
Sementara itu di taman bunga.
"Ahk! Sakit Dewa!" teriak seorang wanita saat dirinya baru saja di dorong oleh pria yang ia sukai.
"Gila kamu! Sudah aku bilang, jangan peluk-peluk aku, Siska! Aku sudah punya pacar!" seru Sadewa menggebu-gebu.
Beberapa menit yang lalu, Sadewa tengah duduk di bangku taman, mengingat kenangan-kenangan bersama Maharani yang pernah bercumbu mesra di taman ini.
Selesai mengenyam pendidikan kuliah selama tiga tahun di Jakarta, hampir setiap hari Sadewa berkunjung ke taman bunga ini. Dia benar-benar merindukan Maharani. Seandainya saja dia punya sayap, ingin sekali Sadewa terbang ke New Zealand. Ibu Sadewa juga menetap di sini sekaranv bersamanya, yang tengah menjalani pengobatan.
Kadangkala Sadewa diam-diam melihat rumah Maharani ingin mengetahui apakah Maharani sudah pulang atau belum. Namun, di saat Sadewa sedang asik melamun, dia dikejutkan dengan sosok wanita yang memeluknya tiba-tiba dari belakang tadi.
"Bohong! Mana pacarmu, Dewa! Sampai sekarang aku tidak pernah melihat pacarmu! Kalaupun LDR setidaknya dia bisa pulang kemari kan!" seru Siska berapi-api.
"Siska, kamu ini wanita yang murahan ya ternyata."
Sudah habis kesabaran Sadewa, untuk kali ini dia tidak bisa mentolerir kakak tingkatnya sewaktu kuliah dulu. Sebab hampir setiap saat Siska menganggunya meski sudah berulang kali ia sudah beri penjelasan kalau dirinya sudah memiliki pacar dan sekarang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Siska terhenyak. Kala melihat sorot mata Sadewa bagaikan elang. Dia sampai bergedik ngeri sejenak.
"Dewa, aku be-nar-benar men-cintaimu, te-rima-lah aku jadi ke-kasih-mu," sahut Siska sedikit terbata-bata.
"Tapi aku tidak mencintaimu! Lebih baik kamu pergi sekarang dari hadapanku! Sebelum aku melakukan sesuatu yang bisa membuatmu terluka!" ucap Sadewa dengan penuh penekanan sambil melayangkan tatapan mematikan.
Siska ketakutan. Secepat kilat ia berlalu pergi dari hadapan Sadewa.
Selepas kepergian Siska, Sadewa menghela napas kasar. Sedikit ngeri dengan kelakuan wanita zaman sekarang, yang tingkahnya melebihi setan. Sadewa menghempas bokong di bangku seketika lalu kembali membayangkan wajah Maharani. Dia senyam-senyum sendiri seperti orang gila sekarang.
Melihat langit mulai menggelap, Sadewa memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di sana, dia langsung bergegas pergi ke dapur, melihat Ajeng tengah sibuk memasak bersama asisten rumah tangga mereka.
"Pulang dari taman Le?" tanya Ajeng saat melirik Sadewa sekilas, tengah mengambil air di dalam kulkas.
"Iya Bu, seperti biasa."
"Masih belum lupain Rani rupanya, sudah lama loh ini, jangan-jangan Rani udah punya pacar, eh suami," kelakar Ajeng tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong-motong wortel.
__ADS_1
"Hush! Jangan nakutin Bu, nggak mungkin Rani punya suami atau pacar, kan aku pacarnya dan akan jadi suaminya juga nanti! Aku nggak bisa lupain Rani! Kalaupun dia sudah nikah, aku rebut si Rani nanti!" sergah Sadewa dengan tegas.
Ajeng terkekeh pelan. Melihat raut wajah Sadewa yang cemas. "Owalah mau jadi pebinor kamu, nggak baik loh!"
"Iya, aku jadi pebinor kalau Rani beneran udah nikah, apa boleh buat, Bu. Demi Rani apapun akan aku lakukan, menyebrangi samudra, memanjat tebing, menggali air lautan sampai kering pun aku sanggup!" ucap Sadewa.
"Gaya mu Le!" seru Ajeng sambil terkekeh. "Udah mandi gih sana kamu! Bau naga badanmu itu!"
"Sembarang Bu, parfum ini kesukaan Rani loh, iya, iya, Dewa mandi dulu Bu."
"Hm." Ajeng berdeham rendah sambil mengulum senyum.
Malam pun tiba. Sadewa sudah mandi dan makan malam bersama Ibunya. Saat ini ia tengah bersantai di atas balkon, duduk di bangku sambil menyeduh teh hangat dan menyantap singkong goreng.
Drt!!!
