Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Burungmu Akan Ku Potong


__ADS_3

Memasuki trimester kedua kehamilan, perut Maharani semakin membesar. Sadewa tak sabaran menanti kelahiran anaknya walaupun ia selalu direpotkan dengan permintaan aneh dari sang istri. Namun, Sadewa amat bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Meskipun harus melalui banyak rintangan selama ini. Sebab kisah cintanya bagaikan rollercoaster.


Hari ini, tak seperti biasanya Maharani bersikap manja padanya. Padahal fase ngidam sudah selesai. Saat ini ia di peluk Maharani dengan begitu erat. Sadewa sedikit heran karena sebentar lagi ia harus pergi berkerja.


"Sayang, aku harus pergi kerja." Sadewa mengelus pelan punggung Maharani.


Maharani menggeleng cepat sambil memanyunkan bibirnya. "Nggak usah Sayang, di sini aja, kenapa mau cepat-cepat sih! Apa di sana ada wanita-wanita cantik ha!" tanyanya dengan melototkan mata.


Bukannya marah atau kesal, Sadewa mengulas senyum tipis ketika melihat raut wajah Maharani yang nampak menggemaskan sekarang.


"Astaga Sayang, nggak ada, karyawan Bapakku kan rata-rata sudah berumur," ucap Sadewa, memberi pengertian.


Memang benar karyawan yang berkerja di perusahaan Bapaknya hampir rata-rata sudah tua dan karyawan berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada wanita.


"Bohong! Ish, awas kamu selingkuh! Aku gigit entar, apalagi aku sekarang udah gendut nggak kayak dulu, pasti aku jelek di matamu," sembur Maharani dengan memperlihatkan wajah murungnya.


Helaan napas panjang terdengar dari hidung Sadewa. "Nggak Sayang, bagi aku, kamu tetaplah cantik, malah sekarang aku suka dengan badanmu yang berisi seperti ini, lebih seksi," ucap Sadewa sambil mencubit gemas kedua pipi Maharani.


Maharani berdeberdecak kesal. "Sakit tahu! Mana ada seksi, jelek gini, hari ini aku mau ikut kamu kerja! TITIK!" sahutnya penuh penekanan lalu melangkah cepat, mendekati lemari pakaian hendak bersiap-siap.

__ADS_1


Sadewa tersenyum sumringah. Dia pun mengambil handphone, ingin meminta izin pada mertuanya terlebih dahulu untuk mengajak Maharani pergi sebab Samsul saat ini berada di luar kota. Setelah mendapatkan izin dari sang mertua, Sadewa bernapas lega kemudian membawa Maharani pergi ke perusahaan.


Selang beberapa menit, keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Maharani terlihat bergelayut manja di lengan Sadewa, tampaknya kehamilan pertamanya ini membuat wanita itu semakin manja.


Sedari tadi Sadewa memperhatikan tingkah laku istrinya. "Tuh lihat, semuanya udah tua kan?" tanynya sambil mengecup singkat pucuk kepala Maharani.


Maharani enggan menanggapi namun riak mukanya sekarang dapat menjelaskan semuanya.


"Hmm, iya, iya, tapi awas saja ya kamu selingkuh dari aku, burungmu bakalan aku sunat lagi," sahutnya sambil mengerucutkan bibir dengan sangat tajam.


Sadewa mencubit gemas hidung Maharani seketika."Haha, iya, ada-ada saja kamu Sayang. Jangan dong, ntar burungnya makin pendek."


"Ya udah kita ke atas yuk." Sadewa mengandeng tangan Maharani dan menuntunnya masuk ke dalam lift.


Sesampainya di ruangan kerja Sadewa. Dia menyuruh Maharani untuk menunggunya di dalam kantor sebab sebentar lagi ia harus ke ruangan lain hendak bertemu mitra bisnisnya.


"Sayang, baik-baik ya, aku nggak lama kok, kalau mau makan atau apa, ambil aja di kulkas," sahut Sadewa sambil mengecup singkat bibir ranum Maharani.


Semburat merah muncul di kedua pipi Maharani. Untuk kesekian kalinya, Sadewa selalu membuatnya tersipu malu. Anggukan pelan sebagai balasan dari Maharani.

__ADS_1


Selepas kepergian Sadewa, Maharani melihat-lihat apa saja yang terdapat di kantor suaminya. Dia berjalan mondar-mandir di ruangan sambil mengedarkan pandangan.


Dua jam pun berlalu, rasa bosan menyerang Maharani tiba-tiba.


"Ish, katanya nggak lama," gumam Maharani sambil menyomot kue cookies di toples. Sekarang mulutnya penuh dengan kue pipih tersebut.


"Apa jangan-jangan dia selingkuh!" Pikir negatif melandanya tiba-tiba. Membayangkan suaminya tengah bermesraan bersama wanita lain sekarang.


"Ck! Lebih baik aku susul dia ke bawah!" Maharani beranjak dari tempat duduk seketika lalu keluar dari ruangan. Namun, belum sampai di lantai dasar, ayunan kakinya terhenti.


Kedua mata Maharani membulat sempurna, melihat Sadewa tengah berpelukan dengan seorang wanita dari belakang. Dia ingat betul jika pakaian kerja suaminya tadi berwarna hitam.


Argh! Awas kamu, Dewa! Aku akan potong burungnya nanti!


Dengan napas memburu Maharani melangkah cepat, mendekati Sadewa.


"Dewa! Beraninya kamu ha!" Maharani menarik pundak Sadewa dari belakang lalu...


Plak!

__ADS_1


"Rani!"


__ADS_2