang petani biasa, meskipun begitu aku akan menjamin kehidupan kamu dan bertanggungjawab sebagai seorang suami dan seorang ayah untuk anak-anak aku nantinya," ucap Sadewa sambil satu tangannya menyentuh pipi Maharani.
Maharani pun menyentuh tangan Sadewa yang berada dipipinya lalu berkata,"Dewa, maaf..." lirihnya pelan.
Raut wajah Sadewa berubah drastis seketika. Dia menundukkan kepalanya. Sadewa sangat sedih sepertinya Maharani tidak bisa membalas cintanya. Mungkin karena status Maharani sudah memiliki pacar di sana. Dengan perlahan ia hendak melepaskan genggamannya.
"Maaf karena aku bohong sama kamu, sebenarnya aku nggak punya pacar, alias jomblo."
Gerakan tangan Sadewa terhenti. Ia langsung menatap Maharani. "Maksudnya?"
"Sebenarnya aku ke sini karena di hukum sama Papiku. Soalnya kemarin aku mergokin mantan pacarku selingkuh sama kakak tiriku. Kamu tahu sendiri kan kalau kesabaran aku itu setipis tisu di bagi enam. Yah, aku langsung permaluin mereka di depan umum tapi ternyata perbuatan aku malah nggak disukai sama Papiku, jadinya aku di suruh cuti sekolah dan di kirim ke desa ini ke tempat Budeku," jelas Maharani panjang lebar.
"Jadi kamu jomblo?" Seakan mendapat angin segar, Sadewa tersenyum lebar sebab memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta Maharani.
"Iya, aku jomblo, hehe."
"Rani, jadi perasaan kamu selama ini ke aku gimana? Kalaupun kamu nggak sayang dan cinta sama aku, aku akan buat kamu jatuh kepelukanku!" seru Sadewa semangat.
Maharani terkekeh pelan sejenak. "Nyatanya aku sudah jatuh kepelukanmu, Dewa."
Sadewa mengenggam erat kedua tangan Maharani sekarang kemudian menatap lekat-lekat wajahnya.
"Aku nggak salah dengar kan?" tanya Sadewa seolah tak percaya, ternyata Maharani juga menyukainya.
"Nggak, aku juga sayang dan cinta sama kamu." Maharani tertunduk malu. Menyembunyikan pipinya yang bersemu merah sekarang.
"Terima kasih Rani, aku akan cari duit banyak-banyak supaya bisa melamar kamu nantinya." Sadewa menarik dagu Maharani tiba-tiba. "Aku boleh cium kening kamu?"
Maharani mengangguk pelan.
Belum juga Sadewa menarik tangan Maharani. Suara ranting yang terinjak dari balik pohon, menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh ke samping.
Maharani pun ikut memutar kepala ke sumber suara.
"Waduh! Gesit amat sih bos, nggak kasihan apa sama kita!" teriak Supri seketika.
Supri dan Bejo menyembul dari pohon dengan muka jahinya.
"Iya nih, mentang-mentang udah ada pacar, kita dilupain," celetuk Bejo.
Sadewa kesal bukan main, sebab Supri dan Bejo selalu menganggunya. Dia pun langsung bangkit berdiri.
__ADS_1
"Kalian mau aku lempar taik sapi lagi ha!" serunya sambil berdecak sebal.
"Hiiiii takut." Supri dan Bejo tertawa puas saat melihat wajah Sadewa menahan kesal sekarang.