Getaran di atas meja membuat Sadewa mengalihkan perhatiannya. Dia mengambil ponsel tersebut dan membaca sebuah pesan dari Bude Sri jika hari ini Maharani sudah tiba di Indonesia dan akan menikah lusa dengan seseorang. Bagai di sambar petir malam-malam, Sadewa terlonjak kaget. Tanpa banyak Sadewa keluar dari kamar hendak pergi ke rumah Maharani.
"Pak! Tolong bukain saya pagar! Saya mau ketemu Rani," ucap Sadewa pada satpam gerbang perumahan elit itu.
"Iya Pak, saya Sadewa, saya mohon Pak, tolong buka gerbangnya!" ucap Sadewa sangat tak sabaran sambil menunjukan mata memelas. Dia ingin bertemu Maharani, meminta penjelasan darinya.
"Aduh, maaf, saya nggak bisa buka, Pak Samsul ngelarang saya buka," kata Pak Satpam.
Sadewa enggan menyahut. Perasaannya amat kacau sekarang. Apakah ini akhir cerita cintanya. Akan tetapi Sadewa tak mau menyerah. Dia pun mulai berteriak-teriak memanggil nama Maharani seketika.
"Rani! Ini aku Dewa! Rani!!!" teriak Sadewa nyaring, di depan gerbang menjulang tinggi.
Lantas keributan yang ditimbulkan Sadewa, membuat sebagian penghuni perumahan keluar. Mereka amat penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
Pak Satpam kalang kabut. Dia meminta Sadewa untuk berhenti berteriak tapi Sadewa tak peduli.
"Rani! Kita harus bertemu! Di mana kamu?!!!" jerit Sadewa hingga menampakkan urat-urat di sekujur lehernya.
"Diam kamu ha!"
__ADS_1
Pintu gerbang tiba-tiba di buka dari dalam, seorang pria menyembul keluar.
Satpam pun menutup cepat dan mengunci gerbang agar Sadewa tak bisa masuk.
Sadewa melebarkan mata, melihat sosok yang dia benci di hadapannya sekarang. Siapa lagi kalau bukan saudara tirinya, anak hasil selingkuhan Bapaknya.
"Nggak usah ikut campur kamu, Tom! Aku perlunya sama pacarku!" seru Sadewa pada Tomi.
"Kenapa?! Nggak suka! Kamu nggak tahu kalau Rani itu mantanku dulu!" Tomi menyeringai tipis. Dia pernah berpapasan dengan Sadewa waktu itu.
Dahi Sadewa berkerut kuat. "Mantan? Maksudmu?" Kedua matanya bergerak ke segala arah, baru saja teringat jika dulu Maharani pernah bercerita tentang mantannya yang bernama Tomi. Dia tak menyangka ternyata Tomi, saudara tirinya adalah mantan Maharani.
"Cuma mantan kan?" ucap Sadewa tersenyum sinis.
"Iya, cuma mantan, tapi kamu juga akan jadi mantan sebentar lagi, haha!" seru Tomi.
Bugh!
"Ahk!" Tomi terkejut saat Sadewa melayangkan pukulan diwajahnya tiba-tiba. Dia menahan tangan Sadewa yang kini sedang mencengkram kerah kemejanya.
"Jangan ikut campur kamu, Tom! Urus aja urusan kamu sendiri! Gara-gara kamu dan Ibumu, Ibuku sakit-sakitan dan menderita dulu!" Sadewa melayangkan tatapan tajam tanpa mengendurkan cekalannya.
"Kamu pikir! Kamu aja yang menderita! Aku dan Ibuku juga menderita, Bapakmu itu mengusirku dari rumah dan membatasi uang jajanku! Itu semua gara-gara kamu!" teriak Tomi tak terima karena dia dan Ibunya pun diperlakukan tak adil oleh Bapaknya sendiri. Sehingga dia pun matre kepada Maharani pada akhirnya.
"Terserah! Aku nggak peduli, minggir kamu!"
Sadewa menyentak kasar tubuh Tomi hingga adik tirinya itu terjungkal ke tanah. Namun, tiba-tiba dari belakang ada tiga orang pria berperawakan tinggi dan besar menendang-nendang punggung Sadewa.
Sadewa terkejut dan tak siap dengan serangan tersebut. Tubuhnya di hantam oleh mereka semua hingga Sadewa mengaduh kesakitan di depan gerbang.
"Argh! Siapa kalian?!" teriak Sadewa sambil menaruh kedua tangannya di depan wajah, tengah melindungi diri dari tendangan tiga orang pria yang tak dikenalnya itu.
Ketiga pria tersebut memakai setelan jas berwarna hitam. Sepertinya bodyguard Samsul. Mereka diam saja tanpa menghentikan gerakan kaki hingga akhirnya wajah Sadewa nampak lebam-lebam dan babak belur.
"Rani, aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku..." lirih Sadewa sambil menutup perlahan kelopak matanya kala rasa sakit di sekujur tubuhnya amat kian terasa.
__ADS_1